<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Expired .... but still Wired</title>
	<atom:link href="http://pustakawan2009.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pustakawan2009.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 02 Sep 2011 13:10:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='pustakawan2009.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Expired .... but still Wired</title>
		<link>http://pustakawan2009.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://pustakawan2009.wordpress.com/osd.xml" title="Expired .... but still Wired" />
	<atom:link rel='hub' href='http://pustakawan2009.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Perilaku informasi peneliti masa depan (2)</title>
		<link>http://pustakawan2009.wordpress.com/2009/03/25/perilaku-informasi-peneliti-masa-depan-2/</link>
		<comments>http://pustakawan2009.wordpress.com/2009/03/25/perilaku-informasi-peneliti-masa-depan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Mar 2009 08:09:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irma1411</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perilaku informasi dan Internet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustakawan2009.wordpress.com/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah lanjutan dari post tanggal 9 Maret 2009, berisi lanjutan laporan CIBER Information behaviour of the researcher of the future. Bagian kedua dari laporan ini membahas generasi Google dan terdiri atas enam bagian: • Apa yang kita ketahui tentang perilaku informasi anak muda? • Bagaimana anak muda saat ini berperilaku di perpustakaan virtual? • [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakawan2009.wordpress.com&amp;blog=6350334&amp;post=82&amp;subd=pustakawan2009&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini adalah lanjutan dari post tanggal 9 Maret 2009, berisi lanjutan laporan <a href="http://www.ucl.ac.uk/infostudies/research/ciber/downloads/ggexecutive.pdf">CIBER Information behaviour of the researcher of the future.</a> Bagian kedua dari laporan ini membahas generasi Google dan terdiri atas enam bagian:<br />
•	Apa yang kita ketahui tentang perilaku informasi anak muda?<br />
•	Bagaimana anak muda saat ini berperilaku di perpustakaan virtual?<br />
•	Fenomena ‘social networking’: apakah penting?<br />
•	Generasi Google:  mitos atau realitas?<br />
•	Apa yang kita sesungguhnya tahu tentang generasi Google?<br />
•	Dimanakah letak kesenjangan  ketrampilan?</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap bagian sarat dengan informasi yang sangat bermanfaat.  Data tertentu mengherankan, karena bertentangan dengan anggapan umum.  Justru hal-hal seperti inilah yang membuat laporan ini menarik dan penting untuk dipelajari oleh semua fihak yang ingin memberikan layanan informasi yang tepat.</p>
<p><span id="more-82"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Generasi Google:  Apa yang kita ketahui tentang perilaku informasi anak muda?</strong><br />
Penelitian tentang bagaimana anak-anak dan anak muda menjadi trampil dalam menggunakan internet dan sarana pencarian lain masih kurang lengkap, bersifat sepotong-potong. Tetapi ada beberapa tema yang mulai muncul:<br />
•	literasi informasi anak muda tidak bertambah baik meskipun akses ke teknologi  semakin meluas. Tampaknya mereka trampil menggunakan komputer, namun sebetulnya ketrampilan ini menutupi beberapa masalah yang cukup merisaukan<br />
•	penelitian menunjukkan bahwa cepatnya anak muda menelusur menandakan bahwa cuma sedikit waktu dipakai untuk mengevaluasi informasi, baik dari segi relevansi, keakuratan, atau otoritas<br />
•	anak muda kurang memahami apa kebutuhan informasi mereka sendiri, sehingga mereka sulit mengembangkan strategi penelusuran efektif<br />
•	sebagai akibatnya, mereka lebih suka mengungkapkan kebutuhan mereka dengan menggunakan bahasa alamiah, ketimbang mencari kata kunci yang lebih efektif<br />
•	dihadapkan dengan daftar panjang hasil-hasil penelusuran (<em>search hits</em>), anak muda merasa kesulitan menilai relevansi materi yang ditemukan, dan sering mencetak saja berhalaman-halaman tanpa melihat dan memilah dulu</p>
<p style="text-align:justify;">Semua hal di atas berlaku untuk  penggunaan internet saat ini oleh anak muda, maupun penggunaan sistem <em>online</em> dan CD-ROM ketika baru saja muncul, oleh satu generasi sebelum generasi Google ini.  Tidak ada bukti langsung bahwa literasi informasi anak muda kini lebih baik ataupun lebih buruk daripada dulu.  Tetapi, penggunaan mesin pencari terkenal dengan gencar menimbulkan beberapa masalah lain:</p>
<p style="text-align:justify;">•	anak muda punya peta mental yang kurang matang dari hakekat internet, dan sering tidak memahami bahwa internet adalah jejaring kumpulan sumber-sumber informasi yang berasal dari penyedia (<em>provider</em>) yang berbeda-beda<br />
•	konsekuensinya, mesin pencari, bisa Yahoo atau Google, menjadi nama utama yang mereka asosiasikan dengan Internet<br />
•	banyak anak muda menganggap sumber-sumber informasi yang disponsori perpustakaan tidak intuitif, sulit digunakan, dan sebab itu lebih suka menggunakan Google atau Yahoo, sebab mesin pencari ini terasa lebih akrab, lebih membantu memenuhi kebutuhan</p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan yang sangat besar yang dikemukakan diatas, ialah apakah, dan sejauh mana, perilaku, sikap dan preferensi anak muda generasi Google akan tetap sama, juga ketika mereka tumbuh dan sebagian di antaranya menjadi akademisi dan ilmuwan.  Pertanyaan ini tidak mungkin dijawab dengan langsung sebab  tidak ada studi longitudinal yang mempelajari perilaku satu kelompok mulai dari masa anak muda hingga masa dewasa.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Generasi Google:  Bagaimana anak muda saat ini berperilaku di perpustakaan virtual?</strong><br />
Ini merupakan suatu peringatan yang kuat bahwa kebutuhan informasi seseorang berbeda pada saat berbeda dalam kehidupannya.  Studi terkontrol yang secara sistematis menjelaskan faktor usia dan perilaku pencarian informasi masih sangat langka.  Oleh sebab itu ada banyak informasi keliru dan spekulasi tentang perilaku anak muda di dunia maya.</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu pijakan studi ini adalah suatu analisis <em>deep log </em> yang membandingkan perilaku informasi  dengan kisaran usia yang lebar.  Semuanya menggunakan platform untuk menelusur yang sama: <strong>British Library Learning,</strong> suatu layanan ditujukan pada siswa dan guru sekolah dasar, dan <strong>Intute</strong>, suatu layanan JISC yang ditujukan pada komunitas perguruan tinggi dan sesudahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Hasil-hasil terpenting dari analisis ini adalah:</p>
<p style="text-align:justify;">•	Kedua jasa layanan sangat populer, baik di Inggris maupun diluarnya, sangat banyak digunakan.  Ada kesan kuat bahwa jasa layanan ini punya content yang dinilai tinggi oleh siswa dan guru mereka<br />
•	Popularitas kedua situs memberi kesan bahwa situs ini terkenal dan digemari baik di Inggris maupun di luarnya.<br />
•	Mayoritas pengunjung kedua situs berkunjung sebab diarahkan oleh mesin pencari, dan penelusuran dilakukan lebih banyak di rumah daripada di sekolah atau universitas.<br />
•	Kira-kira 40% dari pengguna mesin pencari  dari sekolah menemukan British Library Learning ketika sedang mencari gambar, yang menunjukkan bahwa penelusuran tipe ini disukai<br />
•	Mereka yang sampai ke situs British Library Learning lewat link dari blog merupakan minoritas kecil dan terutama dari Amerika.  Belum ada bukti bahwa jejaring sosial sudah lazim digunakan oleh situs-situs perpustakaan</p>
<p style="text-align:justify;">Para pelajar tampak menggunakan sarana yang tidak menuntut ketrampilan tinggi: mereka puas dengan bentuk penelusuran yang sangat sederhana atau dasar.  Hasil dari <em>deep log analysis</em> CIBER konsisten dengan apa yang ada dalam literatur perilaku informasi dan observasi atau survai lain.  Contoh misalnya:  studi berupa observasi menunjukkan bahwa anak muda (terutama yang laki-laki) men-<em>scan</em> halaman <em>online </em>sangat cepat, sering klik <em>hyperlink</em>, dan kurang membaca dengan berurut. Pengguna jarang menggunakan fasilitas penelusuran yang lebih kompleks, karena berasumsi bahwa mesin pencari ‘memahami’ pertanyaan mereka.  Mereka cenderung berpindah cepat-cepat dari satu halaman ke halaman lain.  Mereka kurang membaca dan mencerna informasi, dan mengalami kesulitan menilai apakah halaman yang  ditemukan relevan atau tidak.</p>
<p style="text-align:justify;">Menilai relevansi, khususnya bagi anak-anak, sulit sekali.  Anak-anak cenderung hanya melihat apakah kata cariannya ada (harus presis sama) atau tidak .  Ada berarti relevan, tidak ada berarti tidak relevan.  Maka banyak dokumen yang sebenarnya relevan diabaikan, dan penelusuran diulang.  Pencarian informasi diakhiri ketika beberapa dokumen ditemukan dan dicetak, sedangkan isi dokumen kurang diperhatikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Literatur juga menunjukkan bahwa banyak karakteristik sebetulnya sudah ada sebelum zaman Web, sehingga tidak bisa dikaitkan dengan Internet sebagai sesuatu yang baru total. Dalam literatur hampir tidak ditemukan pembahasan tentang pergeseran yang meliputi satu generasi secara keseluruhan.  Misalnya, bahwa generasi Google secara fundamental ‘beda’ dengan generasi sebelumnya.  Tentu saja ini sulit diinterpretasi sebab tidak ada studi longitudinal yang bisa mendukung pendapat seperti ini.  Sebaliknya, literatur memperlihatkan bahwa ada perbedaan besar antara anak  dan remaja.  Anak kecil belum mengembangkan ketrampilan kognitif dan motorik untuk menjadi penelusur efektif.  Sesudah usia 11 tahun tidak terlihat perbedaan besar lagi antara anak dan orang dewasa muda. Tapi penelitian CIBER memperlihatkan bahwa pencarian gambar (lewat Yahoo dan Google) sangat populer antara anak, dan mungkin inilah betul-betul suatu perbedaan dalam perilaku informasi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Generasi Google:  Fenomena ‘social networking’ – apakah penting?</strong><br />
Munculnya situs web sosial (<em>social websites</em>) mengubah sifat fundamental  WWW:  kita pindah dari suatu Internet yang dibangun oleh beberapa ribu pengarang ke Web yang dibangun oleh jutaan orang.   Bagi pustakawan dan penerbit fenomena <em>social networking </em>sangat menarik karena <em>social networking</em> ini bagian dari suatu tren yang lebih luas: pengguna mencipta dan mempublikasikan <em>content</em>, dan dengan demikian membuat kabur perbedaan antara produser informasi dan konsumen informasi.  Ini menjadi fenomena yang berdampak pada seluruh masyarakat.</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak pustakawan telah mulai bereksperimen dengan <em>social software</em> karena ingin mendekatkan diri pada pengguna.  Tetapi mereka menghadapi suatu masalah.  Meskipun perpustakaan khusus menghabiskan dana jutaan pound untuk memberikan akses langsung dari desktop pengguna ke pangkalan data berisi <em>content </em>elektronik yang mahal (jurnal, monograf, dsb.) pengguna pada umumnya tidak mengetahui ini.  Mereka tidak tahu bahwa perpustakaanlah yang menyediakannya, atau mereka mendapatkannya (menemukannya) lewat Google, dan berasumsi <em>content</em> itu gratis.  Perpustakaan makin lama makin terjepit: penerbit atau mesin pencari dianggap telah berjasa, sedangkan perpustakaan yang harus membayar biaya penyediaan content.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa pustakawan progresif mulai menghadirkan perpustakaan di <em>MySpace </em>dan <em>Facebook</em> dengan menciptakan profil perpustakaan.  Saat ini masih terlalu awal untuk mengetahui apakah inisiatif seperti ini akan membuahkan hasil bagus atau tidak.  Bahkan upaya seperti ini malahan bisa punya efek yang berlawanan dari yang diharapkan. Bisa saja pengguna muda mengganggap bahwa perpustakaan mulai memasuki wilayah mereka, dan itu menimbulkan resistensi.  Pada tahun 2007 misalnya, OCLC mengadakan suatu survai untuk mengetahui apakah mahasiswa dan masyarakat umum berminat berpartisipasi dalam beberapa kegiatan social networking atau mengisi community site yang dibangun oleh perpustakaan. Respons sangat mengecewakan:  kebanyakan mahasiswa menyatakan bahwa mereka tidak berminat. Meski masih terlalu awal untuk menarik kesimpulan definitif, survai ini dan survai serupa cenderung menunjukkan bahwa <em>social software </em>dan <em>social networking</em> belum, atau tidak sangat bermanfaat dalam upaya untuk lebih mendekati atau merangkul pengguna dalam lingkungan informasi yang semakin <em>dis-intermediated</em>, yaitu lingkungan tanpa perantara, tanpa pustakawan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada banyak contoh dari eksperimen yang dilakukan perpustakaan dengan berbagai teknologi Web 2.0, misalnya memperkaya entri katalog dengan review dan rating yang dibuat pengguna.  Tapi sekali lagi, masih terlalu awal untuk menilai efektivitasnya. Yang sudah jelas adalah bahwa <em>social networking</em> sangat penting, dan pustakawan harus giat memantau  perkembangannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pandangan CIBER adalah bahwa isu yang harus diwaspadai adalah perkembangan buku elektronik (<em>e-book</em>), bukan <em>social networking</em>.    Perpustakaan harus terus bereksperimen, dan khususnya memantau contoh-contoh pemanfaatan <em>social networking </em>dalam bisnis (misalnya untuk pemasaran) dan  penyebaran bahan ajar <em>online.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Generasi Google:  mitos atau realitas?</strong><br />
Ada banyak hal yang dikatakan tentang generasi Google di media populer yang tidak sesuai dengan bukti nyata.  Dalam bagian ini team peneliti CIBER mencoba menilai pendapat-pendapat ini: mana cuma mitos, mana realitas?  Diakui juga oleh team ini bahwa penilaian mereka dibuat berdasarkan bukti yang masih kurang banyak. Beberapa pendapat dikutip di bawah ini, disertai pendapat team peneliti:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Generasi Google lebih kompeten dengan teknologi.</em><br />
Secara umum benar, tapi pengguna yang lebih tua mengejar ketertinggalan mereka dengan cepat.  Dan kebanyakan anak muda cenderung menggunakan aplikasi yang lebih sederhana dan lebih sedikit jenis program.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Generasi Google menaruh harapan tinggi pada ICT</em><br />
Mungkin benar, karena kita sekarang hidup dalam budaya web global yang didominasi oleh beberapa nama besar.  Harapan ini relatif saja, tidak khas untuk anak muda, karena kita semuanya sekarang menjadi konsumen informasi.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Generasi Google lebih menyukai sistem interaktif dan tidak mau hanya menjadi konsumen informasi pasif </em><br />
Secara umum benar, seperti terungkap oleh pola konsumsi media anak muda.  Media pasif seperti televisi dan surat kabar kurang digemari.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Generasi Google melakukan multitasking dalam semua aspek kehidupan mereka</em><br />
Masih terbuka (tidak atau belum bisa memberikan pendapat pasti), sebab tidak ada bukti konkrit.  Tapi, mereka sejak kecil terekspos pada media <em>online </em>dan ini bisa jadi mengembangkan ketrampilan untuk  melakukan beberapa kegiatan secara berbarengan (<em>parallel processing</em>).  Pertanyaan yang lebih penting ialah  apakah kemampuan memproses secara berurutan, yang perlu untuk membaca terfokus, ikut pula dikembangkan</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Generasi Google terbiasa dengan <em>entertainment </em> dan sebab itu juga mengharapkan unsur ini ada dalam pengalaman belajar mereka di universitas</em>.<br />
Masih terbuka.  Media informasi harus menarik. Jika tidak, maka tidak akan dilihat atau digunakan.  Team agak cemas melihat besarnya minat untuk menggunakan permainan (<em>game technologies</em>) untuk membuat proses belajar dan kunjungan perpustakaan lebih menarik.  Ketika 20 – 30 tahun yang lalu siaran berita mulai menggunakan teknik-teknik pertunjukan hiburan,  pemirsa lebih tertarik, tapi penelitian menunjukkan bahwa penyerapan informasi justru terhambat.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Generasi Google lebih suka dengan informasi visual ketimbang tekstual</em><br />
