Tahun yang lalu di majalah The Atlantic, salah satu majalah sangat bergengsi di Amerika Serikat yang terkenal karena artikel-artikelnya yang berkualitas tinggi dalam bidang politik, ekonomi, sastra dan seni, dan perkembangan bidang budaya lain, muncul suatu tulisan yang sangat menarik perhatian dan ramai dibicarakan. “Is Google making us stupid?” Inilah judul yang terpampang dengan huruf besar di atas salah satu tulisan The Atlantic Online bulan Juli/Augustus 2008. Bisa diduga banyak orang yang tiba-tiba melihat pertanyaan ini akan tersentak dan menganggapnya pertanyaan yang ngacau. Bagaimana mungkin Google, yang menjadi andalan kita apabila kita membutuhkan informasi tentang topik apa saja, dituduh membuat kita bodoh? Yang bodoh, ya yang tanya! Tapi, yang bertanya adalah Nicholas Carr, penulis tersohor yang telah menulis berbagai buku dan artikel berbobot tentang teknologi informasi, bisnis dan kebudayaan. Ia berwawasan luas, kritis, tapi memang senang mengejutkan pembacanya dengan pandangan-pandangan yang sering kontroversial. Kali ini Carr bikin pembaca penasaran dengan judul yang provokatif. Sesungguhnya topik tulisannya lebih luas dari cuma Google. Dengan huruf kecil dan tidak mencolok di atas judul tercantum inti dari permasalahan yang disoroti olehnya: What the Internet is doing to our brains. Dalam tulisan ini Carr mengungkapkan kecemasannya tentang dampak internet pada penggunanya. Menurut pengamatannya, dan pengalaman pribadinya, pengguna internet (tentu saja yang menggunakannya dengan intensif) lambat laun mulai kehilangan kemampuan membaca lama-lama, membaca teks panjang, dan kemudian bahkan mengalami perubahan pada proses berfikir. Dan perubahan itu bukan berupa peningkatan kecerdasan, tapi sebaliknya. Jadi internet berbahaya karena bisa membuat kita bodoh?
Saya terpesona oleh tulisan Carr di The Atlantic. Lalu mencari tulisan lain yang juga membahas pengaruh internet pada pikiran atau otak penggunanya. Siapa tahu, mungkin Carr cuma mau bikin heboh, mungkin cuma dia saja yang berpandangan negatif. Saya temukan sejumlah tulisan lain yang senada, atau bahkan lebih tajam lagi, di antaranya beberapa yang sudah dipublikasikan (jauh) sebelum tulisan Nicholas Carr muncul. Tulisan-tulisan ini sangat baik untuk disimak dan direnungkan. Begitu pula tulisan yang berbeda pendapat!
Saya sangat sadar betapa besar kontribusinya internet pada banyak aspek kehidupan kita. Kita tidak bisa membayangkan lagi kehidupan tanpa internet. Jangan kira saya anti-internet! I LOVE THE INTERNET!!! Justru karena itulah saya bisa memahami bahaya internet seperti dikemukakan dalam tulisan Carr dan pengamat lain. Saya termasuk orang yang bisa berselancar ria berjam-jam, melupakan segala-gala kalau sudah keasyikan menelusur, lompat dari satu link ke link lain (lalu lupa sebetulnya asal mulanya cari apa, ya?). Download ini dan itu, maka hard disk penuh dengan puluhan folder dan ratusan file, belum berbagai flash disknya (lalu gimana ingat ada di folder mana ya, tulisan bagus itu?) Dan kapan ya, mau membacanya? Mungkin reaksi anda: Ya, biasalah, ini ‘kan yang namanya information overload ! Betul, mungkin ini masih “the least of all evils”, atau dampak buruk yang tidak seberapa buruk. Tapi bagaimana dengan gejala lain? Seperti kehilangan kemampuan membaca lama-lama, tidak bisa berkonsentrasi selagi membaca teks panjang? Itu juga sudah mulai muncul pada diri saya!! Inilah yang membuat saya cemas sekali, dan merupakan alasan mengapa saya ingin mengajak anda menyimak dan merenungkan tulisan Carr dan pengamat dampak negatif lain. Jika saya, yang sangat gemar membaca, seumur hidup (berarti sudah puluhan tahun!!) melahap buku, bisa mulai terkena gejala ini, bagaimana dengan anda (yang pasti jauh lebih muda dari saya), teman, adik, anak, murid anda? Bagaimana dengan mereka yang memang tidak punya minat baca? Khususnya generasi muda, anak-anak yang belum pernah (dapat) merasakan nikmatnya membaca? Yang berlum memiliki kebiasaan membaca?
Post ini dan post berikutnya dalam satu kategori ini (Menjadi bodoh berkat Internet?) akan diisi dengan artikel Carr dan beberapa tulisan lain dalam bentuk ringkasan (rangkuman, pengolahan kembali, saduran, terjemahan bebas, kemas ulang, atau mau disebut apalah). Tentu saja, jika anda tertarik dan waktu mengizinkan, sebaiknya anda membaca aslinya. Lebih lengkap, lebih asyik!
Blog ini ingin menyajikan “food for thought” atau santapan (bahan) renungan bagi kalangan pustakawan. Salah satu topik yang dekat di pikiran dan hati pustakawan adalah minat baca, kegemaran membaca. Maka posting ini dan yang berikutnya dalam kategori ini, meskipun tidak tercermin dari judul kategori, sebetulnya tentang membaca. Tentang membaca dan berfikir, tentang hubungan antara keduanya. Tentang polemik sekitar hakekat membaca, bahaya yang mengancam kebiasaan membaca yang sekaligus berarti bahaya bagi kemampuan berfikir dan kecerdasan. Apakah ini sudah jadi ancaman nyata atau cuma impian buruk segelintir tokoh konservatif ?