Is Google making us stupid?

What the Internet is doing to our brains

By Nicholas Carr

The Atlantic Online – July/August 2008

[Mohon baca dulu pengantar untuk kategori ini: Menjadi bodoh berkat Internet? (1)]

Tulisan “Is Google making us stupid?”  selain berjudul provokatif, juga mulai dengan dramatis sekali:  suatu adegan menegangkan dari film   2001:  A Space Odyssey, film fiksi sains yang sangat terkenal dari Stanley Kubrick, buatan tahun 1968. Di samping kedua astronot Dave dan Frank,  tokoh yang sangat penting dalam film itu adalah HAL, suatu superkomputer, yang memiliki kecerdasan (intelligence)  mirip kecerdasan manusia. Dialah yang mengendalikan hampir semua kegiatan di spaceship Discovery One yang menuju planet Jupiter.  Ada beberapa kejadian dalam perjalanan itu yang mencurigakan karena bisa terjadi akibat HAL tidak berfungsi dengan baik (malfunction), atau lebih mengerikan, HAL mulai bertindak sesuai keinginannya sendiri (jadi bukan seperti mesin lagi!).  Dave, yang hampir celaka karena ulah HAL,  memutuskan untuk mencabut sambungan jaringan memori yang mengendalikan otak artifisial HAL.  HAL memohon agar Dave tidak melakukannya:  “Dave, stop.  Stop, will you? Stop, Dave.  Will you stop, Dave?”  Tapi Dave dengan tenang meneruskan proses pencabutan, dan HAL mengeluh dengan sedih:  “Dave, my mind is going” …. “I can feel it.  I can feel it.”

Itulah yang terjadi pada HAL.  Ia kehilangan otaknya, kemampuan berfikirnya, dan itulah yang menurut Carr juga sedang terjadi dengan dia sendiri, dia juga merasa bahwa otaknya tidak lagi berfungsi sebagai dulu:

Saya merasakannya juga.  Selama beberapa tahun belakangan ini saya punya perasaan yang tidak enak bahwa ada seseorang, atau sesuatu, mengutak-atik otak saya, mengubah jaringan saraf, memprogram ulang memoriku.  Kemampuan berfikir saya, setahu saya, tidak sedang lenyap, tapi sedang berubah.  Saya tidak berfikir lagi seperti saya dulu berfikir.  Saya paling bisa merasakannya saat saya sedang membaca.  Dulu mudah sekali untuk tenggelam dalam keasyikan membaca buku atau artikel panjang.  Pikiran  saya hanyut dalam jalan cerita atau lika-liku suatu argumen, dan saya bisa selama berjam-jam dengan santai menjelajahi tulisan prosa yang panjang.  Itu sekarang jarang terjadi lagi.  Kini konsentrasi saya mulai buyar setelah dua atau tiga halaman.  Saya mulai gelisah, lupa jalan cerita, mulai cari-cari kesibukan lain. Saya merasa seakan-akan harus terus menerus menyeret pikiran saya, yang mau lari entah kemana, kembali ke teks bacaan.  Kegiatan membaca dengan penuh konsentrasi yang dulu merupakan sesuatu yang  bisa saya lakukan dengan begitu saja, sudah menjadi suatu perjuangan.

Carr melanjutkan bahwa ia tahu apa yang sedang terjadi dan apa yang menjadi biang keladinya: Internet!  Dijelaskannya bahwa sudah lebih dari sepuluh tahun ia menghabiskan banyak waktu online untuk surfing, menelusur dan menulis.  Ia bersyukur karena berkat web pekerjaannya sebagai pengarang menjadi jauh lebih lancar.  Tak perlu lagi ia menghabiskan waktu berhari-hari di ruang majalah atau ruang baca perpustakaan.  Dalam hitungan menit informasi yang diperlukan bisa ditemukan. Dengan menelusur lewat Google, klik sana klik sini, kutipan yang tepat sudah ketemu.  Dan, kalau tidak bekerja pun ia asyik di Web:  menulis dan membaca e-mail, scanning tajuk-tajuk berita, baca posting di blog, nonton video, mendengar podcast, atau loncat dari satu link ke link lain.