Benar, tetapi dengan beberapa catatan.  Teks masih tetap penting.  Sewaktu teknologi semakin bagus dan biaya turun, video links nanti akan menggantikan teks dalam konteks berjejaring sosial. Namun, untuk antar muka jasa perpustakaan (<em>library interfaces</em>) multimedia ternyata cepat kehilangan daya tariknya.  Hanya menarik saat masih baru.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Generasi Google tidak sabar dan menghendaki hasil cepat</em>, <em> kebutuhan informasi mereka harus dipenuhi dengan segera.</em><br />
Tidak benar.  Tidak ada bukti nyata bahwa anak muda lebih tidak sabar dalam hal ini.  Harus diingat bahwa kelompok-kelompok yang lebih tua masih ingat pengalaman-pengalaman mereka pada masa pra-digital, sedangkan generasi lebih muda tidak.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Generasi Google menganggap sesamanya (kelompok usia mereka sendiri) lebih bisa dipercaya sebagai sumber informasi daripada tokoh-tokoh yang lebih dewasa</em><br />
Setelah dibanding-bandingkan, Team merasa ini suatu mitos.  Penelitian untuk mengetahui sumber-sumber informasi yang disukai dan dihargai oleh anak-anak disekolah menengah menunjukkan bahwa guru, anggota keluarga, dan buku teks lebih diandalkan ketimbang Internet.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Generasi Google ingin terkoneksi dengan Web terus menerus </em><br />
Team tidak yakin bahwa ini suatu karakteristik khas generasi Google.  Penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa kelompok usia di atas 65 lebih lama online (per minggu empat jam) daripada kelompok 18 – 24-an. Team menduga bahwa faktor yang lebih penting daripada generasi adalah kepribadian dan latar belakang.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Generasi Google adalah generasi ‘cut-and-paste’</em><br />
Ini benar,  ada banyak bukti dan plagiarisme adalah masalah yang serius.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Generasi Google jadi trampil berkomputer dengan cara coba-coba dan langsung bisa</em><br />
Ini suatu mitos.  Anggapan populer adalah bahwa para remaja generasi Google sudah asyik main-main dengan <em>gadget</em> baru saat orang tua mereka masih membaca manualnya. Kenyataan justru kebalikannya.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Generasi Google lebih menyukai informasi dalam bentuk potongan-potongan yang dapat dicerna dengan mudah, ketimbang teks lengkap.</em><br />
Ini mitos. Studi rekam jejak komputer menunjukkan bahwa semuanya, mulai dari mahasiswa S1 hingga profesor, ketika di perpustakaan digital, sangat cenderung berperilaku dangkal, horisontal, berpindah-pindah cepat. Semuanya tampaknya punya kebiasaan melakukan browsing cepat, melihat sepintas.  Di kalangan peneliti yang lebih tua abstrak sangat populer.  Masyarakat mulai cepat puas dengan yang gampang saja dan  mengabaikan mutu.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Generasi Google pintar sekali menelusur</em><br />
Ini mitos yang berbahaya.  Memiliki literasi digital tidak berarti memiliki literasi informasi.  Literatur 25 tahun terakhir tidak menampakkan perbaikan (atau kemunduran) ketrampilan mencari dan menggunakan informasi pada anak muda.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Generasi Google mengira bahwa semuanya ada di Web (dan gratis)</em><br />
Belum pasti.  Ada banyak cerita dan berita bahwa ini benar bagi kelompok besar anak muda, tetapi belum ada penelitian yang mendalam.  Sebaliknya, ada banyak bukti bahwa anak muda tidak tahu menahu akan adanya content yang disponsori oleh perpustakaan, atau setidak-tidaknya segan memanfaatkannya.  Ini merupakan masalah perpustakaan, bukan kesalahan pada anak muda.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Generasi Google tidak menghormati milik intelektual</em><br />
Hanya benar sebagian.  Hasil survai tertentu menunjukkan bahwa baik orang dewasa maupun anak (usia 12-15) punya kesadaran dan pemahaman yang tinggi terhadap prinsip-prinsip dasar milik intelektual, tapi anak muda merasa bahwa peraturan hak cipta tidak fair dan tidak adil.  Jika respek untuk hak cipta hilang, dampaknya bagi perpustakaan dan industri informasi sangat serius.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Generasi Google:  Apa yang sesungguhnya kita ketahui tentang generasi Google? </strong><br />
Sebenarnya, kita semuanya generasi Google sekarang. Demografi Internet dan konsumsi media mengikis habis perbedaan antar generasi yang katanya ada selama ini.  Bukti-bukti nyata menunjukkan bahwa orang dari semua kelompok usia makin lama makin banyak menggunakan Internet dan Web 2.0 untuk berbagai keperluan.  Mereka yang muda (bukan saja generasi Google tapi juga generasi sebelumnya, generasi Y) mungkin yang pertama-tama giat berinternet, tapi pengguna lebih tua mulai sama giatnya sekarang.  Mereka ini dijuluki <em>Silver Surfers</em>.  Maka dalam banyak hal label atau julukan Google generation menjadi kurang tepat.</p>
<p style="text-align:justify;">Suatu survai yang dilakukan pada tahun 2007 oleh  Synovate mengungkapkan bahwa hanya 27% dari remaja di Inggris bisa dikatakan mempunyai minat mendalam dan ketrampilan teknologi informasi yang menjadi ciri dari label generasi Google.  Mayoritas (57%) menggunakan teknologi yang relatif rendah tingkatannya untuk keperluan komunikasi dan hiburan, dan ada pula sekelompok remaja yang tidak suka dengan teknologi dan kalau bisa tidak mau memakainya.  Jadi jelas bahwa pembagian berdasarkan kelompok usia atau generasi amat sulit.<br />
Apakah ketrampilan informasi (<em>information skills</em>)  tradisional dari anak muda benar-benar rendah? Inipun masih kurang diketahui secara pasti, namun kita harus secepatnya mencari tahu kondisi sebenarnya, sebab pendidikan zaman sekarang semakin berciri <em>self-directed learning</em>.<br />
Kesimpulan menyeluruh dari team peneliti ialah bahwa pengaruh ICT pada anak muda terlalu dibesarkan, sedangkan dampaknya pada generasi lebih tua kurang diperhatikan.  Perlu diupayakan pandangan yang lebih berimbang.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Generasi Google:  Di manakah letak kesenjangan ketrampilan?</strong><br />
Ada banyak sekali tulisan dan pernyataan tentang betapa trampilnya anak menggunakan sumber-sumber elektronik. Ada pula klaim bahwa anak muda menggunakan Internet lebih kreatif dan lebih piawai daripada guru atau orang tua mereka.  Pendek kata, mereka ‘<em>technology savvy</em>’. Inilah persepsi populer tentang anak muda dan teknologi informasi.  Tapi tidak ada bukti dalam literatur ilmiah bahwa anak muda benar-benar penelusur trampil.  Berbagai studi lama misalnya, melaporkan bahwa penelusur muda sering tampak kesulitan memilih istilah carian (<em>search terms</em>) yang cocok.  Ada banyak anak muda yang menggunakan frase atau kalimat lengkap, misalnya:  “What are the three most common crimes in California?”</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam literatur tentang literasi informasi sering dibahas mengapa menelusur sulit. Untuk bisa memanfaatkan sarana temu kembali Internet dengan efektif, penelusur perlu memiliki suatu peta mental yang lengkap.  Diperlukan pemahaman bagaimana sistem temu kembali bekerja, bagaimana informasi direpresentasikan dalam pangkalan data bibliografi atau berteks lengkap,  ditambah dengan sedikit wawasan tentang dunia informasi, juga tentang bagaimana ejaan, tatabahasa, dan struktur kalimat membantu menjadikan penelusuran lebih efektif.  Banyak anak (dibawah 13 tahun) dan orang dewasa yang lebih tua (46 dan di atasnya) sering tidak mampu menyusun penelusuran yang efektif dan mengevaluasi hasilnya. Dalam kasus anak, ini untuk sebagian besar terjadi karena  kurangnya pengetahuan mereka tentang jenis content yang ada dalam situs tertentu, dan susahnya memahami bagaimana mesin pencari bekerja, kesulitan beralih dari bahasa alamiah (<em>natural language</em>) ke bahasa untuk pertanyaan (<em>search queries</em>), kurang mempertimbangkan sinonim dan alternatif-alternatif lain.  Dalam kasus generasi lebih tua, masalah utama ialah bahwa banyak di antara mereka tidak, atau belum, bisa membayangkan bagaimana Internet bekerja.</p>
<p style="text-align:justify;">Masalah kedua adalah masalah evaluasi informasi.  Anak muda kurang mengetahui cara tepat mengevaluasi sumber informasi elektronik, atau samasekali  tidak mengevaluasi. Cepatnya anak muda menelusur web menunjukkan bahwa hampir tidak ada waktu yang dipakai untuk mengevaluasi informasi, baik dari aspek relevansi, keakuratan, atau otoritas.  Ada studi yang menemukan bahwa banyak remaja mengira bahwa apabila suatu situs diindeks oleh Yahoo, itu berarti situs tersebut terjamin otoritasnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Temuan yang paling signifikan dari studi CIBER ini adalah bahwa guru yang diwawancarai adalah guru yang <em>information literate,</em> namun tidak terjadi transfer sikap dan ketrampilan informasi (information skills) mereka pada siswa mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Di Inggris hanya ada sedikit penelitian yang mempelajari ketrampilan informasi anak muda yang masuk perguruan tinggi atau sudah di perguruan tinggi.  Hal ini menandai kurangnya dukungan strategis dari pemerintah pada program-program literasi informasi.  Gambaran yang lebih lengkap tersedia dari situasi di Amerika Serikat.  Tapi gambaran ini tidak menggembirakan:  banyak sekali mahasiswa baru rendah sekali tingkat literasi informasinya, tapi tinggi sekali tingkat kecemasanya apabila perlu ke  perpustakaan. Dan seperti sudah bisa diperkirakan, ketrampilan informasi punya korelasi positif dengan hasil tes standar untuk masuk universitas, dan nilai-nilai selama masa studi.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada dua pesan penting yang muncul dari penelitian akhir-akhir ini di Amerika Serikat.  Jika mahasiswa yang berada di kelompok 25% teratas dan mahasiswa kelompok 25%paling bawah (dikelompokkan menurut ketrampilan literasi informasi) dibandingkan, maka ternyata bahwa kelompok 25% teratas lebih banyak terekspos pada ketrampilan perpustakaan dasar lewat orang tua, perpustakaan sekolah, perpustakaan kelas atau perpustakaan umum ketika mereka masih muda.  Tampaknya suatu kesenjangan baru sedang  muncul di Amerika Serikat.  Mahasiswa dengan bekal ketrampilan informasi yang lebih baik memperoleh nilai yang lebih baik.  Penelitian menunjukkan bahwa bagi mereka di bagian bawah spektrum ketrampilan informasi upaya perbaikan pada usia mereka berada di universitas, sudah terlambat. Mahasiswa kategori ini sudah memiliki perilaku yang sulit diubah: mereka sudah terbiasa untuk puas saja dengan Google.<br />
Masalahnya ialah bahwa mahasiswa ini tidak sadar bahwa mereka punya problem: ada kesenjangan antara performa mereka pada tes ketrampilan informasi dengan penilaian mereka terhadap diri mereka sendiri dalam hal ketrampilan informasi.  Temuan studi-studi ini menimbulkan keraguan: apakah perguruan tinggi dapat mengembangkan ketrampilan penelusuran generasi Google hingga mencapai tingkat yang sesuai dengan tuntutan pendidikan tinggi dan penelitian? Kesimpulan paling penting ialah:  ketrampilan informasi harus dikembangkan pada usia formatif di sekolah dan program remedial literasi informasi pada tingkat universitas tidak akan efektif. Pertanyaan yang besar adalah: sebaiknya seperti apa pelatihan ini? Mungkin harus mengikuti arus saja, dan membantu anak menjadi konsumen informasi yang lebih efektif?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pustakawan2009.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pustakawan2009.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pustakawan2009.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pustakawan2009.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pustakawan2009.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pustakawan2009.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pustakawan2009.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pustakawan2009.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pustakawan2009.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pustakawan2009.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pustakawan2009.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pustakawan2009.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pustakawan2009.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pustakawan2009.wordpress.com/82/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakawan2009.wordpress.com&amp;blog=6350334&amp;post=82&amp;subd=pustakawan2009&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustakawan2009.wordpress.com/2009/03/25/perilaku-informasi-peneliti-masa-depan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">irma1411</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ini baru perpustakaan!</title>
		<link>http://pustakawan2009.wordpress.com/2009/03/09/ini-baru-perpustakaan/</link>
		<comments>http://pustakawan2009.wordpress.com/2009/03/09/ini-baru-perpustakaan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 13:08:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irma1411</dc:creator>
				<category><![CDATA[Selingan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustakawan2009.wordpress.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[Klik di sini untuk melihat perpustakaan yang dengan bangga memperlihatkan jati dirinya.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakawan2009.wordpress.com&amp;blog=6350334&amp;post=75&amp;subd=pustakawan2009&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Klik <a href="http://aisforarchitecture.wordpress.com/2007/12/03/scusi-dove-la-biblioteca/">di sini</a> untuk melihat perpustakaan yang dengan bangga memperlihatkan jati dirinya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pustakawan2009.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pustakawan2009.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pustakawan2009.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pustakawan2009.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pustakawan2009.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pustakawan2009.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pustakawan2009.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pustakawan2009.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pustakawan2009.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pustakawan2009.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pustakawan2009.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pustakawan2009.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pustakawan2009.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pustakawan2009.wordpress.com/75/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakawan2009.wordpress.com&amp;blog=6350334&amp;post=75&amp;subd=pustakawan2009&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustakawan2009.wordpress.com/2009/03/09/ini-baru-perpustakaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">irma1411</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perilaku informasi peneliti masa depan (1)</title>
		<link>http://pustakawan2009.wordpress.com/2009/03/09/perilaku-informasi-peneliti-masa-depan-1/</link>
		<comments>http://pustakawan2009.wordpress.com/2009/03/09/perilaku-informasi-peneliti-masa-depan-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 09:33:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irma1411</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perilaku informasi dan Internet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustakawan2009.wordpress.com/2009/03/09/perilaku-informasi-peneliti-masa-depan-1/</guid>
		<description><![CDATA[Apakah anda seorang pustakawan atau profesional informasi lain yang terus menerus ingin mengembangkan jasa layanan yang cocok bagi pengguna perpustakaan anda? Jadi anda sebab itu harus bisa mengantisipasi apa kiranya kebutuhan pengguna ini? Atau lebih dari itu, harus dapat memperkirakan seperti apa sosok pengguna tersebut dan seperti apa perilaku informasinya di masa yang akan datang? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakawan2009.wordpress.com&amp;blog=6350334&amp;post=69&amp;subd=pustakawan2009&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Apakah anda seorang pustakawan atau profesional informasi lain yang terus menerus ingin mengembangkan jasa layanan yang cocok bagi pengguna perpustakaan anda?  Jadi  anda sebab  itu harus bisa mengantisipasi apa kiranya kebutuhan pengguna ini?  Atau lebih dari itu, harus dapat memperkirakan seperti apa sosok pengguna tersebut dan seperti apa perilaku informasinya di masa yang akan datang?  Mungkin  <a href="http://www.ucl.ac.uk/infostudies/research/ciber/downloads/ggexecutive.pdf"><strong><em>Information behaviour of the researcher of the future</em></strong></a>, suatu laporan berisi hasil-hasil suatu studi yang dilaksanakan oleh Center for Information Behaviour and the Evaluation of Research (CIBER), suatu pusat penelitian yang bernaung di bawah Department of Information Studies, University College London, bermanfaat bagi anda.</p>
