Perilaku informasi peneliti masa depan (2)

Posted 25/03/2009 by irma1411
Categories: Perilaku informasi dan Internet

Ini adalah lanjutan dari post tanggal 9 Maret 2009, berisi lanjutan laporan CIBER Information behaviour of the researcher of the future. Bagian kedua dari laporan ini membahas generasi Google dan terdiri atas enam bagian:
• Apa yang kita ketahui tentang perilaku informasi anak muda?
• Bagaimana anak muda saat ini berperilaku di perpustakaan virtual?
• Fenomena ‘social networking’: apakah penting?
• Generasi Google: mitos atau realitas?
• Apa yang kita sesungguhnya tahu tentang generasi Google?
• Dimanakah letak kesenjangan ketrampilan?

Setiap bagian sarat dengan informasi yang sangat bermanfaat. Data tertentu mengherankan, karena bertentangan dengan anggapan umum. Justru hal-hal seperti inilah yang membuat laporan ini menarik dan penting untuk dipelajari oleh semua fihak yang ingin memberikan layanan informasi yang tepat.

Read the rest of this post »

Ini baru perpustakaan!

Posted 09/03/2009 by irma1411
Categories: Selingan

Klik di sini untuk melihat perpustakaan yang dengan bangga memperlihatkan jati dirinya.

Perilaku informasi peneliti masa depan (1)

Posted 09/03/2009 by irma1411
Categories: Perilaku informasi dan Internet

Apakah anda seorang pustakawan atau profesional informasi lain yang terus menerus ingin mengembangkan jasa layanan yang cocok bagi pengguna perpustakaan anda? Jadi anda sebab itu harus bisa mengantisipasi apa kiranya kebutuhan pengguna ini? Atau lebih dari itu, harus dapat memperkirakan seperti apa sosok pengguna tersebut dan seperti apa perilaku informasinya di masa yang akan datang? Mungkin Information behaviour of the researcher of the future, suatu laporan berisi hasil-hasil suatu studi yang dilaksanakan oleh Center for Information Behaviour and the Evaluation of Research (CIBER), suatu pusat penelitian yang bernaung di bawah Department of Information Studies, University College London, bermanfaat bagi anda.

Studi ini dilaksanakan untuk mengetahui :

Apakah, sebagai akibat transisi digital dan penciptaan sumber-sumber informasi digital yang berkelimpahan, anak muda, ‘generasi Google’, mencari dan meneliti isi (content) dengan cara-cara baru, dan apakah ini mungkin akan membentuk perilaku mereka sebagi peneliti dewasa nanti?

Apakah cara-cara baru meneliti isi (content) akan terbukti berbeda dari cara para peneliti dan ilmuwan sekarang melaksanakan pekerjaan mereka?

Hasil-hasilnya akan menjadi masukan yang sangat berharga bagi semua fihak yang terlibat dalam penyediaan jasa layanan informasi. Diharapkan bahwa masukan ini akan merangsang diskusi tentang masa depan perpustakaan di era Internet. Memang membuat prediksi tentang keadaan sepuluh tahun ke depan cukup berisiko, apalagi karena dunia perpustakaan saat ini sudah dilanda kecemasan karena isu ‘disintermediation‘. Tapi, studi ini menyatakan bahwa bagaimanapun juga “… it is possible to identify some powerful trends that seem very unlikely to be reversed.” Read the rest of this post »

Anda membaca atau membaca?

Posted 24/02/2009 by irma1411
Categories: Menjadi bodoh berkat Internet?

Pecandu internet harus waspada sebab lambat laun mereka akan menjadi bodoh. Begitulah kira-kira peringatan Nicholas Carr dalam tulisan “Is Google making us stupid?” Segera setelah tulisan itu dipublikasikan banyak yang memberi reaksi, baik dalam bentuk artikel di media koran dan jurnal, maupun dalam berbagai blog. Ada yang berpendapat bahwa pertanyaan itu harus dijawab dengan “YES!!!” atau “YA!!!” yang tegas. Namun, ada pula respons yang lebih bernuansa. Maksudnya, yang tidak ekstrem setuju, tidak pula menolak bulat-bulat, jadi mencoba tidak melihatnya secara hitam putih. Salah satu di antaranya adalah tulisan Motoko Rich, “Literacy Debate: Online, R U Really Reading?” Artikel ini merupakan artikel pertama dari seri” The Future of Reading” di surat kabar The New York Times yang membahas bagaimana Internet dan pengaruh teknologi dan sosial lain sedang mengubah cara kita membaca.