Carr mengakui: “Bagi saya, seperti bagi orang lain, internet sedang menjadi medium yang universal, suatu saluran bagi kebanyakan informasi yang mengalir lewat mata dan telinga saya masuk ke dalam otak saya.” Memang akses langsung ke koleksi sumber informasi yang begitu kaya  dan bervariasi amat menguntungkan. Tapi ada pula harga yang harus dibayar untuk itu! Saluran, atau media, bukanlah sesuatu yang sekedar menyalurkan informasi secara pasif.  Media menjadi saluran yang mensuplai bahan yang membuat kita berfikir, tetapi media sekaligus membentuk proses berfikir itu.  Carr merasa bahwa ia sudah mulai membayar harga yang mahal itu. Ia merasa bahwa internet lambat laun mengurangi kemampuannya untuk berkonsentrasi dan berkontemplasi. Otaknya sekarang ingin menyerap informasi dengan cara yang sama seperti cara informasi disebarkan di internet, yaitu sebagai suatu arus butir-butir kecil yang mengalir dengan cepat.  Dulu ia menyelam bagaikan seorang scuba diver di dalam lautan kata-kata, sedangkan sekarang ia berselancar di atas permukaan lautan  bagaikan seorang pemuda naik Jet Ski.

Teman dan kenalan Nicholas Carr mengalami gejala yang kira-kira sama.  Makin banyak mereka menggunakan web, makin besar kesulitan yang mereka alami ketika mau membaca tulisan yang panjang.  Susah untuk tetap fokus. Ada yang mengaku bahwa ia sudah berhenti membaca buku samasekali.  Padahal ia dulu studi sastra dan melahap buku.  Bagi yang lain membaca adalah men-scan cepat-cepat cuplikan teks pendek-pendek dari banyak sumber online.  Bagi teman ini suatu post di blog yang cuma tiga atau empat paragraf sudah terlalu banyak untuk diserap.  Ia cuma membacanya cepat dan sekilas.

Sudahkah gejala yang meresahkan ini diteliti secara ilmiah? Carr melaporkan bahwa belum ada studi atau eksperimen neurologi dan psikologi yang memberikan gambaran yang definitif bagaimana internet berpengaruh pada daya kognitif manusia.  Memang ada suatu studi yang baru-baru saja dipublikasikan tentang perilaku pengunjung dua situs research yang populer, satu situs dioperasikan oleh British Library dan satu oleh suatu konsorsium Inggris.    Para peneliti dari University College London yang melakukan studi ini menemukan bahwa pengunjung loncat dari satu situs ke situs lain dan jarang kembali ke suatu situs yang sudah pernah dikunjungi.  Mereka biasanya membaca cuma satu dua halaman dari suatu artikel atau buku sebelum melesat ke situs lain.  Meskipun mereka kadang-kadang menyimpan (save) artikel panjang, tidak ada bukti bahwa mereka betul-betul membaca artikel tersebut.  Para penulis studi tersebut melaporkan:

Jelas bahwa pengguna yang membaca online tidak membaca  dalam arti tradisional; bahkan ada tanda-tanda bahwa bentuk-bentuk “membaca” yang baru sedang muncul ketika pengguna sedang “power browse” secara horisontal melalui judul-judul, halaman isi dan abstrak untuk mendapatkan hasil yang cepat. Bahkan mereka sepertinya sengaja menelusur online agar tidak perlu membaca dalam arti tradisional.