<p style="text-align:justify;">Studi  ini dilaksanakan untuk mengetahui :</p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;">Apakah, sebagai akibat transisi digital dan penciptaan sumber-sumber informasi digital yang berkelimpahan, anak  muda, &#8216;generasi Google&#8217;, mencari dan meneliti isi (<em>content</em>) dengan cara-cara baru, dan apakah ini mungkin akan membentuk perilaku mereka sebagi peneliti dewasa  nanti?</p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;">Apakah cara-cara baru meneliti isi (<em>content</em>) akan terbukti berbeda dari cara para peneliti dan ilmuwan sekarang melaksanakan pekerjaan mereka?</p>
<p style="text-align:justify;">Hasil-hasilnya akan menjadi  masukan  yang sangat berharga bagi semua fihak yang terlibat dalam penyediaan jasa layanan informasi.  Diharapkan bahwa masukan ini akan merangsang diskusi tentang masa depan perpustakaan di era Internet. Memang membuat prediksi tentang keadaan sepuluh tahun ke depan cukup berisiko, apalagi karena dunia perpustakaan saat ini sudah dilanda kecemasan karena isu &#8216;<em>disintermediation</em>&#8216;.  Tapi, studi ini menyatakan bahwa bagaimanapun juga  &#8220;… <em>it is possible to identify some powerful  trends that seem very unlikely to be reversed</em>.&#8221;<span id="more-69"></span><!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Proyek penelitian ini dibiayai oleh British Library (BL) dan Joint Information Systems Committee (JISC), dilaksanakan pada tahun 2007 (April – Oktober), dan dipublikasikan sebagai suatu <em>briefing paper</em> berjudul  &#8221; Information behaviour of the researcher of the future&#8221; pada tanggal 11 Januari 2008.</p>
<p style="text-align:justify;">Isi  laporan dibagi menjadi 4 bagian: (1) Setting the scene, (2) The Google generation, (3) Looking to the future: what might the information environment be like in 2017? (4) Challenges &#8211; Looking to the future: what are the implications for the &#8216;information experts&#8217; – research libraries  &#8212; policy makers  &#8212; challenges for us all. Seluruhnya 35 halaman!  Tetapi berbagai fihak memberi penilaian yang positif dan komentar seperti: &#8221; … <em>certainly worth a good old fashioned  read-through</em>.&#8221;  Mudah-mudahan anda pun bersedia mencoba sekali-kali menekan dorongan untuk membaca dengan <a href="http://pustakawan2009.wordpress.com/2009/02/16/fenomena-bentuk-f-di-web/">pola atau bentuk F</a>, dan membaca seluruh laporan panjang ini. !</p>
<p style="text-align:justify;">Tiap blogpost akan berisi satu bagian dari laporan ini.  Inilah bagian pertama.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Setting the scene (Latar belakang)<br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Apa tujuan studi ini?<br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Studi ini dilakukan atas permintaan British Library dan Joint Information Systems Committee (JISC) untuk mengidentifikasi bagaimana para peneliti spesialis masa depan, yang sekarang berusia sekolah atau pra-sekolah, kemungkinan besar akan mengakses dan berinteraksi dengan sumber-sumber digital dalam waktu lima hingga sepuluh tahun kedepan.  Studi ini akan membantu jasa layanan perpustakaan dan informasi mengantisipasi dan memberi respons yang efektif terhadap perilaku yang baru atau yang sedang berkembang.  Dalam laporan ini  &#8216;generasi Google&#8217; didefinisikan sebagai mereka yang lahir sesudah tahun 1993 dan yang hampir tidak ingat lagi, atau samasekali tidak ingat lagi, bagaimana kehidupan sebelum Web.</p>
<p style="text-align:justify;">Secara garis besar tujuan studi ini adalah mengumpulkan dan mengevaluasi bukti-bukti yang tersedia untuk menetapkan:</p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;">Apakah, sebagai akibat transisi digital dan penciptaan sumber-sumber informasi digital yang berkelimpahan, anak  muda, &#8216;generasi Google&#8217;, mencari dan meneliti isi (<em>content</em>) dengan cara-cara baru, dan apakah ini mungkin akan membentuk perilaku mereka sebagi peneliti dewasa  nanti?</p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;">Apakah cara-cara baru meneliti isi (<em>content</em>) akan terbukti berbeda dari cara para peneliti dan ilmuwan sekarang melaksanakan pekerjaan mereka?</p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;">Untuk memberi informasi dan merangsang diskusi tentang masa depan perpustakaan di era Internet</p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan-pertanyaan ini secara strategis sangat penting, tetapi harus dikaji tanpa terpengaruh oleh perhatian berlebihan dari media pada  fenomena &#8216;generasi Google&#8217;.  Jadi perlu ada sikap yang cukup kritis.  Berbagai julukan yang membingungkan diberikan pada generasi muda yang tumbuh dalam budaya yang didominasi Internet dan aneka jenis  media:  <em>Net Generation, Digital Natives, Millenials</em>, dan masih banyak julukan lain.  Ada asumsi  yang belum diuji bahwa generasi ini secara kualitatif &#8216;berbeda&#8217; dari generasi-generasi sebelumnya:  mereka punya  bakat, sikap, harapan, yang beda.  Dan bahkan juga punya &#8216;literasi&#8217; komunikasi dan informasi (<em>communication and information &#8216;literacies&#8217;</em> ) yang beda.  Dan semua ini akan ikut ditransfer  ke cara mereka menggunakan jasa perpustakaan dan informasi ketika mereka masuk perguruan tinggi dan berkarir sebagai peneliti.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Bagaimana studi ini dilaksanakan?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja metode yang paling tepat untuk melaksanakan studi  macam ini adalah studi <em>longitudinal </em> yang meliputi periode yang panjang yang mengikuti kelompok anak muda yang sama sepanjang masa pendidikan mereka, sebagai mahasiswa tingkat sarjana, dan karir awal sebagai peneliti,  sebagai mahasiswa pasca-sarjana atau tingkat doktor.  Namun, kerangka waktu  studi ini tidak memungkinkannya.  Maka Centre for Information Behavour and the Evaluation of Research (CIBER) mengembangkan suatu metodologi yang mencoba membuat suatu studi <em>longitudinal </em>dari literatur yang ada, digabungkan dengan data primer dari suatu studi yang mempelajari bagaimana orang sesungguhnya menggunakan situs web British Library dan JISC.  Dengan  teknik &#8216;<em>deep log analysis</em>&#8216; dibuat profil pengguna yang dapat mengungkapkan perbedaan dalam <em>information behaviour</em> antara kelompok-kelompok tertentu.  Dalam hal ini yang ingin diketahui ialah apakah ada perbedaan antara cara anak sekolah dan orang dewasa  menggunakan platform penelusuran yang sama.  Apakah usia menimbulkan perbedaan yang signifikan?  Seluruh materi  pendukung studi ini serta hasil-hasil  mendetil  (berbentuk beberapa CIBER Work Package) bisa diakses lewat situs CIBER.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa &#8216;generasi Google&#8217;?</p>
<p style="text-align:justify;">&#8216;Google generation&#8217; adalah sebutan populer  yang mengacu ke suatu generasi anak muda yang lahir sesudah tahun 1993 dan tumbuh menjadi  besar di suatu dunia yang didominasi oleh Internet.</p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;">Kebanyakan mahasiswa yang kini masuk perguruan tinggi dan universitas lebih muda dari  komputer, dan lebih nyaman bekerja  dengan  <em>keyboard </em>ketimbang dengan buku catatan berspiral, dan lebih senang membaca dari layar komputer  ketimbang dari kertas di tangan mereka.  Konektivitas terus-menerus –  dengan teman dan keluarga,  setiap saat dan di setiap tempat  &#8212; sangat penting.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Wikipedia,  &#8216;Google generation&#8217;  mulai umum dipakai sebagai sebutan singkat untuk  generasi yang  langsung menuju Internet dan mesin pencari  apabila ingin mengetahui sesuatu, dan mesin pencari paling populer bagi mereka adalah Google.  Ini kontras sekali  dengan generasi-generasi sebelumnya yang memperoleh pengetahuan lewat buku dan perpustakaan konvensional.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam bagian lain dari laporan ini beberapa mitos dan realitas sekitar generasi Google akan dibahas, dan benar tidaknya mitos atau realitas tertentu akan dibeberkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Suatu survai global yang dilakukan oleh OCLC (Online Computer Library Center) menunjukkan bahwa ciri khas generasi Google adalah seperti ini:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>89% mahasiswa perguruan tinggi menggunakan mesin pencari sebagai langkah awal pencarian informasi  (sedangkan hanya 2% mulai dari suatu situs web perpustakaan)</li>
<li>93% puas atau sangat puas dengan pengalaman mereka ketika menggunakan mesin pencari (dibandingkan dengan 84% yang puas dengan penelusuran dengan bantuan pustakawan)</li>
<li>mesin pencari  lebih cocok dengan gaya hidup mahasiswa daripada perpustakaan fisik atau <em>online </em>dan kecocokan itu &#8216;hampir sempurna&#8217;</li>
<li>mahasiswa masih menggunakan perpustakaan, tetapi semakin sedikit (dan membaca makin sedikit) sejak mereka mulai menggunakan sarana penelusuran Internet</li>
<li>bagi kelompok ini perpustakaan masih tetap diasosiasikan dengan buku, meskipun perpustakaan telah melakukan investasi besar-besaran untuk menambah sumber-sumber digital</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Temuan ini, yang sangat konsisten dengan hasil penelitian CIBER terhadap perilaku informasi anak muda,  harus direspons dengan sangat serius oleh para pustakawan dan penyedia jasa informasi lainnya.  Dan, perlu pula dipikirkan masalah terkait lain yang lebih luas dan bisa berpengaruh besar, yaitu dampak negatif kemudahan mendapatkan informasi dan berlimpahnya informasi.  Apakah ini akan merusak pemikiran kreatif dan independen?</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Apa transisi digital dan bagaimana pengaruhnya pada perpustakaan?<br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Perubahan yang mahabesar sedang terjadi di dunia informasi.  Perubahan ini mentransformasikan pengajaran, pembelajaran, komunikasi ilmiah, dan peran perpustakaan  &#8216;tradisional&#8217; sebagai penyedia jasa layanan penunjang penelitian. Banyak dari perubahan tersebut disebabkan oleh perkembangan teknologi dan semakin berlimpahnya isi (<em>content</em>) elektronik berkat  penerbitan elektronik, proyek digitisasi besar-besaran, dan Internet.  Volume informasi berupa <em>full text</em> yang dapat ditelusuri, dilihat-lihat dan dicetak sambil duduk dengan nyaman di perpustakaan sudah tak terbayangkan besarnya.  Begitu pula pilihan yang tersedia:  pengguna perpustakaan telah berubah menjadi konsumen informasi yang dalam sekejap dapat beralih dari mesin pencari komersial,  ke situs jejaring sosial, wiki, daftar link ke situs terpilih  dan jasa elektronik yang disediakan oleh perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan akan informasi para pengguna.</p>
<p style="text-align:justify;">Tantangan yang dihadapi perpustakaan riset (<em>research libraries</em>) dalam lingkungan digital sungguh besar sekali.  Sebagai pemilik dan pengelola koleksi bahan tercetak  perpustakaan ini harus mengubah falsafah dasarnya.  Koleksi  buku yang besar tampaknya mulai semakin mubazir ketika pengguna berpaling dari perpustakaan sebagai suatu ruang fisik.  Perpustakaan riset terpaksa menyesuaikan diri dengan suatu realitas baru, yaitu keharusan berkompetisi untuk mendapatkan perhatian dari kelompok-kelompok pengguna, khususnya pengguna muda, yang menghendaki <em>content</em> yang dinamis, interaktif dan bisa diberi  sentuhan pribadi, <em>content </em>yang bisa bersaing dengan Facebook dan sejenisnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Implikasi pergeseran dari perpustakaan sebagai ruang fisik ke perpustakaan sebagai lingkungan digital virtual  amat besar dan luas, serta berpotensi mengacau-balaukan segala-gala.   Pengguna perpustakaan menuntut akses 24/7,  jawaban yang muncul dengan segera, dan semakin lama mencari &#8216;jawaban&#8217; alih-alih suatu format seperti monograf atau artikel jurnal.  Maka mereka  <em>scan, flick and &#8216;power browse&#8217;</em> dan sekaligus mengembangkan bentuk-bentuk membaca <em>online </em>yang baru, yang belum sepenuhnya dikenal dan dimengerti.</p>
<p style="text-align:justify;">Perubahan pada perilaku pencarian informasi akibat pilihan-pilihan digital, akses tanpa batas waktu (24/7), disintermediasi (hilangnya perantara), dan mesin pencari yang hebat, bukan saja  terlihat pada para mahasiswa. Perubahan yang sama telah terjadi pada guru besar, dosen, dan praktisi.  Semuanya menunjukkan perilaku yang sama.</p>
<p style="text-align:justify;">Perpustakaan riset juga harus belajar bagaimana mengelola dengan baik suatu dunia sumber informasi yang berubah terus, yang mencakup  bahan berupa publikasi formal, publikasi pribadi dan bahan yang tidak dipublikasikan, model bisnis dan lisensi baru, baik yang berformat kertas maupun digital.  Tantangan ini mahabesar.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Bagaimana perilaku pengguna di perpustakaan virtual sekarang?<br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Para pustakawan merasa cemas, dan ini tidaklah mengherankan.  Dunia kini adalah dunia informasi digital yang ditandai oleh:  pilihan yang luar biasa banyaknya, akses mudah,  tersedia  sarana yang mudah digunakan. Peran tradisional pustakawan sebagai perantara (<em>intermediaries</em>) yang membantu pengguna menggunakan sistem perpustakaan yang besar dan kompleks, mendapat ancaman dari  jasa layanan seperti Google, yang tampaknya menawarkan pilihan informasi yang tak terbatas dan tidak melibatkan perpustakaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebetulnya, perpustakaan riset menyediakan aneka ragam <em>content</em> yang sangat bagus dan bermanfaat bagi para pengguna, tapi sayangnya <em>content</em> ini harus diakses lewat sistem-sistem yang tidak begitu mudah dan intuitif  seperti mesin pencari.  Jadi pustakawan harus berupaya lebih memahami bagaimana orang sesungguhnya berperilaku dalam lingkungan perpustakaan virtual dan menggunakan <em>content</em> yang mahal  itu.  Tanpa upaya ini, ada bahaya bahwa pustakawan (dan profesi pustakawan) akan  lenyap.</p>
<p style="text-align:justify;">Penelitian paling mutakhir dari CIBER menunjukkan bahwa mungkin sekali <em>e-books</em> akan menjadi kisah sukses berikut.  Permintaan bisa spektakuler sebab populasi siswa sangat besar, dan mereka lapar akan <em>content y</em>ang sudah disarikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Semua bukti yang telah ada menunjukkan bahwa orang berperilaku berbeda-beda ketika menggunakan sumber-sumber informasi elektronik.  Ini diketahui karena perilaku mereka terekam dengan sangat mendetil  dalam bentuk rekaman jejak di komputer (<em>computer log trails</em>).  CIBER sudah lebih dari lima tahun mempelajari bukti digital yang ditinggalkan jutaan ilmuwan ketika mereka menelusur pangkalan data elektronik, koleksi buku elektronik dan <em>research gateways</em>.  Apa yang ditemukan oleh CIBER  sangat besar relevansinya bagi pustakawan.</p>
<p style="text-align:justify;">Secara umum, bentuk perilaku pencarian informasi yang baru ini dapat dikatakan mempunyai ciri berikut:  horisontal, meloncat-loncat, mengecek cepat, melihat.  Pengguna tidak setia, beraneka ragam dan sulit  diprediksi, bisa gonta-ganti mendadak. Jelas sekali bahwa perilaku macam ini menjadi tantangan besar untuk perpustakaan  yang masih berpegang pada  paradigma  <em>hardcopy </em> (buku, bahan cetak lain, berbagai informasi rekam berwujud fisik).  Perpustakaan harus lebih giat memonitor perilaku pencarian informasi  para pengguna  dengan cara yang tepat, agar bisa menyusun respons yang sesuai.</p>