Motoko Rich menulis tentang perdebatan hangat yang sedang berlangsung tentang membaca di era digital. Debat ini melibatkan pembuat kebijaksanaan bidang pendidikan (educational policy makers), pakar membaca (reading experts) di berbagai penjuru dunia, dan organisasi seperti National Council of Teachers of English dan International Reading Association. Kecemasan dipicu oleh kenyataan bahwa nilai atau score para remaja untuk tes standar untuk membaca telah menurun, atau tetap sama saja, maksudnya tidak beranjak naik. Biang keladinya? Internet. Waktu berjam-jam yang dihabiskan di Internet adalah musuh membaca. Internet mengurangi ketrampilan membaca, merusak kemampuan berkonsentrasi, menghancurkan suatu budaya bersama yang amat berharga yang hanya bisa eksis lewat kegiatan membaca buku.

Ada yang beda pendapat, yang melihat sisi positif. Internet, demikian kata mereka, telah menciptakan sejenis ketrampilan membaca yang baru, yang tidak boleh diremehkan oleh sekolah dan masyarakat, sebab bermanfaat. Setidaknya lebih bermanfaat daripada nonton televisi yang membuat kita pasif. Internet, atau lebih tepat Web, bisa mendorong seseorang untuk membaca dan menulis. Kata para pakar literacy tertentu: “… spending time on the Web, whether it is looking up something on Google or even britneyspears.org, entails some engagement with text.”

Dalam “Literacy Debate: Online, R U Really Reading?” pengalaman dan pandangan berbagai kubu dipaparkan dengan menarik. Bukan saja para pakar yang bicara, tetapi justru juga para remaja pecandu internet, antara lain Nadia Konyk (yang ditampilkan sebagai remaja tipikal), Zachary Sims (remaja yang gemar membaca buku), Hunter Gaudet (penderita dyslexia). Read the rest of this post »

“Freedom” untuk membatasi kebebasan

Posted 17/02/2009 by irma1411
Categories: Selingan

Seorang mahasiswa program S3 dari School of Information and Library Science University of North Carolina di Chapel Hill telah menciptakan suatu aplikasi yang dia beri nama “Freedom”. Fred Stutzman membuat aplikasi ini bagi mereka yang tidak mampu melawan daya tarik Internet. The Chronicle of Higher Education – The Wired Campus : Education – Technology news from around the Web menulis tentang Fred dan aplikasinya dalam berita berjudul “Computer Program Wants to Free Scholars From Computer Distractions”. Begini kisah Fred dan aplikasinya:

Fred Stutzman berpendapat bahwa para ilmuwan harus dengan sukarela membatasi penggunaan Internet. Itu memang tidak mudah, sebab seperti Fred berkata pada The Chronicle, “When there’s wireless everywhere, how do we really escape the Internet?”

Jalan keluar menurutnya, ialah untuk menyerahkan hak untuk berselancar di Web pada semacam robot yang bertindak sebagai bu guru yang mengawasi. Freedom adalah aplikasi yang bisa me-nonaktifkan network adapter komputer untuk waktu tertentu, sehingga pemilik komputer tidak bisa ber-Internet ria. Bisa sampai delapan jam lamanya, kalau itu memang dikehendaki.

Fred Stutzman menciptakan Freedom sebagai alat untuk peneliti dan penulis seperti dia sendiri, yang seperti banyak pengguna Internet, juga sudah begitu kecanduan sehingga mereka harus menjauhkan diri dari Internet agar bisa berkonsentrasi pada pekerjaan mereka. Sebagai mahasiswa tingkat doktoral ia sangat akrab dengan gejala ini. Semua orang yang harus lama-lama menulis atau meneliti lewat Internet pasti mengalaminya. Sebab sangat sulit untuk menarik garis tegas antara bekerja dan membuang-buang waktu.

Menurut Fred, kalau kita pakai alat seperti Freedom, itu bukan karena kita kurang kuat, kurang mampu mengendalikan diri. Itu hanya akibat dari cepatnya teknologi informasi telah merasuk kehidupan modern. Kita belum siap untuk mengendalikan nafsu-nafsu kita sepenuhnya. Freedom adalah cara paksa yang keras untuk membuat orang berfokus. Seperti merebut kembali kendali yang sudah dikuasai komputer.

Dalam keadaan darurat pengguna bisa melumpuhkan Freedom dengan rebooting. Tapi asumsinya ialah bahwa orang akan malas. Start lagi dan tunggu sampai komputer siap beroperasi lagi terasa repot, maka tidak jadi reboot.

Tertarik? Apa di antara anda ada yang membutuhkan kebebasan untuk membatasi kebebasan?