Perubahan dalam cara kita membaca perlu dicermati sebab perubahan itu erat terkait dengan perubahan dalam cara berfikir, dan bahkan perubahan dalam persepsi kita tentang diri kita sendiri. Carr mengutip pendapat  Maryanne Wolf, pakar psikologi perkembangan dari Tufts University dan penulis buku Proust and the Squid: The Story and Science of the Reading Brain.  Wolf berkata: “We are how we read” dan mengutarakan alasannya mengapa ia cemas mengamati gaya membaca yang dipicu  oleh Internet.  Gaya itu mengutamakan efisiensi dan kesegeraan (immediacy) di atas segala-galanya.  Dan gaya macam ini melemahkan kapasitas kita untuk membaca mendalam, yaitu cara membaca yang mulai muncul ketika mesin cetak menghadirkan karya-karya prosa yang panjang dan kompleks.  Wolf berpendapat bahwa bila kita membaca online, kita cenderung cuma menjadi “decoders of information“. Kemampuan kita untuk menginterpretasi teks, untuk membuat hubungan-hubungan mental yang terbentuk apabila kita membaca dengan mendalam dan penuh konsentrasi tidak diaktifkan.

Kata Wolf, membaca bukan suatu ketrampilan naluriah.  Maksudnya: ketrampilan ini bukan sesuatu yang ada dalam pembawaan kita, ada dalam gene kita, seperti misalnya kemampuan berbicara. Kita harus mengajar otak kita bagaimana menerjemahkan lambang-lambang (huruf) yang kita lihat menjadi bahasa yang dapat kita mengerti.  Media dan teknologi lain yang kita pakai untuk belajar dan melatih ketrampilan membaca punya peran yang penting dalam membentuk jaringan saraf dalam otak kita.  Ada eksperimen yang menunjukkan bahwa pada pembaca bahasa ber-ideogram seperti orang Cina berkembang jaringan mental  untuk membaca yang beda dari jaringan yang terbentuk pada orang yang tulisannya menggunakan abjad. Sebab itu bisa diperkirakan bahwa jaringan saraf yang terjalin akibat penggunaan Internet akan berbeda dari yang terjalin sebagai akibat kegiatan membaca buku dan karya tercetak lain.

The human brain and intellectual technologies

Otak manusia sangat lentur, fleksibel, bisa dibentuk, dibentuk ulang, berkali-kali.  Pandangan lama adalah bahwa jaringan saraf otak, yang terdiri atas kurang lebih 100 milyar neuron  sudah mencapai bentuk final dan tetap saat kita menjadi dewasa.  Namun para peneliti telah temukan bahwa itu tidaklah benar. Ternyata bahwa otak orang dewasa pun sangat lentur. Sel saraf terus menerus memutuskan sambungan lama dan membentuk sambungan baru.  Otak mempunyai kemampuan untuk memrogram ulang dirinya sesuai kebutuhan, mengubah cara ia berfungsi.

Sebagai ilustrasi Carr mengisahkan pengalaman Friederich Nietzsche (1844-1900), sang filsuf dan ahli filologi Jerman. Pada tahun 1882 Nietzsche membeli mesin tik.  Ketika itu penglihatannya sedang mundur, dan memfokus matanya pada suatu halaman teks  membuatnya letih sekali dan  sakit kepala. Ia terpaksa mengurangi kegiatan tulis-menulisnya. Mesin tik menjadi penyelamatnya, karena setelah ia bisa mengetik 10 jari ia bisa mengetik dengan mata tertutup.  Tapi mesin tik punya pengaruh yang tak terduga pada gaya tulisnya.  Tulisan prosanya, yang memang sudah singkat padat, menjadi semakin singkat, seperti  gaya telegram. Nietzsche sendiri mengatakan bahwa memang alat tulis ikut membentuk pikiran kita.

Ada alat-alat tertentu yang bisa menjadi ekstensi atau perpanjangan kemampuan mental kita. Alat seperti itu, yang oleh sosiolog Daniel Bell disebut “intellectual technologies” bagi kita, begitu berpengaruh pada kita sehingga sifat-sifat tertentu dari alat itu bisa seakan-akan berpindah menjadi sifat kita pula. Contoh yang sangat jelas misalnya adalah jam (clock) mekanis yang mulai dipakai secara luas pada abad ke-14. Semua kegiatan lama kelamaan tergantung dari pembagian waktu yang terdiri atas satuan-satuan matematis. Manusia tidak lagi mengikuti dorongan-dorongan nalurinya yang memberitahu padanya kapan harus makan, bekerja, tidur, bangun.  Manusia mulai patuh pada alat mekanis.  Jam, sebagai alat pengukur dan penunjuk waktu,  menjadi acuan atau pengendali untuk semua aktivitas dan juga pikiran manusia.