<p style="text-align:justify;">Ciri utama perilaku pencarian informasi di perpustakaan virtual adalah:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pencarian informasi secara horisontal</strong>.  Ini adalah semacam kegiatan &#8216;<em>skimming</em>&#8216;, melihat-lihat cepat.  Hanya satu dua halaman dari suatu situs akademik dilihat, lalu loncat keluar, meninggalkan situs, dan mungkin tidak pernah kembali lagi. Angka-angka  cukup berbicara:  Sekitar 60% pengguna jurnal elektronik tidak melihat lebih dari 3 halaman, dan mayoritas (hingga 65%) tidak pernah kembali.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Navigasi</strong>.  Pengunjung perpustakaan virtual  menghabiskan banyak waktu cuma untuk cari tahu bagaimana mencari.  Waktu yang habis hanya untuk bernavigasi,  sama dengan waktu yang dihabiskan untuk melihat apa yang kemudian ditemukan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Melihat saja.</strong> Rata-rata waktu yang dihabiskan pengguna untuk melihat situs e-book dan  e-journal sangat singkat.  Lazimnya empat dan delapan menit masing-masing.  Jelas sekali pengguna yang <em>online</em> tidak membaca  dalam arti tradisional.  Ada tanda-tanda bahwa &#8216;membaca&#8217; model baru sedang muncul.  Pengguna melakukan <em>browsing </em> horisontal dengan tujuan mendapat hasil secepat mungkin, yakni dengan melihat judul, halaman isi dan abstrak.  Bisa dikatakan bahwa mereka seakan-akan aktif <em>online </em>karena mau menghindar dari keharusan membaca dalam arti tradisional.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Rajin menyimpan</strong>.  Pengguna dari kalangan akademik mempunyai naluri konsumen yang tinggi.  Penelitian menunjukkan bahwa bagaikan <em>squirrel</em> (sejenis bajing yang selalu sibuk mengumpulkan kacang dan biji-bijian) mereka rajin mengumpulkan dan menyimpan informasi dalam bentuk unduhan (<em>downloads</em>), khususnya jika ada tawaran gratis. Tapi tidak ada bukti nyata sejauh mana  unduhan itu memang <em>dibaca</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Aneka ragam pencari informasi</strong>. Analisis rekaman kegiatan pengguna yang sedang <em>online</em> mengungkapkan bahwa pengguna dan perilakunya  sangat beragam.  Variabelnya antara lain: lokasi geografis, gender, jenis universitas, status.  Tidak ada satu model yang pas untuk  semua orang.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pencari informasi melakukan verifikasi</strong>.  Pengguna sendiri mengevaluasi  otoritas dan kredibilitas  dalam waktu beberapa detik dengan  cari-cari disana-sini  dan cek ulang dengan melihat situs berbeda-beda dan mengandalkan nama favorit (misalnya Google)</p>
<p style="text-align:justify;">Tingkat keyakinan:  <strong>Sangat tinggi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">(Di mana relevan, team peneliti memberi catatan yang menunjukkan tingkat keyakinan atau <em>level of confidence</em> mereka terhadap temuan studi, berdasarkan evaluasi literatur dan bukti-bukti lain)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pustakawan2009.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pustakawan2009.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pustakawan2009.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pustakawan2009.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pustakawan2009.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pustakawan2009.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pustakawan2009.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pustakawan2009.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pustakawan2009.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pustakawan2009.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pustakawan2009.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pustakawan2009.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pustakawan2009.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pustakawan2009.wordpress.com/69/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakawan2009.wordpress.com&amp;blog=6350334&amp;post=69&amp;subd=pustakawan2009&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustakawan2009.wordpress.com/2009/03/09/perilaku-informasi-peneliti-masa-depan-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">irma1411</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anda membaca atau membaca?</title>
		<link>http://pustakawan2009.wordpress.com/2009/02/24/anda-membaca-atau-membaca/</link>
		<comments>http://pustakawan2009.wordpress.com/2009/02/24/anda-membaca-atau-membaca/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Feb 2009 01:56:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irma1411</dc:creator>
				<category><![CDATA[Menjadi bodoh berkat Internet?]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustakawan2009.wordpress.com/2009/02/24/anda-membaca-atau-membaca/</guid>
		<description><![CDATA[Pecandu internet harus waspada sebab lambat laun mereka akan menjadi bodoh. Begitulah kira-kira peringatan Nicholas Carr dalam tulisan &#8220;Is Google making us stupid?&#8221; Segera setelah tulisan itu dipublikasikan banyak yang memberi reaksi, baik dalam bentuk artikel di media koran dan jurnal, maupun dalam berbagai blog. Ada yang berpendapat bahwa pertanyaan itu harus dijawab dengan &#8220;YES!!!&#8221; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakawan2009.wordpress.com&amp;blog=6350334&amp;post=64&amp;subd=pustakawan2009&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-left:36pt;"><em>Pecandu internet harus waspada sebab lambat laun mereka akan menjadi bodoh.  Begitulah kira-kira peringatan Nicholas Carr dalam tulisan &#8220;Is Google making us stupid?&#8221; Segera setelah tulisan itu dipublikasikan banyak  yang memberi reaksi, baik dalam bentuk artikel di media koran dan jurnal, maupun dalam berbagai blog.  Ada yang berpendapat bahwa pertanyaan itu harus dijawab dengan &#8220;YES!!!&#8221;  atau &#8220;YA!!!&#8221;  yang tegas. Namun, ada pula respons yang lebih bernuansa. Maksudnya, yang tidak ekstrem setuju, tidak pula menolak bulat-bulat, jadi mencoba tidak melihatnya secara hitam putih.  Salah satu di antaranya  adalah tulisan Motoko Rich,   &#8220;Literacy Debate: Online, R U Really Reading?&#8221;  Artikel ini merupakan artikel pertama dari seri&#8221; The Future of Reading&#8221; di surat kabar The New York Times yang membahas bagaimana Internet dan pengaruh teknologi dan sosial lain sedang mengubah cara kita membaca.<br />
</em></p>
<p style="margin-left:36pt;"><em>Motoko Rich menulis tentang perdebatan hangat yang sedang berlangsung tentang membaca di era digital.  Debat ini melibatkan pembuat kebijaksanaan bidang pendidikan (educational policy makers), pakar  membaca (reading experts) di berbagai penjuru dunia, dan organisasi seperti National Council of Teachers of English dan International Reading Association.  Kecemasan dipicu oleh kenyataan bahwa nilai atau score para remaja untuk tes standar untuk membaca telah menurun, atau tetap sama saja, maksudnya tidak beranjak naik.  Biang keladinya?  Internet.  Waktu berjam-jam yang dihabiskan di Internet adalah musuh membaca.  Internet mengurangi ketrampilan membaca, merusak kemampuan berkonsentrasi, menghancurkan suatu budaya bersama yang amat berharga yang hanya bisa eksis lewat kegiatan membaca buku.<br />
</em></p>
<p style="margin-left:36pt;"><em>Ada yang beda pendapat, yang melihat sisi positif.  Internet, demikian kata mereka, telah menciptakan sejenis ketrampilan membaca yang baru, yang tidak boleh diremehkan oleh sekolah dan masyarakat, sebab bermanfaat.  Setidaknya lebih bermanfaat daripada nonton televisi yang membuat kita pasif.  Internet, atau lebih tepat Web, bisa mendorong seseorang untuk membaca dan menulis.  Kata para pakar literacy tertentu:  &#8220;… spending time on the Web, whether it is looking up something on Google or even britneyspears.org, entails some engagement with text.&#8221;<br />
</em></p>
<p style="margin-left:36pt;"><em>Dalam <a href="http://www.nytimes.com/2008/07/27/books/27reading.html?_r=1&amp;scp=1&amp;sq=online%20really%20reading&amp;st=cse">&#8220;Literacy Debate: Online, R U Really Reading?&#8221; </a>pengalaman dan pandangan berbagai kubu dipaparkan dengan menarik.  Bukan saja para pakar yang bicara, tetapi justru juga para remaja pecandu internet, antara lain Nadia Konyk (yang ditampilkan sebagai remaja tipikal), Zachary Sims (remaja yang gemar membaca buku),  Hunter Gaudet (penderita dyslexia).<span id="more-64"></span><br />
</em></p>
<p>Inilah <a href="http://www.nytimes.com/2008/07/27/books/27reading.html?_r=1&amp;scp=1&amp;sq=online%20really%20reading&amp;st=cse">artikel Motoko Rich. </a></p>
<p>Nadia Konyk, remaja berusia 15 tahun, bukan pencinta buku. Seperti banyak remaja lain ia pecandu internet.  Ia sering menghabiskan enam jam sehari di depan komputer di tempat tinggalnya di suatu daerah pinggiran kota Cleveland.  Ia membaca e-mailnya dan menjelajahi <em>myyearbook.com</em>, suatu situs jejaring sosial (<em>social networking site</em>), membaca pesan-pesan atau membuat posting berisi <em>update </em>tentang <em>mood</em>-nya. Ia mencari video musik di <em>YouTube</em>, <em>log-on</em> ke <em>Gaia Online</em>, suatu situs <em>role-playing </em>di mana anggota situs menciptakan identitas alternatif sebagai karakter kartun yang lucu dan imut-imut.  Tapi sebagian besar waktunya dihabiskannya di <em>quizilla.com</em> atau <em>fanfiction.net</em>, membaca dan mengomentari cerita-cerita yang dikarang oleh pengguna lain berdasarkan buku, show tv atau film. Ibunya, Deborah Konyk,  lebih suka bila Nadia, yang mendapat nilai A dan B di sekolah, sekali-kali membaca buku.  Ia sudah membawa pulang buku dari perpustakaan untuk Nadia, namun Nadia jarang tertarik.  Maka, saat ini Ms Konyk sudah merasa senang jika Nadia membaca, apa pun bentuknya.</p>
<p>Nadia dan anak remaja  seperti dia sedang menjadi inti dari debat seru tentang apa yang dimaksud dengan membaca di era digital.  Yang berdebat adalah pembuat kebijaksanaan pendidikan dan pakar membaca di berbagai penjuru dunia, dan dalam organisasi seperti National Council of Teachers of English dan International Reading Association.</p>
<p>Skor para remaja pada tes membaca standar ternyata  turun atau stagnan.  Ada yang berargumentasi bahwa musuh membaca adalah Internet.  Para remaja bisa menghabiskan waktu berjam-jam di internet.  Dan inilah mengurangi literasi, merusak kemampuan memfokuskan perhatian dan menghancurkan suatu kebudayaan milik  bersama yang hanya bisa eksis  lewat kegiatan  membaca buku.</p>
<p>Tapi ada fihak lain yang mengatakan bahwa Internet sudah menciptakan suatu jenis atau cara membaca yang baru, yang tidak boleh dianggap remeh oleh sekolah dan masyarakat.  Web mendorong remaja seperti Nadia untuk membaca dan menulis.  Jika web tidak menimbulkan dorongan ini, ia mungkin cuma akan nonton televisi di waktu luangnya.</p>
<p>Bahkan pembaca buku yang piawai  seperti Zachary Sims, 18 tahun, dari kota  Old Greenwich di negara bagian Connecticut, mendambakan kesempatan  untuk dengan cepat menemukan  pandangan-pandangan berbeda mengenai subyek tertentu dan bercakap-cakap dengan orang lain online.  Anak-anak tertentu, yang menderita dyslexia atau kesulitan belajar lain seperti Hunter Gaudet, 16, dari Somers, Connecticut , merasa lebih nyaman menelusur dan membaca online.</p>
<p>Sejak televisi ada, ada yang mengingatkan bahwa media elektronik akan menghancurkan ketrampilan membaca.  Yang beda sekarang, kata beberapa pakar lain, ialah bahwa menghabiskan waktu di Web, misalnya selagi  mencari sesuatu  di Google atau bahkan britneyspears.org, melibatkan interaksi dengan teks.</p>
<p><span style="font-size:12pt;"><strong>Menentukan sasaran<br />
</strong></span></p>
<p>Mereka yang percaya akan potensi Web tidak menyangkal nilai buku.  Tapi mereka berargumentasi bahwa tidak realistis untuk mengharapkan semua anak membaca buku seperti  <em>To kill a Mockingbird</em> atau  <em>Pride and Prejudice</em> untuk kesenangan.  Dan mereka yang biasanya cuma menatap layar TV atau pencet-pencet tombol saat bermain game,  ketika ber-Internet setidak-tidaknya mendapat pengalaman membaca.  Bahkan, beberapa pakar literasi berkata bahwa ketrampilan membaca online akan menempatkan  anak di posisi yang lebih baik bila mereka mulai mencari pekerjaan abad digital.  Beberapa  pencinta Web yang fanatik  mengatakan bahwa ketrampilan yang mestinya diuji  bukan  hanya kemampuan membaca dan memahami bahan tercetak, tetapi juga ketrampilan menggunakan Internet.  Mulai tahun yang akan datang beberapa negara akan berpartisipasi dalam penilaian literasi digital internasional, namun Amerika Serikat untuk sementara belum.</p>
<p>Jelas, membaca bahan tercetak dan membaca di Internet berbeda.  Di kertas, teks punya suatu awal, tengah, dan akhir yang sudah ditetapkan sebelumnya, dan pembaca sepanjang suatu jangka waktu tertentu fokus pada visi satu orang. Di Internet, pembaca meluncur di <em>cyberspace</em> sesuka hati dan sesungguhnya membuat sendiri awal, tengah dan akhir.</p>
<p>Anak muda, menurut Rand J. Spiro, professor psikologi pendidikan di Michigan State University yang mempelajari kebiasaan membaca di Internet, beda dengan orang yang lebih tua,  tidak begitu terganggu oleh bacaan yang tidak <em>linear</em> .  Menurutnya ini baik sekali karena dunia tidak <em>linea</em>r dan dunia tidak tersekat menjadi bagian-bagian atau bab-bab terpisah.</p>
<p>Penganut pandangan tradisional mengingatkan bahwa membaca digital (<em>digital reading</em>) dilihat dari sudut pandang bobot intelektual sama dengan  kalori kosong.  Sering, begitu argumen mereka, penulis di Internet menggunakan kosa kata  misterius, rahasia, yang menjengkelkan orang tua dan guru.  Ber-zigzag di antara  kata-kata, gambar, video, suara, lebih memecah belah perhatian pembaca daripada menguatkannya.  Dan banyak anak muda bila sedang ber-Internet terutama bermain game atau mengirim pesan singkat.  Ini semuanya aktivitas yang hampir tidak memerlukan kemampuan membaca.</p>
<p>Musim gugur  lalu National Endowment for the Arts (N.E.A.) mengeluarkan suatu laporan yang tidak menggembirakan.  Laporan ini menghubungkan score membaca yang datar atau menurun di antara  para remaja dengan anjloknya proporsi remaja yang mengatakan bahwa mereka membaca untuk kesenangan.  Menurut data Department of Education yang dikutip dalam laporan itu, sedikit di atas seperlima dari kelompok remaja usia 17 tahun mengatakan bahwa mereka hampir setiap hari membaca untuk kesenangan pada tahun 2004, jadi turun dari hampir sepertiga pada tahun 1984.  Sembilanbelas persen dari remaja usia 17 tahun berkata bahwa mereka tidak pernah atau hampir tidak pernah membaca untuk kesenangan pada tahun 2004, naik dari 9 persen pada tahun 1984.  (Tidak jelas apakah mereka menganggap apa yang mereka lakukan di Internet sebagai &#8220;membaca&#8221;)</p>
<p>&#8220;Apapun manfaat dari media elektronik baru,&#8221; kata Dana Gioia, ketua N.E.A., &#8220;manfaat ini tidak menjadi pengganti yang cukup untuk perkembangan intelektual dan individual yang dipicu dan didukung seterusnya oleh banyak membaca.&#8221;</p>
<p>Anak-anak jelas menghabiskan lebih banyak waktu di Internet.  Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Kaiser Family Foundation terhadap 2.032 anak dan remaja usia 8 sampai 18,  ditemukan bahwa hampir separuh dari mereka menggunakan Internet setiap hari pada tahun 2004.  Sedangkan pada tahun 1999 di bawah seperempatnya.  Rata-rata anak-anak ini <em>online</em> satu jam dan 41 menit, sedangkan pada tahun 1999 hanya 46 menit.</p>
<p>Persoalan bagaimana menakar bobot  berbagai jenis membaca amat rumit sebab alasan mengapa seseorang membaca bermacam-macam.  Ada tingkatan membaca yang perlu untuk kehidupan sehari-hari – untuk mengikuti instruksi dalam suatu manual, atau untuk menganalisa suatu kontrak kredit rumah.  Dan ada pula membaca pada level yang lebih canggih yang membuka pintu ke pendidikan  dan profesi elit. Dan, tentu saja, orang membaca untuk hiburan, dan juga untuk kepuasan intelektual atau emosional.</p>
<p>Mungkin tujuan terakhir inilah yang paling ditekankan oleh para pencinta dan pembela buku.</p>
<p>&#8220;<em>Learning is not to be found on a printout</em>&#8221;  kata David McCullough, penulis biografi pemenang Pulitzer Prize, dalam suatu pidato wisuda di Boston College bulan Mei.  Pembelajaran tidak terjadi dengan sekedar mengetuk-ketuk ujung jari, tidak mungkin semudah itu.  Pembelajaran terutama didapat dari buku, khususnya buku bermutu.</p>