Betapa besar pengaruh teknologi intellektual tersebut juga tercermin dalam ungkapan tertentu yang kita pakai ketika berbicara tentang diri kita sendiri.  Carr memberi contoh metafora:  ketika jam mekanis mulai digunakan, orang berbicara tentang otak yang bekerja “like clockwork”. Kini orang bilang bahwa otak bekerja seperti komputer.  Ia menambahkan bahwa menurut ilmu saraf (neuroscience) yang terjadi bukan sebatas perubahan metafora:  karena otak kita sangat lentur, perubahan atau adaptasi juga terjadi pada tingkat biologis.

Pengaruh Internet pada daya kognitif kita diperkirakan akan sangat luas. Internet, sebagai suatu sistem komputasi yang sangat dahsyat, sedang mengambil oper kebanyakan teknologi intelektual kita, satu persatu.  Ia menjadi peta dan jam kita, mesin cetak dan mesin tik, kalkulator dan telpon, radio dan TV.  Dan, ketika Internet menyerap suatu medium, medium tersebut menjadi sesuatu yang baru yang mempunyai ciri-ciri Internet.  Jadi content (isi) medium tersebut dipenuhi hyperlink, iklan yang kerlap-kerlip, dan dihiasi pernak-pernik digital lain. Tidak ada pemisah antara satu medium dengan medium lain  lagi. Ketika kita sedang asyik melihat-lihat tajuk-tajuk berita terbaru di suatu situs surat kabar,  tiba-tiba bisa muncul berita bahwa ada email baru.  Perhatian menjadi terbagi dan konsentrasi buyar.

Pengaruh Internet tidak berhenti ketika kita mematikan komputer.  Karena otak manusia sudah mulai terbiasa dengan media Internet yang campur baur, media tradisional harus beradaptasi agar bisa memenuhi selera baru para pembaca atau penontonnya.  Maka di program televisi ada teks berjalan di bagian bawah layar, ada iklan pop-up, majalah dan surat kabar memangkas panjang tulisannya, menambah rangkuman pendek-pendek, dan menebarkan potongan-potongan berita yang gampang dibaca di halaman-halamannya.  Carr menyimpulkan bahwa belum pernah ada suatu sistem komunikasi yang begitu berperan dalam kehidupan kita — atau  begitu luas pengaruhnya pada pikiran kita — seperti Internet saat ini.  Tapi, meskipun sudah ada banyak yang ditulis tentang Internet, belum  banyak yang membahas bagaimana sesungguhnya Internet memprogram ulang (reprogram)  kita.

Taylor dan The Principles of Scientific Management

Setiap orang yang pernah belajar teori manajemen pasti tahu siapa Taylor dengan scientific management-nya.  Teorinya, yang dikembangkan pada tahun 1880 – 1890an, menganalisa dan mensintesa proses-proses alur kerja dengan tujuan meningkatkan produktivitas. Setiap tugas dipecah-pecah menjadi langkah-langkah kecil yang berurut.  Kemudian Taylor mencoba cara-cara  berbeda untuk melaksanakan langkah-langkah tersebut dan lalu membuat  instruksi yang sangat mendetil yang menetapkan bagaimana tiap pekerja harus mengerjakan tugasnya, langkah demi langkah.  Para pekerja tidak senang, tetapi produktivitas naik.  Sistem Taylor diadopsi oleh pemilik pabrik di seluruh Amerika dan kemudian seluruh dunia.  Untuk mencapai kecepatan maksimal, efisiensi maksimal, dan output maksimal, pemilik pabrik melakukan time-and-motion studies untuk   mendapatkan konfigurasi ideal.  Taylor, dalam karyanya berjudul  The Principles of Scientific Management (1911) menjelaskan bahwa tujuannya ialah mengidentifikasi dan mengadopsi untuk setiap pekerjaan  “the one best method“. Taylor yakin bahwa setelah sistemnya diterapkan pada seluruh proses kerja manual, maka akan terjadi  suatu restrukturisasi, bukan saja dari industri, tapi dari seluruh masyarakat, dan dengan demikian terciptalah suatu utopia efisiensi yang sempurna. Taylor, seperti dikutip oleh Carr, menyatakan, “In the past man has been first, in the future the system must be first.”