<p><span style="font-size:12pt;"><strong>Apa yang terbaik bagi Nadia?<br />
</strong></span></p>
<p>Debora Konyk selalu yakin bahwa  Nadia dan adiknya Yashca (8), perlu membaca buku.  Ia dengan teratur membacakan buku untuk mereka dan mengajak mereka ke <em>story hour</em> di perpustakaan. &#8220;Membaca membuka pintu ke tempat-tempat yang mungkin sekali tidak pernah akan kamu kunjungi, ke budaya, dunia, dan masyarakatnya,&#8221; kata Ms Konyk.</p>
<p>Ms Konyk, yang mulai bekerja paruh waktu di suatu toko satu setengah tahun yang lalu, berkata bahwa ia sendiri tidak punya banyak waktu untuk membaca buku.  Di rumah mereka cuma sedikit buku. Tetapi setelah Yascha lahir, Ms Konyk membacakan buku Harry Potter pada Nadia saat si bayi sedang tidur.  Dan ia teratur membawa pulang judul-judul baru dari perpustakaan.</p>
<p>Tapi semua upaya ini tidak membuat Nadia gemar membaca.  Ia malahan terobsesi dengan kartun anime Jepang di televisi dan komik seperti &#8220;Sailor Moon&#8221;. Lalu, ketika ia di kelas enam, keluarga Konyk membeli komputer pertama mereka.  Ketika seorang teman memperkenalkan fanfiction.net pada Nadia, ia mematikan televisi dan mulai membaca online. Sekarang ia sering membaca cerita yang sepanjang 45 halaman Web.  Banyak cerita yang dibacanya punya plot yang kurang nyambung,  ejaan dan tata bahasa amburadul.  Nadia berkata ia lebih suka membaca cerita online karena di sana dia bisa menambah tokoh bikinan sendiri dan memelintir ceritanya sesuai keinginan sendiri.  Ia juga menulis cerita.  Ia mem-post cerita berjudul &#8220;Dieing Isn&#8217;t Always Bad&#8221;, tentang seorang gadis yang hidup kembali sebagai mahluk setengah kucing, setengah manusia, di <em>fanfiction.net</em> dan <em>quizilla.com</em>. Ia ingin studi bahasa Inggris di perguruan tinggi dan  berharap buku karangannya kelak diterbitkan.  Ia berpendapat bahwa kurang banyak membaca buku tidak menjadi masalah, sebab tidak ada yang bilang bahwa untuk diterima di perguruan tinggi seseorang harus membaca lebih banyak buku.</p>
<p>Argumen paling sederhana mengapa anak harus baca di waktu senggang ialah bahwa itu akan membuat mereka pembaca yang lebih baik.  Menurut statistik Amerika Serikat, siswa yang mengatakan bahwa mereka membaca sekali sehari untuk kesenangan mendapat skor yang lebih tinggi pada tes membaca dibandingkan siswa yang tidak pernah membaca untuk kesenangan.</p>
<p>Ketrampilan membaca juga dihargai oleh para majikan.  Suatu survai tahun 2006 oleh suatu badan yang melakukan riset untuk pengelola perusahaan  menunjukkan bahwa hampir 90% dari mereka menilai &#8220;reading comprehension&#8221; sebagai &#8220;very important&#8221; bagi pekerja pada tingkat sarjana.  Statistik Department of Education (AS) juga menunjukkan bahwa mereka yang  mendapat skor lebih tinggi untuk tes membaca, juga cenderung mendapat penghasilan yang lebih tinggi.</p>
<p>Kalangan yang bersikap kritis terhadap membaca di Internet mengatakan bahwa mereka tidak melihat bukti bahwa peningkatan kegiatan di Web mengakibatkan peningkatan kemampuan membaca. &#8220;Yang sedang hilang di negeri ini, dan sangat mungkin di seluruh dunia, adalah perhatian yang linear dan terpusat yang bisa berkembang berkat  proses membaca.  Saya akan percaya pada mereka yang mengatakan bahwa Internet mengembangkan kemampuan membaca andaikan saya tidak melihat kemerosotan universal pada hampir semua hasil tes kemampuan membaca,&#8221; begitulah ucap Mr. Gioia dari N.E.A.</p>
<p>Nicolas Carr menyuarakan hal yang sama dalam &#8220;Is Google Making Us Stupid?&#8221; dalam The Atlantic.  Sembari mengingatkan bahwa Web sedang mengubah cara dia – dan orang lain – berpikir, ia tegaskan bahwa dampak Internet lebih mendalam daripada cuma penurunan skor masa remaja.  &#8220;Apa yang rupanya dilakukan  Net adalah penggerogotan kapasitas saya untuk berkonsentrasi dan berkontemplasi,&#8221; tulisnya, sambil mengakui bahwa baginya membaca buku tebal sekarang menjadi hal sulit.</p>
<p>Spesialis literasi (<em>literacy specialists</em>) baru mulai menyelidiki bagaimana membaca di Internet mempengaruhi ketrampilan membaca.  Suatu kajian terhadap lebih dari 700 anak Hispanic dan hitam kelas 6 sampai 10 dari keluarga berpenghasilan rendah di kota Detroit menunjukkan bahwa siswa ini membaca lebih banyak di Web daripada dalam medium lain, meskipun mereka juga baca buku.  Satu-satunya tipe membaca yang ada kaitan dengan prestasi akademik yang lebih tinggi adalah banyak  membaca novel.  Kebiasaan ini bisa memprediksikan nilai yang lebih baik untuk bahasa Inggris dan indeks prestasi keseluruhan yang lebih tinggi.</p>
<p>Elizabeth Birr Moje, seorang professor  University of Michigan yang memimpin studi tersebut, berkata bahwa membaca novel adalah sesuatu yang sudah diwajibkan  di sekolah.  Tapi di Internet, katanya, siswa mengembangkan ketrampilan membaca yang tidak diajarkan maupun dievaluasi di sekolah.</p>
<p>Suatu studi awal menunjukkan bahwa bila siswa keluarga berpenghasilan rendah diberi akses Internet di rumah, tampaknya hasil tes membaca standar dan nilai mata pelajaran lain meningkat. &#8220;Ini adalah anak-anak yang tidak akan membaca di waktu senggang mereka&#8221; kata Linda A. Jackson, seorang professor psikologi di Michigan State -yang memimpin penelitian ini. &#8220;Sesudah mereka ber- Internet, mereka membaca.&#8221;</p>
<p>Studi neurologis menunjukkan bahwa belajar membaca mengubah <em>circuit</em> jaringan saraf otak. Para ilmuwan menduga bahwa membaca di Internet juga bisa mempengaruhi jaringan saraf, dan pengaruh ini beda dari pengaruh dari membaca buku.</p>
<p>Tetapi, apakah membaca di Internet membawa perubahan baik bagi otak, perubahan yang memberi manfaat?</p>
<p>Beberapa ilmuwan khawatir bahwa pengalaman berinternet akan menghambat berkembangnya ketrampilan penting pembaca yang baru.  Membaca buku, kemudian merenungkan isinya, menarik kesimpulan dan memprosesnya dengan daya imajinasi lebih memperkaya secara kognitif daripada mendapatkan informasi singkat dan sepotong-potong lewat Web.</p>
<p><span style="font-size:12pt;"><strong>Tapi ini juga membaca<br />
</strong></span></p>
<p>Pembela Web  percaya bahwa pembaca Web yang ulet  kelak bisa mengungguli mereka yang mengandalkan buku.  Membaca lima situs web, satu artikel editorial dan satu atau dua post di blog menurut para pakar, bisa lebih menambah pengetahuan daripada membaca satu buku.</p>
<p>Perlu waktu yang lama untuk membaca buku 400 halaman, kata Mr Spiro dari  Michigan State University.  Dalam waktu yang hanya sepersepuluhnya,  Internet memungkinkan seorang membaca lebih banyak tentang topik tertentu ditinjau dari sudut pandang berbeda-beda.  Zachary Sims, remaja dari Old Greenwich, Connecticut, sering bergadang hingga jam 2 atau 3 pagi membaca artikel tentang teknologi atau politik – bidang yang dia gandrungi saat ini – sampai di 100 situs web.</p>
<p>&#8220;Di Internet, kita bisa mendengar pendapat banyak orang,&#8221; kata Zachary, yang akan kuliah di Columbia University, perguruan tinggi yang bergengsi, musim gugur ini.  &#8220;Mereka mungkin bukan akademisi dengan gelar dari universitas terkemuka, dan diantaranya mungkin ada yang punya teori konspirasi atau teori aneh lain, tetapi itu tak apa-apa jika kita kritis dan berhati-hati.  Meskipun ia juga senang membaca buku, Zachary haus akan interaksi dengan pembaca lain di Internet.  Web, menurutnya adalah lebih seperti suatu percakapan, sedangkan buku sesuatu yang satu arah saja.</p>
<p>Ketrampilan yang telah dikembangkan Zachary – menemukan informasi dengan cepat dan akurat, memverifikasi dan membandingkan hasil yang didapat di berbagai situs – mungkin sepertinya sesuatu yang biasa saja bagi pengguna  berat Web, tapi ketrampilan itu menuntut kemampuan kognitif cukup tinggi.</p>
<p>Pembaca Web sering kurang mampu menilai apakah informasi tertentu bisa dipercayai.  Dalam suatu studi, Donald J. Leu, yang meneliti <em>literacy </em>dan teknologi di University of Connecticut,   meminta 48 mahasiswa untuk melihat suatu situs web yang sengaja dibuat untuk melucu dan mengelabui  dan di sana mencari informasi tentang suatu mahluk yang ada dalam mitos dan  dikenal sebagai &#8220;Pacific Northwest tree octopus&#8221;.  Hampir 90% dari mahasiswa ini tidak  menangkap leluconnya dan menganggap situs itu situs bonafid.</p>
<p>Beberapa pakar literasi berpendapat bahwa &#8216;membaca&#8217; harus didefinisi ulang.  Kata mereka, menafsirkan video atau gambar, mungkin ketrampilan yang sama pentingnya dengan menganalisis suatu novel atau sajak.</p>
<p>Anak-anak menggunakan bunyi dan gambar sehingga alam pikiran mereka tidak lagi harus berorientasi pada bahasa, kata Donna E. Alvermann, seorang professor pendidikan bahasa dan literasi di University of Georgia.  Buku bukannya tersingkir, tetapi buku cuma merupakan salah satu cara untuk mengalami informasi di dunia hari ini.</p>
<p><span style="font-size:12pt;"><strong>Perjuangan seumur hidup<br />
</strong></span></p>
<p>Dalam kasus Hunter Gaudet, Internet membuatnya lebih nyaman dengan cara membaca yang baru. Seumur hidupnya Hunter berjuang untuk bisa membaca.  Setelah diketahui ia menderita dyslexia ketika di kelas dua, ia ditempatkan di kelas pendidikan khusus dan seorang tutor datang ke rumahnya tiga jam seminggu.  Ketika ia masuk sekolah menengah, ia berhenti dengan kelas pendidikan khusus, tetapi ia hanya membaca buku apabila dipaksa, katanya.</p>
<p>Di buku, ada banyak detil yang tidak betul-betul perlu, kata Hunter, sedangkan online hanya memberikan apa yang anda butuhkan, tidak lebih dan tidak kurang.</p>
<p>Ketika mencari informasi tentang seorang hakim agung abad ke-19, Robert B. Taney, untuk suatu tugas sekolah, ia mengetik nama Taney di Google dan men-scan entri di Wikipedia dan beberapa situs biografi lain.  Ketimbang membaca satu halaman keseluruhannya, ia mengetik kata carian seperti &#8220;college&#8221; untuk mendapatkan alma mater Taney.  Begitulah ia menghimpun informasinya,  butir demi butir.</p>
<p>Pakar dengan spesialisasi kesulitan membaca mengatakan bahwa bagi pembaca dengan masalah ini, menelusur Web mungkin cara yang lebih baik untuk mengumpulkan informasi.  Jika membaca online selalu ada gambar atau lambang-lanbang grafis lain yang dapat membantu, kata Sally Shaywitz, penulis buku &#8220;Overcoming Dyslexia&#8221; dan professor di universitas Yale.  &#8220;Saya kira membaca di Web sebab itu lebih nyaman dan mudah, lebih cocok untuk seseorang yang bukan pembaca yang lancar.</p>
<p>Karen Gaudet, ibu Hunter, seorang manajer regional untuk jaringan toko retail, membaca 2 atau 3 buku bisnis dalam seminggu.  Ia berharap Hunter kelak akan mencintai buku.  Tetapi ia yakin bahwa Hunter memiliki ketrampilan membaca yang ia butuhkan untuk sukses.  &#8220;Tergantung arah perkembangan teknologi dan perkembangan dunia,&#8221; kata Karen, &#8220;ia akan berhasil.&#8221;</p>
<p>Ketika ia di kelas tujuh, Hunter termasuk salah satu dari 89 siswa yang berpartisipasi dalam  suatu studi yang membandingkan hasil tes membaca tradisional dengan tes membaca di Internet yang didesain secara khusus.   Hunter, yang pada tes tradisional berada di 10 persen paling rendah,  selama 12 minggu belajar bagaimana menggunakan Web untuk mata pelajaran sains sebelum ia ikut tes internet.  Tes internet ini terdiri atas 3 kelompok petunjuk yang menginstruksikan siswa mencari informasi online, menentukan situs mana yang dapat diandalkan, dan menjelaskan alasan mereka pilih situs tersebut. Hunter berada di top 25%.  Sepertiga dari peserta studi ini mendapat score dibawah rata-rata pada tes membaca tradisional, tetapi mendapat hasil yang baik pada tes Internet.</p>
<p><span style="font-size:12pt;"><strong>Debat mengenai testing<br />
</strong></span></p>
<p>Hingga kini, hanya sedikit tes berskala besar yang menilai ketrampilan memanfaatkan Web (<em>Web skills</em>). Badan Educational Testing Service, badan yang menyelenggarakan SAT (Scholastic Aptitude Test) telah mengembangkan suatu <em>digital literacy test</em> yang dikenal sebagai iSkills yang mengharuskan siswa memecahkan soal-soal dengan mencari informasi di Web.  Sejauh ini kira-kira 80 perguruan tinggi  dan segelintir sekolah menengah telah memberikan tes ini.</p>
<p>Tetapi menurut Stephen Denis, product manager ETS, dari lebih dari 20.000 mahasiswa yang telah mengerjakan tes iSkills sejak 2006, hanya 39 persen dari mahasiswa tingkat satu mencapai skor yang sudah mewakili &#8220;core functional levels&#8221; untuk Internet literacy.</p>
<p>Kini beberapa pakar literasi (<em>literacy experts</em>) menghendaki bahwa tes federal (= nasional, karena meliputi semua negara bagian AS) yang dikenal sebagai kartu rapor nasional, mencakup komponen membaca digital.  Sejauh ini kaum tradisional masih menang:  testing yang akan datang, yang akan menguji siswa kelas empat dan delapan pada tahun 2009, hanya akan menguji  <em>print reading comprehension</em>.</p>
<p>Mary Crovo dari National Assessment Governning Board, yang membuat kebijaksanaan untuk tes nasional, berkata bahwa beberapa anggota panitia yang menetapkan pedoman untuk tes membaca berpendapat bahwa banyak sekali siswa dari kalangan keluarga berpendapatan rendah dan siswa yang tinggal di daerah pedesaan mungkin tidak punya akses ke Internet dengan teratur.  Maka ini akan membuat pengukuran ketrampilan online bagi mereka tidak fair.</p>
<p>Yang lain berargumen bahwa membaca di Internet bukan sesuatu yang harus diuji – atau diajarkan.</p>
<p>&#8220;Tidak ada yang mengajar anak-anak bagaimana mengirim sms,&#8221; kata Carol Jago dari National Council of Teachers of English dan anggota dari panitia pembuat pedoman tes membaca. &#8220;Anak-anak pintar.  Kalau mereka ingin melakukan sesuatu, sekolah tidak perlu ikut campur.&#8221;</p>
<p>Michael L.Kamil, professor pendidikan di universitas Stanford yang sebagai ketua panitia pembuat pedoman tes membaca melobi agar komponen Internet diadakan, tidak setuju. Siswa, kelak harus memiliki kompetensi ber-Internet yang tinggi , katanya.  Tidak ada alasan untuk membuat mereka mencari-cari sendiri bagaimana menjadi kompeten sekali padahal kita bisa mengajarkannya pada mereka.</p>
<p>Amerika Serikat menganut kebijaksanaan berbeda dari beberapa negara lain.  Tahun depan, untuk pertama kali, OECD (Organization for Economic Cooperation and Development), yang mengadakan tes membaca, matematika, dan sains yang dikerjakan oleh  kelompok sampel siswa usia 15 tahun di lebih dari 50 negara, akan menambahkan komponen membaca elektronik (<em>electronic reading</em>). Amerika Serikat, antara lain, tidak akan berpartisipasi.  Seorang juru bicara dari Institute of Education Sciences, badan penelitian dari Department of Education, mengatakan bahwa suatu tes tambahan akan terlampau membebani sekolah-sekolah.</p>
<p>Bahkan mereka yang paling mengkhawatirkan lestarinya buku setuju bahwa anak-anak membutuhkan pengalaman membaca yang bervariasi.  &#8220;Itu bisa berupa membaca informal yang didapat dari  e-mail atau situs Web,&#8221;  kata Gail Ivey, professor di James Madison University yang spesialisasinya adalah  literasi remaja (<em>adolescent literacy</em>). &#8220;Saya pikir mereka membutuhkan semuanya.&#8221;</p>
<p>Pecandu Web kadang-kadang bisa hanyut terbawa oleh suatu buku.  Setelah Nadia membaca &#8220;Night&#8221;, memoar Elie Wiesel tentang Holocaust, di kelas Bahasa Inggrisnya, Ms Konyk, ibunya, bawa pulang memoar Holocaust lain, &#8220;I Have Lived a Thousand Years&#8221;, oleh Livia Bitton-Jackson.  Nadia sangat tersentuh oleh kisah-kisah kehidupan sehari-hari yang penuh kesengsaraan di kamp konsentrasi. Katanya: &#8220;<em>I was trying to imagine this and I was like, I can&#8217;t do this.  It was just so – wow</em>.&#8221;</p>
<p>Ms Konyk, yang ingin memanfaatkan momentum itu, membawa pulang buku lain, &#8220;Silverboy,&#8221; suatu novel fantasi.  Nadia cuma baca satu bab, lalu asyik lagi dengan  <em>fan fiction</em> di Internet.</p>
<p style="text-align:left;margin-left:36pt;"><span style="font-size:14pt;"><strong>= = =</strong></span></p>
<p style="text-align:left;margin-left:36pt;">
<p style="text-align:left;margin-left:36pt;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p style="text-align:left;margin-left:36pt;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="font-size:14pt;"><br />