Apa hubungan Taylor dan sistemnya dengan internet?  Menurut Carr Taylorism hingga kini masih tetap sangat berpengaruh pada industri manufaktur, dan sekarang mulai merambah ke dunia intelektual atau alam pikiran kita. Internet, menurut Carr, adalah mesin yang didesain untuk pengumpulan, transmisi dan manipulasi informasi secara efisien dan automatis.  Dan  para computer engineers, software coders dan jutaan programmer bekerja keras untuk mendapatkan “the one best method” – atau algoritme sempurna – untuk mengerjakan setiap langkah mental dari apa yang sekarang disebut “knowledge work”.

Google dan Taylorism

Nicholas Carr mengatakan bahwa: “What Taylor did for the work of the hand, Google is doing for the work of the mind“. Apa maksudnya?  Google adalah “a company that’s founded around the science of measurement“.  Jadi Google mempraktekkan Taylorism. Lewat mesin pencari dan situs-situs lainnya Google mengumpulkan  data perilaku pengguna internet.  Data tersebut, yang berjumlah terabytes, digunakan untuk melakukan ribuan eksperimen sehari, dan hasilnya dimanfaatkan untuk menyempurnakan algoritme yang mengontrol bagaimana orang menemukan informasi dan mengekstraksi makna dari informasi tersebut.  Maka dari itu Carr mengatakan bahwa apa yang diperbuat oleh Taylor untuk pekerjaan tangan (manual),  sekarang diperbuat oleh Google untuk pekerjaan otak (mental).

Google dan kecerdasan artificial

Google menyatakan bahwa misinya adalah mengorganisasi informasi, memberi akses universal pada informasi itu, dan juga membuatnya bermanfaat. Untuk itu Google bermaksud mengembangkan mesin pencari yang sempurna.  Dan apa yang dimaksud dengan “the perfect search engine“?  Mesin yang menakjubkan itu adalah sesuatu yang memahami presis apa yang kita maksud, dan memberikan kita presis apa yang kita inginkan.  Di mata Google informasi adalah semacam komoditas, suatu sumber berguna yang bisa digali dan diproses dengan efisien.  Makin banyak butir informasi yang dapat kita akses, dan makin cepat kita bisa mengekstraksi intinya, makin produktiflah kita sebagai pemikir.

Pendiri Google, Sergei Brin dan Larry Page, kerap berbicara tentang hasrat mereka untuk menjadikan mesin pencari mereka suatu kecerdasan artifisial, suatu mesin seperti HAL yang bisa disambung langsung ke otak kita.  Berbagai ucapan lain Brin dan Page  mengungkapkan pandangan mereka tentang hubungan antara mesin pencari dan kecerdasan artifisial dan arah kegiatan penelitian dan pengembangan Google.  Misalnya, bahwa mesin pencari paling hebat adalah sesuatu yang secerdas orang — atau lebih cerdas lagi. Dan pada kesempatan lain terungkap bahwa bagi mereka pekerjaan mengembangkan penelusuran adalah suatu cara untuk mengembangkan kecerdasan artifisial.   Dan,  bila semua informasi di dunia tersambung dengan langsung ke otak kita, atau kita punya suatu otak artifisial yang lebih cerdas daripada otak kita, maka itu lebih baik bagi kita. Tahun yang lalu Page, pada suatu konvensi ilmuwan di Google, mengatakan bahwa Google betul-betul sedang berupaya membangun kecerdasan artifisial secara besar-besaran.

Carr merasa cemas mendengar kata-kata mereka bahwa bila otak kita diberi tambahan, atau bahkan diganti,  kecerdasan artifisial, itu lebih baik bagi kita.  Sebabnya, pernyataan seperti itu menunjukkan adanya anggapan bahwa kecerdasan adalah output dari suatu proses mekanis, serangkaian langkah yang dapat di-isolasi, diukur, dan dioptimalkan. Di dunia Google, dunia yang kita masuki ketika kita online, tidak ada tempat bagi kontemplasi.  Ambiguitas tidak dipandang sebagai sesuatu yang bisa mengantarkan kita ke wawasan yang lebih kaya, melainkan sebagai semacam kuman yang harus dibasmi.  Otak manusia cuma suatu komputer yang sudah ketinggalan jaman yang membutuhkan suatu prosesor yang lebih cepat dan suatu hard drive yang lebih besar.

Model bisnis Internet memang menghendaki bahwa otak kita harus beroperasi sebagai mesin pemroses data berkecepatan tinggi. Sebab semakin cepat kita berselancar di internet, semakin banyak link yang di-klik dan halaman yang dilihat, makin banyak peluang bagi Google dan perusahaan lain untuk mengumpulkan informasi tentang kita dan mencekoki kita dengan iklan.  Remah-remah data yang menjadi jejak kita sewaktu kita terbang dari satu link ke link lain sangat berguna, dan mereka sangat rajin mengumpulkannya.  Makin banyak remah-remah, makin bagus.  Maka dengan sendirinya perusahaan-perusahaan ini tidak senang dengan kebiasaan membaca dan berpikir dengan santai dan berkonsentrasi.  Perhatian kita harus dipecah-belah, karena itu baik sekali bagi kepentingan ekonomis mereka.

Kecemasan berlebihan?

Apakah semua kecemasan mengenai dampak internet berlebihan? Carr berkata bahwa ada kecenderungan untuk mengagungkan kemajuan teknologi, dan begitu pula ada kecenderungan sebaliknya untuk merasa khawatir akan pengaruh buruk setiap kali ada alat atau mesin baru.  Contohnya antara lain kekhawatiran Socrates bahwa tulisan akan melemahkan daya ingat. Setelah orang bisa menulis mereka akan mengandalkan kata-kata tertulis sebagai pengganti pengetahuan yang tadinya ada di kepala mereka.  Maka mereka akan kurang menggunakan memori mereka dan menjadi pelupa.  Begitu pula kehadiran mesin cetak Gutenberg pada abad ke-15 disambut dengan kekhawatiran.  Buku, yang tadinya barang langka dan hanya bisa dimiliki dan dibaca oleh kelompok masyarakat yang kecil sekali, akan tersedia dalam jumlah besar.  Ini akan membuat orang kurang rajin belajar dan akan melemahkan daya pikir mereka.  Atau, bisa jadi buku dan pamflet tercetak yang murah akan mengurangi otoritas gereja, merendahkan karya para cendekiawan, menyebarkan ide-ide subversif untuk merongrong wibawa pemerintahan yang sah, atau hal-hal yang berbahaya bagi moralitas. Ternyata sebagian dari efek negatif yang dikhawatirkan memang terjadi, tetapi alat dan mesin baru tersebut juga membawa dampak baik, dan sering dampak baik ini jauh lebih besar daripada yang buruk.  Menulis dan membaca memungkinkan penyebaran informasi, memicu timbulnya ide-ide baru dan memperluas pengetahuan manusia. Begitu pula kata tercetak amat banyak manfaatnya, lebih besar dan banyak dari yang terbayangkan sebelumnya.