</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pustakawan2009.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pustakawan2009.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pustakawan2009.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pustakawan2009.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pustakawan2009.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pustakawan2009.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pustakawan2009.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pustakawan2009.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pustakawan2009.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pustakawan2009.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pustakawan2009.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pustakawan2009.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pustakawan2009.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pustakawan2009.wordpress.com/64/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakawan2009.wordpress.com&amp;blog=6350334&amp;post=64&amp;subd=pustakawan2009&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustakawan2009.wordpress.com/2009/02/24/anda-membaca-atau-membaca/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">irma1411</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“Freedom” untuk membatasi kebebasan</title>
		<link>http://pustakawan2009.wordpress.com/2009/02/17/%e2%80%9cfreedom%e2%80%9d-untuk-membatasi-kebebasan/</link>
		<comments>http://pustakawan2009.wordpress.com/2009/02/17/%e2%80%9cfreedom%e2%80%9d-untuk-membatasi-kebebasan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Feb 2009 12:36:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irma1411</dc:creator>
				<category><![CDATA[Selingan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustakawan2009.wordpress.com/2009/02/17/%e2%80%9cfreedom%e2%80%9d-untuk-membatasi-kebebasan/</guid>
		<description><![CDATA[Seorang mahasiswa program S3 dari School of Information and Library Science University of North Carolina di Chapel Hill telah menciptakan suatu aplikasi yang dia beri nama &#8220;Freedom&#8221;. Fred Stutzman membuat aplikasi ini bagi mereka yang tidak mampu melawan daya tarik Internet. The Chronicle of Higher Education – The Wired Campus : Education – Technology news [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakawan2009.wordpress.com&amp;blog=6350334&amp;post=48&amp;subd=pustakawan2009&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang mahasiswa program S3 dari School of Information and Library Science University of North Carolina di Chapel Hill telah menciptakan suatu aplikasi yang dia beri nama &#8220;Freedom&#8221;.  Fred Stutzman membuat aplikasi ini bagi mereka yang tidak mampu melawan daya tarik Internet. <em>The Chronicle of Higher Education – The Wired Campus : Education – Technology news from around the Web </em> menulis tentang Fred dan aplikasinya dalam berita berjudul <a href="http://chronicle.com/wiredcampus/article/?id=3597">&#8220;Computer Program Wants to Free Scholars From Computer Distractions&#8221;</a>. Begini kisah Fred dan aplikasinya:</p>
<p>Fred Stutzman berpendapat bahwa para ilmuwan  harus dengan sukarela membatasi penggunaan Internet.  Itu memang tidak mudah, sebab seperti Fred  berkata pada  <em>The Chronicle</em>, &#8220;When there&#8217;s wireless everywhere, how do we really escape the Internet?&#8221;</p>
<p>Jalan keluar menurutnya, ialah untuk menyerahkan hak untuk berselancar di Web pada semacam robot yang bertindak sebagai bu guru yang mengawasi.  Freedom adalah aplikasi yang bisa me-nonaktifkan <em>network adapter</em> komputer untuk waktu tertentu, sehingga pemilik komputer tidak bisa ber-Internet ria.  Bisa sampai delapan jam lamanya, kalau itu memang dikehendaki.</p>
<p>Fred Stutzman menciptakan Freedom sebagai alat untuk peneliti dan penulis seperti dia sendiri,  yang seperti banyak pengguna Internet, juga sudah begitu kecanduan sehingga mereka harus menjauhkan diri dari Internet agar bisa berkonsentrasi pada pekerjaan mereka. Sebagai mahasiswa tingkat doktoral ia sangat akrab dengan gejala ini. Semua orang yang harus lama-lama menulis atau meneliti lewat Internet pasti mengalaminya.  Sebab sangat sulit untuk menarik garis tegas antara bekerja dan membuang-buang waktu.</p>
<p>Menurut Fred, kalau kita pakai  alat seperti Freedom, itu bukan karena kita kurang kuat, kurang mampu mengendalikan diri. Itu hanya akibat dari cepatnya teknologi informasi telah merasuk kehidupan modern. Kita belum siap untuk mengendalikan nafsu-nafsu kita sepenuhnya. Freedom adalah cara paksa yang keras untuk membuat orang berfokus. Seperti merebut kembali kendali yang sudah dikuasai komputer.</p>
<p>Dalam keadaan darurat pengguna bisa melumpuhkan Freedom dengan <em>rebooting</em>.  Tapi asumsinya ialah bahwa orang akan malas. Start lagi dan tunggu sampai komputer siap beroperasi lagi terasa repot, maka tidak jadi <em>reboot</em>.</p>
<p>Tertarik? Apa di antara anda ada yang membutuhkan kebebasan untuk membatasi kebebasan?</p>
<p>Aplikasi Fred adalah aplikasi <em>shareware</em>, jadi gratis.  Tapi donasi sukarela sangat diapresiasi, karena donasi akan dipakai untuk mengembangkan versi lebih baru.  Fred cerita ia sudah menerima 300 dollar sejak aplikasinya diperkenalkan setahun yang lalu. Lumayan juga.  Tapi dari <em>Comments </em>para pembaca berita ini ternyata bahwa Fred baru bikin versi untuk Mac, belum untuk Windows.  Ada juga <em>comment</em> dari seorang pembaca yang bilang ia  tidak mengerti mengapa media  seperti <em>The Chronicle</em> mau muat berita yang tidak penting dan kurang bermutu seperti kisah Fred dan Freedom.  Hm . . . . mungkin ada juga yang bertanya-tanya mengapa dimuat di blog ini?  Jawabannya:  (1) Blog ini bukan media serius, ternama, dan berkualitas tinggi seperti <em>The Chronicle</em>; (2) Berita ini dimasukkan di kategori &#8220;Selingan&#8221; yang memang bertujuan menyajikan cemilan ringan.  Yang ringan ini perlu supaya anda bisa tarik napas. Post berikut lebih bergizi, tapi sebab itu tidak bisa ditelan begitu saja seperti cemilan ini!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pustakawan2009.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pustakawan2009.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pustakawan2009.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pustakawan2009.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pustakawan2009.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pustakawan2009.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pustakawan2009.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pustakawan2009.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pustakawan2009.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pustakawan2009.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pustakawan2009.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pustakawan2009.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pustakawan2009.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pustakawan2009.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakawan2009.wordpress.com&amp;blog=6350334&amp;post=48&amp;subd=pustakawan2009&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustakawan2009.wordpress.com/2009/02/17/%e2%80%9cfreedom%e2%80%9d-untuk-membatasi-kebebasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">irma1411</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fenomena bentuk F di Web</title>
		<link>http://pustakawan2009.wordpress.com/2009/02/16/fenomena-bentuk-f-di-web/</link>
		<comments>http://pustakawan2009.wordpress.com/2009/02/16/fenomena-bentuk-f-di-web/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Feb 2009 08:46:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irma1411</dc:creator>
				<category><![CDATA[Selingan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustakawan2009.wordpress.com/2009/02/16/fenomena-bentuk-f-di-web/</guid>
		<description><![CDATA[Kata Nana (Comment on &#8220;Is Google making us stupid?&#8221;), &#8221; … saya sering searching informasi, bila ada yang relevan yang dibaca hanya judul dan 5 baris ke bawah selanjutnya saya simpan, ….&#8221; Gejala yang diamati Nana pada dirinya sendiri adalah variasi dari suatu gejala yang sudah menjadi begitu umum sehingga bahkan sudah diberi nama, yaitu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakawan2009.wordpress.com&amp;blog=6350334&amp;post=37&amp;subd=pustakawan2009&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10pt;">Kata Nana (Comment on &#8220;Is Google making us stupid?&#8221;), &#8221; … saya sering searching informasi, bila ada yang relevan yang dibaca hanya judul dan 5 baris ke bawah selanjutnya saya simpan, ….&#8221; Gejala yang diamati Nana pada dirinya sendiri adalah variasi dari suatu gejala yang sudah menjadi begitu umum sehingga bahkan sudah diberi nama, yaitu <em>F-shaped pattern</em>.  Kalau anda belum pernah mendeteksinya pada diri sendiri, cobalah kapan-kapan kalau berinternet amati perilaku anda sendiri selagi membaca di Web.  Niscaya anda akan sadar bahwa anda sering pakai teknik membaca yang berbentuk F.  Tentu saja tidak selalu.  Tergantung content halaman yang sedang dilihat-lihat, dikombinasikan dengan minat atau kepentingan khusus si pembaca pada saat tertentu.<br />
</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;">Jakob Nielsen&#8217;s Alertbox, 17 April 2006: <a href="http://www.useit.com/alertbox/reading_pattern.html"> <strong><em>F-Shaped Pattern For Reading Web Content</em></strong> </a> melaporkan  studi Nielson Norman Group yang mempelajari gerakan mata pengguna dan  merekam bagaimana 232 pengguna melihat –lihat ribuan halaman Web. <em>Eyetracking study</em> ini dilakukan dengan menggunakan kamera dan <em>infrared emittters</em>.  Ditemukan bahwa perilaku membaca para pengguna cukup konsisten meskipun halaman yang dilihat bermacam-macam.  Pola dominan adalah pola yang mirip bentuk  F: dua baris horisontal diikuti satu baris vertikal. Tiga komponennya kira-kira begini:<br />
</span></p>
<ol>
<li><span style="font-size:10pt;">Pengguna pertama-tama membaca dengan gerakan horisontal, biasanya di bagian isi (<em>content</em>) paling atas, jadi paragraf pertama, walaupun tidak selalu keseluruhannya.  Ini menjadi baris horisontal F yang atas.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;"> </span><span style="font-size:10pt;">Kemudian, mata pengguna turun sedikit ke bawah ke paragraf kedua dan membaca dengan gerakan horisontal lagi, tapi tidak begitu melebar seperti gerakan pertama.  Ini menjadi baris  horisontal F yang bawah.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;"> </span><span style="font-size:10pt;">Akhirnya pengguna men-scan isi yang sebelah kiri dengan menggunakan gerakan vertikal.  Ini membentuk batang atau baris vertikal dari F.</span></li>
<p><span style="font-size:10pt;">Tentu saja pola scanning pengguna tidak selalu terdiri atas tiga bagian persis seperti ini.  Kadang-kadang polanya lebih mirip E daripada F.  Atau kadang-kadang pengguna hanya baca horisontal di satu bagian, sehingga polanya jadi sperti L terbalik (palangnya di atas).  Tapi secara keseluruhan polanya biasanya seperti F, meskipun jarak antara baris atas dan bawah bisa beda-beda.<br />
</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;">Informasi (teks) yang berada disebelah kanan halaman web, menurut banyak pengamat perilaku membaca (<em>reading behaviour</em>) pengguna Web, boleh dikatakan diabaikan total. Temuan seperti ini tentu saja sangat penting bagi  <em>copywriter</em>.<br />
</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;">Nah, F yaitu <em>fast.</em> Begitulah pengguna membaca isi halaman Web.  Dalam beberapa detik mata bergerak secepat kilat melintasi kata-kata di situs web, memakai pola yang beda sekali dari yang dulu diajarkan di sekolah.  Atau yang sampai kini digunakan untuk membaca &#8220;beneran&#8221;. Maksudnya, baca buku tercetak.  Atau …… mungkinkah fenomena ini juga sudah menjalar ke membaca &#8220;beneran&#8221;? Jadi tidak ada membaca &#8220;beneran&#8221; lagi?  Ah, mengerikan …………..</span></ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pustakawan2009.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pustakawan2009.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pustakawan2009.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pustakawan2009.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pustakawan2009.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pustakawan2009.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pustakawan2009.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pustakawan2009.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pustakawan2009.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pustakawan2009.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pustakawan2009.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pustakawan2009.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pustakawan2009.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pustakawan2009.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakawan2009.wordpress.com&amp;blog=6350334&amp;post=37&amp;subd=pustakawan2009&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustakawan2009.wordpress.com/2009/02/16/fenomena-bentuk-f-di-web/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">irma1411</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Is Google making us stupid?</title>
		<link>http://pustakawan2009.wordpress.com/2009/02/01/is-google-making-us-stupid/</link>
		<comments>http://pustakawan2009.wordpress.com/2009/02/01/is-google-making-us-stupid/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Feb 2009 13:59:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irma1411</dc:creator>
				<category><![CDATA[Menjadi bodoh berkat Internet?]]></category>
		<category><![CDATA[Google]]></category>
		<category><![CDATA[Internet]]></category>
		<category><![CDATA[Reading]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustakawan2009.wordpress.com/2009/02/01/is-google-making-us-stupid/</guid>
		<description><![CDATA[What the Internet is doing to our brains By Nicholas Carr The Atlantic Online &#8211; July/August 2008 [Mohon baca dulu pengantar untuk kategori ini: Menjadi bodoh berkat Internet? (1)] Tulisan &#8220;Is Google making us stupid?&#8221;  selain berjudul provokatif, juga mulai dengan dramatis sekali:  suatu adegan menegangkan dari film   2001:  A Space Odyssey, film fiksi sains [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakawan2009.wordpress.com&amp;blog=6350334&amp;post=21&amp;subd=pustakawan2009&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3><em>What the Internet is doing to our brains</em></h3>
<p><em>By Nicholas Carr</em></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><a href="http://www.theatlantic.com/doc/200807/google">The Atlantic Online &#8211; July/August 2008</a><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="font-size:8pt;">[Mohon baca dulu pengantar untuk kategori ini: Menjadi bodoh berkat Internet? (1)]</span></p>
<p>Tulisan &#8220;Is Google making us stupid?&#8221;  selain berjudul provokatif, juga mulai dengan dramatis sekali:  suatu adegan menegangkan dari film   <em>2001:  A Space Odyssey, </em> film fiksi sains<em> </em>yang sangat terkenal dari Stanley Kubrick, buatan tahun 1968. Di samping kedua astronot Dave dan Frank,  tokoh yang sangat penting dalam film itu adalah HAL, suatu superkomputer, yang memiliki kecerdasan (<em>intelligence</em>)  mirip kecerdasan manusia<em>.</em> Dialah yang mengendalikan hampir semua kegiatan di <em>spaceship </em>Discovery One yang menuju planet Jupiter.  Ada beberapa kejadian dalam perjalanan itu yang mencurigakan karena bisa terjadi akibat HAL tidak berfungsi dengan baik (<em>malfunction</em>), atau lebih mengerikan, HAL mulai bertindak sesuai keinginannya sendiri (jadi bukan seperti mesin lagi!).  Dave, yang hampir celaka karena ulah HAL,  memutuskan untuk mencabut sambungan jaringan memori yang mengendalikan otak artifisial HAL.  HAL memohon agar Dave tidak melakukannya:  &#8220;Dave, stop.  Stop, will you? Stop, Dave.  Will you stop, Dave?&#8221;  Tapi Dave dengan tenang meneruskan proses pencabutan, dan HAL mengeluh dengan sedih:  &#8220;Dave, my mind is going&#8221; &#8230;. &#8220;I can feel it.  I can feel it.&#8221;</p>