Jadi, demikian kata Carr, mungkin orang yang membaca tulisan ini yang penuh kecemasan, harus skeptis terhadap skeptisisme dia. Mungkin tuduhan pihak-pihak yang mengatakan bahwa orang yang kritis terhadap Internet adalah seperti para Luddites zaman dulu, atau seperti orang penuh nostagia, akan terbukti benar.  Luddites adalah gerakan protes dari penenun trampil industri tekstil  melawan masuknya mesin tenun mekanis berukuran lebar yang dapat dioperasikan oleh buruh murah tanpa ketrampilan khusus. Penenun trampil akan kehilangan mata pencaharian mereka, menjadi korban revolusi industri. Ini terjadi di Inggris pada dasawarsa kedua abad ke 19.  Pihak  yang menepis kritik terhadap internet sebagai berlebihan mungkin akan terbukti benar.  Sebab dari otak kita yang hiperaktif, yang dijejali data, kelak akan muncul suatu abad emas penuh temuan intelektual dan kearifan universal. Begitulah?   Mungkinkah? Carr mengingatkan bahwa Internet bukan abjad atau tulisan yang dulu kala menggeser budaya lisan, dan bukan pula mesin cetak yang menggeser tulisan tangan. Meskipun Internet bisa menggantikan mesin cetak, bukan itu saja yang bisa terjadi.  Internet menghadirkan sesuatu yang beda total.  Ia mengancam kemampuan membaca mendalam, atau  deep reading.  Membaca mendalam yang dirangsang oleh halaman-halaman tercetak amat bermanfaat, bukan semata-mata karena pengetahuan yang kita peroleh dari kata-kata sang pengarang, tetapi juga karena kata-kata ini memicu getaran intelektual di pikiran kita sendiri.  Maryanne Wolf berpendapat bahwa “deep reading” adalah sama dengan “deep thinking“.

Ketika kita kehilangan keheningan yang tercipta ketika membaca mendalam atau merenung, atau mengisinya dengan “content“, maka kita mengorbankan sesuatu yang penting, tidak saja dari diri kita sendiri, tetapi juga dari kebudayaan kita.  Richard Foreman, seorang penulis sandiwara yang dikutip oleh Nicholas Carr, berkata bahwa ia melihat didalam diri kita semuanya (termasuk dia sendiri) sedang terbentuk “a new kind of self”  yang berevolusi di bawah tekanan information overload dan teknologi yang membuat segalanya dapat diperoleh serba instan.

Dalam penutup artikel ini Carr kembali ke adegan film 2001. Yang membuat
adegan ini begitu mengharukan dan sekaligus aneh, kata Carr, adalah respons emosional dari komputer terhadap pembongkaran otaknya.  Ia sedih dan putus asa ketika circuit demi circuit padam, ia minta-minta dengan memelas seperti kanak-kanak ketika mencoba membujuk para astronot untuk menghentikan pemutusan circuit otaknya — “I can feel it.  I can feel it.  I’m afraid“.  Curahan emosi dari HAL kontras sekali dengan sikap dingin tanpa emosi yang menjadi ciri tokoh manusia di film ini.  Mereka mengerjakan tugas mereka dengan sangat efisien, bisa dikatakan se-efisien  robot.  Pikiran dan tindak-tanduk mereka seperti sudah dirancang sebelumnya, seakan-akan mengikuti langkah-langkah suatu algoritma.  Di dunia dalam film 2001 manusia sudah begitu mirip mesin, sehinga tokoh yang masih paling seperti manusia ternyata si HAL, jadi sebuah mesin.  Itulah esensi ramalan suram Kubrik:  ketika kita sudah tergantung pada perantaraan komputer agar mampu memahami dunia,  maka kecerdasan kitalah yang sudah terdegradasi menjadi kecerdasan artifisial.

- – - – - – - – - – - – - -


Explore posts in the same categories: Menjadi bodoh berkat Internet?