<p>Itulah yang terjadi pada HAL.  Ia kehilangan otaknya, kemampuan berfikirnya, dan itulah yang menurut Carr juga sedang terjadi dengan dia sendiri, dia juga merasa bahwa otaknya tidak lagi berfungsi sebagai dulu:</p>
<blockquote><p>Saya merasakannya juga.  Selama beberapa tahun belakangan ini saya punya perasaan yang tidak enak bahwa ada seseorang, atau sesuatu, mengutak-atik otak saya, mengubah jaringan saraf, memprogram ulang memoriku.  Kemampuan berfikir saya, setahu saya, tidak sedang lenyap, tapi sedang berubah.  Saya tidak berfikir lagi seperti saya dulu berfikir.  Saya paling bisa merasakannya saat saya sedang membaca.  Dulu mudah sekali untuk tenggelam dalam keasyikan membaca buku atau artikel panjang.  Pikiran  saya hanyut dalam jalan cerita atau lika-liku suatu argumen, dan saya bisa selama berjam-jam dengan santai menjelajahi tulisan prosa yang panjang.  Itu sekarang jarang terjadi lagi.  Kini konsentrasi saya mulai buyar setelah dua atau tiga halaman.  Saya mulai gelisah, lupa jalan cerita, mulai cari-cari kesibukan lain. Saya merasa seakan-akan harus terus menerus menyeret pikiran saya, yang mau lari entah kemana, kembali ke teks bacaan.  Kegiatan membaca dengan penuh konsentrasi yang dulu merupakan sesuatu yang  bisa saya lakukan dengan begitu saja, sudah menjadi suatu perjuangan.</p>
<p><span id="more-21"></span></p></blockquote>
<p>Carr melanjutkan bahwa ia tahu apa yang sedang terjadi dan apa yang menjadi biang keladinya: Internet!  Dijelaskannya bahwa sudah lebih dari sepuluh tahun ia menghabiskan banyak waktu <em>online</em> untuk surfing, menelusur dan menulis.  Ia bersyukur karena berkat web pekerjaannya sebagai pengarang menjadi jauh lebih lancar.  Tak perlu lagi ia menghabiskan waktu berhari-hari di ruang majalah atau ruang baca perpustakaan.  Dalam hitungan menit informasi yang diperlukan bisa ditemukan. Dengan menelusur lewat Google, klik sana klik sini, kutipan yang tepat sudah ketemu.  Dan, kalau tidak bekerja pun ia asyik di Web:  menulis dan membaca e-mail, scanning tajuk-tajuk berita, baca posting di blog, nonton video, mendengar <em>podcast</em>, atau loncat dari satu link ke link lain.<!--more--></p>
<p>Carr mengakui: &#8220;Bagi saya, seperti bagi orang lain, internet sedang menjadi medium yang universal, suatu saluran bagi kebanyakan informasi yang mengalir lewat mata dan telinga saya masuk ke dalam otak saya.&#8221; Memang akses langsung ke koleksi sumber informasi yang begitu kaya  dan bervariasi amat menguntungkan. Tapi ada pula harga yang harus dibayar untuk itu! Saluran, atau media, bukanlah sesuatu yang sekedar menyalurkan informasi secara pasif.  Media menjadi saluran yang mensuplai bahan yang membuat kita berfikir, tetapi media sekaligus membentuk proses berfikir itu.  Carr merasa bahwa ia sudah mulai membayar harga yang mahal itu. Ia merasa bahwa internet lambat laun mengurangi kemampuannya untuk berkonsentrasi dan berkontemplasi. Otaknya sekarang ingin menyerap informasi dengan cara yang sama seperti cara informasi disebarkan di internet, yaitu sebagai suatu arus butir-butir kecil yang mengalir dengan cepat.  Dulu ia menyelam bagaikan seorang <em>scuba diver</em> di dalam lautan kata-kata, sedangkan sekarang ia berselancar di atas permukaan lautan  bagaikan seorang pemuda naik Jet Ski.</p>
<p>Teman dan kenalan Nicholas Carr mengalami gejala yang kira-kira sama.  Makin banyak mereka menggunakan web, makin besar kesulitan yang mereka alami ketika mau membaca tulisan yang panjang.  Susah untuk tetap fokus. Ada yang mengaku bahwa ia sudah berhenti membaca buku samasekali.  Padahal ia dulu studi sastra dan melahap buku.  Bagi yang lain membaca adalah men-scan cepat-cepat cuplikan teks pendek-pendek dari banyak sumber online.  Bagi teman ini suatu post di blog yang cuma tiga atau empat paragraf sudah terlalu banyak untuk diserap.  Ia cuma membacanya cepat dan sekilas.</p>
<p>Sudahkah gejala yang meresahkan ini diteliti secara ilmiah? Carr melaporkan bahwa belum ada studi atau eksperimen neurologi dan psikologi yang memberikan gambaran yang definitif bagaimana internet berpengaruh pada daya kognitif manusia.  Memang ada suatu studi yang baru-baru saja dipublikasikan tentang perilaku pengunjung dua situs research yang populer, satu situs dioperasikan oleh British Library dan satu oleh suatu konsorsium Inggris.    Para peneliti dari University College London yang melakukan studi ini menemukan bahwa pengunjung loncat dari satu situs ke situs lain dan jarang kembali ke suatu situs yang sudah pernah dikunjungi.  Mereka biasanya membaca cuma satu dua halaman dari suatu artikel atau buku sebelum melesat ke situs lain.  Meskipun mereka kadang-kadang menyimpan (<em>save</em>) artikel panjang, tidak ada bukti bahwa mereka betul-betul membaca artikel tersebut.  Para penulis studi tersebut melaporkan:</p>
<blockquote><p>Jelas bahwa pengguna yang membaca <em>online </em>tidak membaca  dalam arti tradisional; bahkan ada tanda-tanda bahwa bentuk-bentuk &#8220;membaca&#8221; yang baru sedang muncul ketika pengguna sedang &#8220;<em>power browse</em>&#8221; secara horisontal melalui judul-judul, halaman isi dan abstrak untuk mendapatkan hasil yang cepat. Bahkan mereka sepertinya sengaja menelusur <em>online</em> agar tidak perlu membaca dalam arti tradisional.</p></blockquote>
<p>Perubahan dalam cara kita membaca perlu dicermati sebab perubahan itu erat terkait dengan perubahan dalam cara berfikir, dan bahkan perubahan dalam persepsi kita tentang diri kita sendiri. Carr mengutip pendapat  Maryanne Wolf, pakar psikologi perkembangan dari Tufts University dan penulis buku <em>Proust and the Squid: The Story and Science of the Reading Brain</em>.  Wolf berkata: &#8220;We are <em>how </em>we read&#8221; dan mengutarakan alasannya mengapa ia cemas mengamati gaya membaca yang dipicu  oleh Internet.  Gaya itu mengutamakan efisiensi dan kesegeraan (<em>immediacy</em>) di atas segala-galanya.  Dan gaya macam ini melemahkan kapasitas kita untuk membaca mendalam, yaitu cara membaca yang mulai muncul ketika mesin cetak menghadirkan karya-karya prosa yang panjang dan kompleks.  Wolf berpendapat bahwa bila kita membaca online, kita cenderung cuma menjadi &#8220;<em>decoders of information</em>&#8220;. Kemampuan kita untuk menginterpretasi teks, untuk membuat hubungan-hubungan mental yang terbentuk apabila kita membaca dengan mendalam dan penuh konsentrasi tidak diaktifkan.</p>
<p>Kata Wolf, membaca bukan suatu ketrampilan naluriah.  Maksudnya: ketrampilan ini bukan sesuatu yang ada dalam pembawaan kita, ada dalam <em>gene</em> kita, seperti misalnya kemampuan berbicara. Kita harus mengajar otak kita bagaimana menerjemahkan lambang-lambang (huruf) yang kita lihat menjadi bahasa yang dapat kita mengerti.  Media dan teknologi lain yang kita pakai untuk belajar dan melatih ketrampilan membaca punya peran yang penting dalam membentuk jaringan saraf dalam otak kita.  Ada eksperimen yang menunjukkan bahwa pada pembaca bahasa ber-ideogram seperti orang Cina berkembang jaringan mental  untuk membaca yang beda dari jaringan yang terbentuk pada orang yang tulisannya menggunakan abjad. Sebab itu bisa diperkirakan bahwa jaringan saraf yang terjalin akibat penggunaan Internet akan berbeda dari yang terjalin sebagai akibat kegiatan membaca buku dan karya tercetak lain.</p>
<p><strong>The human brain and intellectual technologies<br />
</strong></p>
<p>Otak manusia sangat lentur, fleksibel, bisa dibentuk, dibentuk ulang, berkali-kali.  Pandangan lama adalah bahwa jaringan saraf otak, yang terdiri atas kurang lebih 100 milyar neuron  sudah mencapai bentuk final dan tetap saat kita menjadi dewasa.  Namun para peneliti telah temukan bahwa itu tidaklah benar. Ternyata bahwa otak orang dewasa pun sangat lentur. Sel saraf terus menerus memutuskan sambungan lama dan membentuk sambungan baru.  Otak mempunyai kemampuan untuk memrogram ulang dirinya sesuai kebutuhan, mengubah cara ia berfungsi.</p>
<p>Sebagai ilustrasi Carr mengisahkan pengalaman Friederich Nietzsche (1844-1900), sang filsuf dan ahli filologi Jerman. Pada tahun 1882 Nietzsche membeli mesin tik.  Ketika itu penglihatannya sedang mundur, dan memfokus matanya pada suatu halaman teks  membuatnya letih sekali dan  sakit kepala. Ia terpaksa mengurangi kegiatan tulis-menulisnya. Mesin tik menjadi penyelamatnya, karena setelah ia bisa mengetik 10 jari ia bisa mengetik dengan mata tertutup.  Tapi mesin tik punya pengaruh yang tak terduga pada gaya tulisnya.  Tulisan prosanya, yang memang sudah singkat padat, menjadi semakin singkat, seperti  gaya telegram. Nietzsche sendiri mengatakan bahwa memang alat tulis ikut membentuk pikiran kita.</p>
<p>Ada alat-alat tertentu yang bisa menjadi ekstensi atau perpanjangan kemampuan mental kita. Alat seperti itu, yang oleh sosiolog Daniel Bell disebut &#8220;<em>intellectual technologies</em>&#8221; bagi kita, begitu berpengaruh pada kita sehingga sifat-sifat tertentu dari alat itu bisa seakan-akan berpindah menjadi sifat kita pula. Contoh yang sangat jelas misalnya adalah jam (<em>clock</em>) mekanis yang mulai dipakai secara luas pada abad ke-14. Semua kegiatan lama kelamaan tergantung dari pembagian waktu yang terdiri atas satuan-satuan matematis. Manusia tidak lagi mengikuti dorongan-dorongan nalurinya yang memberitahu padanya kapan harus makan, bekerja, tidur, bangun.  Manusia mulai patuh pada alat mekanis.  Jam, sebagai alat pengukur dan penunjuk waktu,  menjadi acuan atau pengendali untuk semua aktivitas dan juga pikiran manusia.</p>
<p>Betapa besar pengaruh teknologi intellektual tersebut juga tercermin dalam ungkapan tertentu yang kita pakai ketika berbicara tentang diri kita sendiri.  Carr memberi contoh metafora:  ketika jam mekanis mulai digunakan, orang berbicara tentang otak yang bekerja &#8220;like clockwork&#8221;. Kini orang bilang bahwa otak bekerja seperti komputer.  Ia menambahkan bahwa menurut ilmu saraf (<em>neuroscience</em>) yang terjadi bukan sebatas perubahan metafora:  karena otak kita sangat lentur, perubahan atau adaptasi juga terjadi pada tingkat biologis.</p>
<p>Pengaruh Internet pada daya kognitif kita diperkirakan akan sangat luas. Internet, sebagai suatu sistem komputasi yang sangat dahsyat, sedang mengambil oper kebanyakan teknologi intelektual kita, satu persatu.  Ia menjadi peta dan jam kita, mesin cetak dan mesin tik, kalkulator dan telpon, radio dan TV.  Dan, ketika Internet menyerap suatu medium, medium tersebut menjadi sesuatu yang baru yang mempunyai ciri-ciri Internet.  Jadi <em>content</em> (isi) medium tersebut dipenuhi <em>hyperlink</em>, iklan yang kerlap-kerlip, dan dihiasi pernak-pernik digital lain. Tidak ada pemisah antara satu medium dengan medium lain  lagi. Ketika kita sedang asyik melihat-lihat tajuk-tajuk berita terbaru di suatu situs surat kabar,  tiba-tiba bisa muncul berita bahwa ada email baru.  Perhatian menjadi terbagi dan konsentrasi buyar.</p>
<p>Pengaruh Internet tidak berhenti ketika kita mematikan komputer.  Karena otak manusia sudah mulai terbiasa dengan media Internet yang campur baur, media tradisional harus beradaptasi agar bisa memenuhi selera baru para pembaca atau penontonnya.  Maka di program televisi ada teks berjalan di bagian bawah layar, ada iklan <em>pop-up</em>, majalah dan surat kabar memangkas panjang tulisannya, menambah rangkuman pendek-pendek, dan menebarkan potongan-potongan berita yang gampang dibaca di halaman-halamannya.  Carr menyimpulkan bahwa belum pernah ada suatu sistem komunikasi yang begitu berperan dalam kehidupan kita &#8212; atau  begitu luas pengaruhnya pada pikiran kita &#8212; seperti Internet saat ini.  Tapi, meskipun sudah ada banyak yang ditulis tentang Internet, belum  banyak yang membahas bagaimana sesungguhnya Internet memprogram ulang (<em>reprogram</em>)  kita.</p>
<p><span style="font-size:12pt;"> <strong>Taylor dan <em>The Principles of Scientific Management</em><br />
</strong></span></p>
<p>Setiap orang yang pernah belajar teori manajemen pasti tahu siapa Taylor dengan <em>scientific management-</em>nya.  Teorinya, yang dikembangkan pada tahun 1880 &#8211; 1890an, menganalisa dan mensintesa proses-proses alur kerja dengan tujuan meningkatkan produktivitas. Setiap tugas dipecah-pecah menjadi langkah-langkah kecil yang berurut.  Kemudian Taylor mencoba cara-cara  berbeda untuk melaksanakan langkah-langkah tersebut dan lalu membuat  instruksi yang sangat mendetil yang menetapkan bagaimana tiap pekerja harus mengerjakan tugasnya, langkah demi langkah.  Para pekerja tidak senang, tetapi produktivitas naik.  Sistem Taylor diadopsi oleh pemilik pabrik di seluruh Amerika dan kemudian seluruh dunia.  Untuk mencapai kecepatan maksimal, efisiensi maksimal, dan output maksimal, pemilik pabrik melakukan <em>time-and-motion studies </em>untuk   mendapatkan konfigurasi ideal.  Taylor, dalam karyanya berjudul  <em>The Principles of Scientific Management </em>(1911) menjelaskan bahwa tujuannya ialah mengidentifikasi dan mengadopsi untuk setiap pekerjaan  &#8220;<em>the one best method</em>&#8220;. Taylor yakin bahwa setelah sistemnya diterapkan pada seluruh proses kerja manual, maka akan terjadi  suatu restrukturisasi, bukan saja dari industri, tapi dari seluruh masyarakat, dan dengan demikian terciptalah suatu utopia efisiensi yang sempurna. Taylor, seperti dikutip oleh Carr, menyatakan, &#8220;In the past man has been first, in the future the system must be first.&#8221;</p>
<p>Apa hubungan Taylor dan sistemnya dengan internet?  Menurut Carr Taylorism hingga kini masih tetap sangat berpengaruh pada industri manufaktur, dan sekarang mulai merambah ke dunia intelektual atau alam pikiran kita. Internet, menurut Carr, adalah mesin yang didesain untuk pengumpulan, transmisi dan manipulasi informasi secara efisien dan automatis.  Dan  para <em>computer engineers</em>, <em>software coders</em> dan jutaan <em>programmer</em> bekerja keras untuk mendapatkan &#8220;the one best method&#8221; &#8211; atau algoritme sempurna &#8211; untuk mengerjakan setiap langkah mental dari apa yang sekarang disebut &#8220;knowledge work&#8221;.</p>
<p><span style="font-size:12pt;"><strong>Google dan Taylorism<br />
</strong></span></p>
<p>Nicholas Carr mengatakan bahwa: &#8220;<em>What Taylor did for the work of the hand, Google is doing for the work of the mind</em>&#8220;. Apa maksudnya?  Google adalah &#8220;<em>a company that&#8217;s founded around the science of measurement</em>&#8220;.  Jadi Google mempraktekkan Taylorism. Lewat mesin pencari dan situs-situs lainnya Google mengumpulkan  data perilaku pengguna internet.  Data tersebut, yang berjumlah <em>terabytes, </em>digunakan untuk melakukan ribuan eksperimen sehari, dan hasilnya dimanfaatkan untuk menyempurnakan algoritme yang mengontrol bagaimana orang menemukan informasi dan mengekstraksi makna dari informasi tersebut.  Maka dari itu Carr mengatakan bahwa apa yang diperbuat oleh Taylor untuk pekerjaan tangan (manual),  sekarang diperbuat oleh Google untuk pekerjaan otak (mental).</p>
<p><span style="font-size:12pt;"><strong>Google dan kecerdasan artificial<br />
</strong></span></p>
<p>Google menyatakan bahwa misinya adalah mengorganisasi informasi, memberi akses universal pada informasi itu, dan juga membuatnya bermanfaat. Untuk itu Google bermaksud mengembangkan mesin pencari yang sempurna.  Dan apa yang dimaksud dengan &#8220;<em>the perfect search engine</em>&#8220;?  Mesin yang menakjubkan itu adalah sesuatu yang memahami presis apa yang kita maksud, dan memberikan kita presis apa yang kita inginkan.  Di mata Google informasi adalah semacam komoditas, suatu sumber berguna yang bisa digali dan diproses dengan efisien.  Makin banyak butir informasi yang dapat kita akses, dan makin cepat kita bisa mengekstraksi intinya, makin produktiflah kita sebagai pemikir.</p>
<p>Pendiri Google, Sergei Brin dan Larry Page, kerap berbicara tentang hasrat mereka untuk menjadikan mesin pencari mereka suatu kecerdasan artifisial, suatu mesin seperti HAL yang bisa disambung langsung ke otak kita.  Berbagai ucapan lain Brin dan Page  mengungkapkan pandangan mereka tentang hubungan antara mesin pencari dan kecerdasan artifisial dan arah kegiatan penelitian dan pengembangan Google.  Misalnya, bahwa mesin pencari paling hebat adalah sesuatu yang secerdas orang &#8212; atau lebih cerdas lagi. Dan pada kesempatan lain terungkap bahwa bagi mereka pekerjaan mengembangkan penelusuran adalah suatu cara untuk mengembangkan kecerdasan artifisial.   Dan,  bila semua informasi di dunia tersambung dengan langsung ke otak kita, atau kita punya suatu otak artifisial yang lebih cerdas daripada otak kita, maka itu lebih baik bagi kita. Tahun yang lalu Page, pada suatu konvensi ilmuwan di Google, mengatakan bahwa Google betul-betul sedang berupaya membangun kecerdasan artifisial secara besar-besaran.</p>