Tags: , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

6 Comments on “Is Google making us stupid?”

  1. Hari Says:

    Sebelumnya saya tidak pernah membaca tulisan Carr, tetapi saya merasakan gejala yang hampir sama. Teknologi memberikan banyak kemudahan…., awalnya memang begitu membantu … tetapi kemudian menjadi ketergantungan. Sebagian besar murid saya begitu tergantung dengan kalkulator, sehingga ketika ujian dilarang menggunakannya menjadi kelabakan. Dahulu mengingat beberapa nomor telepon bisa saya lakukan, tetapi sekarang he..he..
    Ada film yang menggelitik saya, WALL E si robot sampah. Film kartun memang, tetapi di film ini ada penggambaran bagaimana jika manusia terlalu MENYERAHKAN kehidupannya kepada teknologi, maka tubuh manusia menjadi bulat kegemukan … untuk berjalan saja sulit. NAMUN saya masih yakin selama HATI NURANI masih dimiliki, manusia akan tetap eksis. Maka perlu khawatir jika Robot pun punya hati nurani …


  2. semakin kesini, ketergantungan sama internet semakin besar. saiah suka ribut kecil sama istri tentang apakah boleh berlangganan jaringan inet di rumah. yang pada akhirnya, saiah menyadari, bahwa memang belum butuh2 banget. di satu sisi, inet memang sangat membantu kita dalam melakukan “pekerjaan” di kantor, atau mungkin, “pekerjaan-pekerjaan” lainnya. tapi, di sisi lain, seperti yang ditulis sama mba’ irma, kita jadi relatif memudahkan segala sesuatunya. pengalaman disini, dibandingkan riset melalui buku-buku yang tersedia, siswa lebih suka brosing di inet. tinggal kopipes kata mereka. padahal, informasi yang didapat dari buku, bisa jadi lebih baik dibanding brosing di inet. makasih buat pencerahannya. jadi tergelitik buat kembali membaca buku, sesuatu yang jarang saiah lakukan belakangan-belakangan ini *emang saiah yang jarang baca buku :D *.

  3. Lupi Says:

    pada saat saya sedang membaca ulasan tulisan Carr ini sampai selesai saja, pikiran saya sudah berbicara kepada saya,”panjang amat siy ini ulasannya, kapan selesainya?”. ini juga sedikitnya membuktikan kesulitan berkonsentrasi dan tidak tahan berlama-lama membaca yang juga saya rasakan telah menjangkiti saya beberapa tahun terakhir ini.Kesulitan berkonsentrasilah yang paling saya rasakan mulai fatal dan saya setuju dengan pendapat Carr yang boleh jadi memang lambat laun ada yang berubah dengan daya pikir otak kita akibat internet.
    Terlepas dari itu semua,saya ucapkan terima kasih atas sharing tulisannya. Semoga setelah membacanya, saya jadi sadar dan kembali untuk merasakan sensasi menyelam dan tenggelam kembali dengan buku:D

  4. teknobiz Says:

    mmmm artikel yang menarik…thxx

  5. kaka Says:

    Untuk sbagian besar manusia pengguna internet, bisa dibilang iya.
    Dan smoga tidak untuk smua manusia pengguna internet, bahkan mreka yang bkerja menggunakan fasilitas internet skalipun.

    Atau mungkin karena mreka sudah agak mengganggap mudah internet, jadinya kembali mnikmati hidup dgn membaca buku di stiap harinya, juga mnulis diatas kertas putih untuk mengeluarkan isi hatinya?

    Saya tidak tau.

  6. nana Says:

    betul apa termuat dalam artikel diatas, saya sering searching informasi, bila ada yang relevan yang dibaca hanya judul dan 5 baris ke bawah selanjutnya saya simpan, saya pikir lain waktu saya baca, tapi pada akhirnya saya tidak sempat baca, sehingga makin bertumpuk dech file di folder…padahal apabila saya baca buku, novel khususnya, di rumah saya bisa berkutat di kamar berjam-jam sampai lupa melakukan aktifitas yang lain hanya karena penasaran ingin menyelesaikan akhir dari cerita nya. makasih atas pencerahannya.

    salam sukes


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.