<p>Carr merasa cemas mendengar kata-kata mereka bahwa bila otak kita diberi tambahan, atau bahkan diganti,  kecerdasan artifisial, itu lebih baik bagi kita.  Sebabnya, pernyataan seperti itu menunjukkan adanya anggapan bahwa kecerdasan adalah <em>output</em> dari suatu proses mekanis, serangkaian langkah yang dapat di-isolasi, diukur, dan dioptimalkan. Di dunia Google, dunia yang kita masuki ketika kita <em>online</em>, tidak ada tempat bagi kontemplasi.  Ambiguitas tidak dipandang sebagai sesuatu yang bisa mengantarkan kita ke wawasan yang lebih kaya, melainkan sebagai semacam kuman yang harus dibasmi.  Otak manusia cuma suatu komputer yang sudah ketinggalan jaman yang membutuhkan suatu prosesor yang lebih cepat dan suatu <em>hard drive</em> yang lebih besar.</p>
<p>Model bisnis Internet memang menghendaki bahwa otak kita harus beroperasi sebagai mesin pemroses data berkecepatan tinggi. Sebab semakin cepat kita berselancar di internet, semakin banyak <em>link</em> yang di-klik dan halaman yang dilihat, makin banyak peluang bagi Google dan perusahaan lain untuk mengumpulkan informasi tentang kita dan mencekoki kita dengan iklan.  Remah-remah data yang menjadi jejak kita sewaktu kita terbang dari satu <em>link</em> ke <em>link</em> lain sangat berguna, dan mereka sangat rajin mengumpulkannya.  Makin banyak remah-remah, makin bagus.  Maka dengan sendirinya perusahaan-perusahaan ini tidak senang dengan kebiasaan membaca dan berpikir dengan santai dan berkonsentrasi.  Perhatian kita harus dipecah-belah, karena itu baik sekali bagi kepentingan ekonomis mereka.</p>
<p><span style="font-size:12pt;"><strong>Kecemasan berlebihan?<br />
</strong></span></p>
<p>Apakah semua kecemasan mengenai dampak internet berlebihan? Carr berkata bahwa ada kecenderungan untuk mengagungkan kemajuan teknologi, dan begitu pula ada kecenderungan sebaliknya untuk merasa khawatir akan pengaruh buruk setiap kali ada alat atau mesin baru.  Contohnya antara lain kekhawatiran Socrates bahwa tulisan akan melemahkan daya ingat. Setelah orang bisa menulis mereka akan mengandalkan kata-kata tertulis sebagai pengganti pengetahuan yang tadinya ada di kepala mereka.  Maka mereka akan kurang menggunakan memori mereka dan menjadi pelupa.  Begitu pula kehadiran mesin cetak Gutenberg pada abad ke-15 disambut dengan kekhawatiran.  Buku, yang tadinya barang langka dan hanya bisa dimiliki dan dibaca oleh kelompok masyarakat yang kecil sekali, akan tersedia dalam jumlah besar.  Ini akan membuat orang kurang rajin belajar dan akan melemahkan daya pikir mereka.  Atau, bisa jadi buku dan pamflet tercetak yang murah akan mengurangi otoritas gereja, merendahkan karya para cendekiawan, menyebarkan ide-ide subversif untuk merongrong wibawa pemerintahan yang sah, atau hal-hal yang berbahaya bagi moralitas. Ternyata sebagian dari efek negatif yang dikhawatirkan memang terjadi, tetapi alat dan mesin baru tersebut juga membawa dampak baik, dan sering dampak baik ini jauh lebih besar daripada yang buruk.  Menulis dan membaca memungkinkan penyebaran informasi, memicu timbulnya ide-ide baru dan memperluas pengetahuan manusia. Begitu pula kata tercetak amat banyak manfaatnya, lebih besar dan banyak dari yang terbayangkan sebelumnya.</p>
<p>Jadi, demikian kata Carr, mungkin orang yang membaca tulisan ini yang penuh kecemasan, harus skeptis terhadap skeptisisme dia. Mungkin tuduhan pihak-pihak yang mengatakan bahwa orang yang kritis terhadap Internet adalah seperti para Luddites zaman dulu, atau seperti orang penuh nostagia, akan terbukti benar.  Luddites adalah gerakan protes dari penenun trampil industri tekstil  melawan masuknya mesin tenun mekanis berukuran lebar yang dapat dioperasikan oleh buruh murah tanpa ketrampilan khusus. Penenun trampil akan kehilangan mata pencaharian mereka, menjadi korban revolusi industri. Ini terjadi di Inggris pada dasawarsa kedua abad ke 19.  Pihak  yang menepis kritik terhadap internet sebagai berlebihan mungkin akan terbukti benar.  Sebab dari otak kita yang hiperaktif, yang dijejali data, kelak akan muncul suatu abad emas penuh temuan intelektual dan kearifan universal. Begitulah?   Mungkinkah? Carr mengingatkan bahwa Internet bukan abjad atau tulisan yang dulu kala menggeser budaya lisan, dan bukan pula mesin cetak yang menggeser tulisan tangan. Meskipun Internet bisa menggantikan mesin cetak, bukan itu saja yang bisa terjadi.  Internet menghadirkan sesuatu yang beda total.  Ia mengancam kemampuan membaca mendalam, atau  <em>deep reading.  M</em>embaca mendalam yang dirangsang oleh halaman-halaman tercetak amat bermanfaat, bukan semata-mata karena pengetahuan yang kita peroleh dari kata-kata sang pengarang, tetapi juga karena kata-kata ini memicu getaran intelektual di pikiran kita sendiri.  Maryanne Wolf berpendapat bahwa &#8220;<em>deep reading</em>&#8221; adalah sama dengan &#8220;<em>deep thinking</em>&#8220;.</p>
<p>Ketika kita kehilangan keheningan yang tercipta ketika membaca mendalam atau merenung, atau mengisinya dengan &#8220;<em>content</em>&#8220;, maka kita mengorbankan sesuatu yang penting, tidak saja dari diri kita sendiri, tetapi juga dari kebudayaan kita.  Richard Foreman, seorang penulis sandiwara yang dikutip oleh Nicholas Carr, berkata bahwa ia melihat didalam diri kita semuanya (termasuk dia sendiri) sedang terbentuk &#8220;a new kind of self&#8221;  yang berevolusi di bawah tekanan <em>information overload</em> dan teknologi yang membuat segalanya dapat diperoleh serba instan.</p>
<p>Dalam penutup artikel ini Carr kembali ke adegan film <em>2001.</em> Yang membuat<em><br />
</em>adegan ini begitu mengharukan dan sekaligus aneh, kata Carr, adalah respons emosional dari komputer terhadap pembongkaran otaknya.  Ia sedih dan putus asa ketika <em>circuit</em> demi <em>circuit</em> padam, ia minta-minta dengan memelas seperti kanak-kanak ketika mencoba membujuk para astronot untuk menghentikan pemutusan <em>circuit</em> otaknya &#8212; &#8220;<em>I can feel it.  I can feel it.  I&#8217;m afraid</em>&#8220;.  Curahan emosi dari HAL kontras sekali dengan sikap dingin tanpa emosi yang menjadi ciri tokoh manusia di film ini.  Mereka mengerjakan tugas mereka dengan sangat efisien, bisa dikatakan se-efisien  robot.  Pikiran dan tindak-tanduk mereka seperti sudah dirancang sebelumnya, seakan-akan mengikuti langkah-langkah suatu algoritma.  Di dunia dalam film <em>2001</em> manusia sudah begitu mirip mesin, sehinga tokoh yang masih paling seperti manusia ternyata si HAL, jadi sebuah mesin.  Itulah esensi ramalan suram Kubrik:  ketika kita sudah tergantung pada perantaraan komputer agar mampu memahami dunia,  maka kecerdasan kitalah yang sudah terdegradasi menjadi kecerdasan artifisial.</p>
<p style="text-align:center;margin-left:20pt;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:12pt;">- &#8211; - &#8211; - &#8211; - &#8211; - &#8211; - &#8211; - -</span></p>
<p style="text-align:left;margin-left:20pt;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:12pt;"><br />
</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pustakawan2009.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pustakawan2009.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pustakawan2009.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pustakawan2009.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pustakawan2009.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pustakawan2009.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pustakawan2009.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pustakawan2009.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pustakawan2009.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pustakawan2009.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pustakawan2009.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pustakawan2009.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pustakawan2009.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pustakawan2009.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakawan2009.wordpress.com&amp;blog=6350334&amp;post=21&amp;subd=pustakawan2009&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustakawan2009.wordpress.com/2009/02/01/is-google-making-us-stupid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">irma1411</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjadi bodoh berkat Internet? (1)</title>
		<link>http://pustakawan2009.wordpress.com/2009/02/01/menjadi-bodoh-berkat-internet-1/</link>
		<comments>http://pustakawan2009.wordpress.com/2009/02/01/menjadi-bodoh-berkat-internet-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Feb 2009 13:25:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irma1411</dc:creator>
				<category><![CDATA[Menjadi bodoh berkat Internet?]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pustakawan2009.wordpress.com/2009/02/01/menjadi-bodoh-berkat-internet-1/</guid>
		<description><![CDATA[Tahun yang lalu di majalah The Atlantic, salah satu majalah sangat bergengsi di Amerika Serikat yang terkenal karena artikel-artikelnya yang berkualitas tinggi dalam bidang politik, ekonomi,  sastra dan seni, dan perkembangan bidang budaya lain, muncul suatu tulisan yang sangat menarik perhatian dan ramai dibicarakan. &#8220;Is Google making us stupid?&#8221; Inilah judul yang terpampang dengan huruf [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakawan2009.wordpress.com&amp;blog=6350334&amp;post=15&amp;subd=pustakawan2009&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun yang lalu di majalah <em>The Atlantic</em>, salah satu majalah sangat bergengsi di Amerika Serikat yang terkenal karena artikel-artikelnya yang berkualitas tinggi dalam bidang politik, ekonomi,  sastra dan seni, dan perkembangan bidang budaya lain, muncul suatu tulisan yang sangat menarik perhatian dan ramai dibicarakan.  &#8220;Is Google making us stupid?&#8221; Inilah judul  yang terpampang dengan huruf besar di atas salah satu tulisan <a href="http://www.theatlantic.com/doc/200807/google">The Atlantic Online bulan Juli/Augustus 2008</a>.  Bisa diduga banyak orang yang tiba-tiba melihat pertanyaan ini akan tersentak dan menganggapnya pertanyaan yang ngacau.  Bagaimana mungkin Google, yang menjadi andalan kita apabila kita membutuhkan informasi tentang topik apa saja, dituduh membuat kita bodoh?  Yang bodoh, ya yang tanya!  Tapi, yang bertanya adalah Nicholas Carr, penulis tersohor yang telah menulis berbagai buku dan artikel berbobot tentang teknologi informasi, bisnis dan kebudayaan.  Ia berwawasan luas, kritis, tapi memang senang mengejutkan pembacanya dengan pandangan-pandangan yang sering kontroversial.  Kali ini Carr bikin pembaca penasaran dengan judul yang provokatif.  Sesungguhnya topik tulisannya lebih luas dari cuma Google. Dengan huruf kecil dan tidak mencolok di atas judul tercantum inti dari permasalahan yang disoroti olehnya:  <em>What the Internet is doing to our brains</em>.  Dalam tulisan ini Carr mengungkapkan kecemasannya tentang dampak internet pada penggunanya.  Menurut pengamatannya, dan pengalaman pribadinya, pengguna internet (tentu saja yang menggunakannya dengan intensif) lambat laun mulai kehilangan kemampuan membaca lama-lama, membaca teks panjang, dan kemudian bahkan mengalami perubahan pada proses berfikir. Dan perubahan itu bukan berupa peningkatan kecerdasan, tapi sebaliknya. Jadi internet berbahaya karena bisa membuat kita bodoh?</p>
<p>Saya terpesona oleh tulisan Carr di <em>The Atlantic</em>. Lalu mencari tulisan lain yang juga membahas pengaruh internet pada pikiran atau otak penggunanya.  Siapa tahu, mungkin Carr cuma mau bikin heboh, mungkin cuma dia saja yang berpandangan negatif.  Saya temukan sejumlah tulisan lain yang senada, atau bahkan lebih tajam lagi, di antaranya beberapa yang sudah dipublikasikan (jauh) sebelum tulisan Nicholas Carr muncul. Tulisan-tulisan ini sangat baik untuk disimak dan direnungkan. Begitu pula tulisan yang berbeda pendapat!</p>
<p>Saya sangat sadar betapa besar kontribusinya internet pada  banyak aspek kehidupan kita. Kita tidak bisa membayangkan lagi kehidupan tanpa internet.   Jangan kira saya anti-internet!  I LOVE THE INTERNET!!! Justru karena itulah saya bisa memahami bahaya internet seperti dikemukakan dalam tulisan Carr dan pengamat lain.  Saya termasuk orang yang bisa berselancar ria berjam-jam, melupakan segala-gala kalau sudah keasyikan menelusur, lompat dari satu link ke link lain (lalu lupa sebetulnya asal mulanya cari apa, ya?). Download ini dan itu, maka hard disk penuh dengan puluhan folder dan ratusan file, belum berbagai flash disknya (lalu gimana ingat ada di folder mana ya, tulisan bagus itu?) Dan kapan ya, mau membacanya? Mungkin reaksi anda:  Ya, biasalah, ini &#8216;kan yang namanya <em>information overload</em> ! Betul, mungkin ini masih &#8220;the least of all evils&#8221;, atau dampak buruk yang tidak seberapa buruk. Tapi bagaimana dengan gejala lain?  Seperti kehilangan kemampuan membaca lama-lama, tidak bisa berkonsentrasi selagi membaca teks panjang?  Itu juga sudah mulai muncul pada diri saya!! Inilah yang membuat saya cemas sekali, dan merupakan alasan mengapa saya ingin mengajak anda menyimak dan merenungkan tulisan Carr dan pengamat dampak negatif lain.  Jika saya, yang sangat gemar membaca, seumur hidup (berarti sudah puluhan tahun!!) melahap buku, bisa mulai terkena gejala ini, bagaimana dengan anda (yang pasti jauh lebih muda dari saya), teman, adik, anak, murid anda? Bagaimana dengan mereka yang memang tidak punya minat baca? Khususnya generasi muda, anak-anak yang belum pernah (dapat) merasakan nikmatnya membaca? Yang berlum memiliki kebiasaan membaca?</p>
<p>Post ini dan post berikutnya dalam satu kategori ini (Menjadi bodoh berkat Internet?)  akan diisi dengan artikel Carr dan beberapa tulisan lain dalam bentuk ringkasan (rangkuman, pengolahan kembali, saduran, terjemahan bebas, kemas ulang, atau mau disebut apalah).  Tentu saja, jika anda tertarik dan waktu mengizinkan,  sebaiknya anda membaca aslinya. Lebih lengkap, lebih asyik!</p>
<p>Blog ini ingin menyajikan  &#8220;<em>food for thought</em>&#8221; atau santapan (bahan) renungan bagi kalangan pustakawan.  Salah satu topik yang dekat di pikiran dan hati pustakawan adalah minat baca, kegemaran membaca.  Maka posting ini dan yang berikutnya dalam kategori ini, meskipun tidak tercermin dari judul kategori,  sebetulnya tentang membaca.  Tentang membaca dan berfikir, tentang  hubungan antara keduanya.  Tentang polemik sekitar  hakekat membaca,  bahaya yang mengancam kebiasaan membaca yang sekaligus berarti bahaya bagi kemampuan berfikir dan  kecerdasan. Apakah ini sudah jadi ancaman nyata atau cuma impian buruk segelintir tokoh konservatif ?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pustakawan2009.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pustakawan2009.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pustakawan2009.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pustakawan2009.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pustakawan2009.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pustakawan2009.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pustakawan2009.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pustakawan2009.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pustakawan2009.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pustakawan2009.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pustakawan2009.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pustakawan2009.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pustakawan2009.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pustakawan2009.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pustakawan2009.wordpress.com&amp;blog=6350334&amp;post=15&amp;subd=pustakawan2009&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pustakawan2009.wordpress.com/2009/02/01/menjadi-bodoh-berkat-internet-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">irma1411</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