Aplikasi Fred adalah aplikasi shareware, jadi gratis. Tapi donasi sukarela sangat diapresiasi, karena donasi akan dipakai untuk mengembangkan versi lebih baru. Fred cerita ia sudah menerima 300 dollar sejak aplikasinya diperkenalkan setahun yang lalu. Lumayan juga. Tapi dari Comments para pembaca berita ini ternyata bahwa Fred baru bikin versi untuk Mac, belum untuk Windows. Ada juga comment dari seorang pembaca yang bilang ia tidak mengerti mengapa media seperti The Chronicle mau muat berita yang tidak penting dan kurang bermutu seperti kisah Fred dan Freedom. Hm . . . . mungkin ada juga yang bertanya-tanya mengapa dimuat di blog ini? Jawabannya: (1) Blog ini bukan media serius, ternama, dan berkualitas tinggi seperti The Chronicle; (2) Berita ini dimasukkan di kategori “Selingan” yang memang bertujuan menyajikan cemilan ringan. Yang ringan ini perlu supaya anda bisa tarik napas. Post berikut lebih bergizi, tapi sebab itu tidak bisa ditelan begitu saja seperti cemilan ini!

Fenomena bentuk F di Web

Posted 16/02/2009 by irma1411
Categories: Selingan

Kata Nana (Comment on “Is Google making us stupid?”), ” … saya sering searching informasi, bila ada yang relevan yang dibaca hanya judul dan 5 baris ke bawah selanjutnya saya simpan, ….” Gejala yang diamati Nana pada dirinya sendiri adalah variasi dari suatu gejala yang sudah menjadi begitu umum sehingga bahkan sudah diberi nama, yaitu F-shaped pattern. Kalau anda belum pernah mendeteksinya pada diri sendiri, cobalah kapan-kapan kalau berinternet amati perilaku anda sendiri selagi membaca di Web. Niscaya anda akan sadar bahwa anda sering pakai teknik membaca yang berbentuk F. Tentu saja tidak selalu. Tergantung content halaman yang sedang dilihat-lihat, dikombinasikan dengan minat atau kepentingan khusus si pembaca pada saat tertentu.

Jakob Nielsen’s Alertbox, 17 April 2006: F-Shaped Pattern For Reading Web Content melaporkan studi Nielson Norman Group yang mempelajari gerakan mata pengguna dan merekam bagaimana 232 pengguna melihat –lihat ribuan halaman Web. Eyetracking study ini dilakukan dengan menggunakan kamera dan infrared emittters. Ditemukan bahwa perilaku membaca para pengguna cukup konsisten meskipun halaman yang dilihat bermacam-macam. Pola dominan adalah pola yang mirip bentuk F: dua baris horisontal diikuti satu baris vertikal. Tiga komponennya kira-kira begini:

  1. Pengguna pertama-tama membaca dengan gerakan horisontal, biasanya di bagian isi (content) paling atas, jadi paragraf pertama, walaupun tidak selalu keseluruhannya. Ini menjadi baris horisontal F yang atas.
  2. Kemudian, mata pengguna turun sedikit ke bawah ke paragraf kedua dan membaca dengan gerakan horisontal lagi, tapi tidak begitu melebar seperti gerakan pertama. Ini menjadi baris horisontal F yang bawah.
  3. Akhirnya pengguna men-scan isi yang sebelah kiri dengan menggunakan gerakan vertikal. Ini membentuk batang atau baris vertikal dari F.
  4. Tentu saja pola scanning pengguna tidak selalu terdiri atas tiga bagian persis seperti ini. Kadang-kadang polanya lebih mirip E daripada F. Atau kadang-kadang pengguna hanya baca horisontal di satu bagian, sehingga polanya jadi sperti L terbalik (palangnya di atas). Tapi secara keseluruhan polanya biasanya seperti F, meskipun jarak antara baris atas dan bawah bisa beda-beda.

    Informasi (teks) yang berada disebelah kanan halaman web, menurut banyak pengamat perilaku membaca (reading behaviour) pengguna Web, boleh dikatakan diabaikan total. Temuan seperti ini tentu saja sangat penting bagi copywriter.

    Nah, F yaitu fast. Begitulah pengguna membaca isi halaman Web. Dalam beberapa detik mata bergerak secepat kilat melintasi kata-kata di situs web, memakai pola yang beda sekali dari yang dulu diajarkan di sekolah. Atau yang sampai kini digunakan untuk membaca “beneran”. Maksudnya, baca buku tercetak. Atau …… mungkinkah fenomena ini juga sudah menjalar ke membaca “beneran”? Jadi tidak ada membaca “beneran” lagi? Ah, mengerikan …………..

Is Google making us stupid?

Posted 01/02/2009 by irma1411
Categories: Menjadi bodoh berkat Internet?

Tags: , ,

What the Internet is doing to our brains

By Nicholas Carr

The Atlantic Online – July/August 2008

[Mohon baca dulu pengantar untuk kategori ini: Menjadi bodoh berkat Internet? (1)]

Tulisan “Is Google making us stupid?”  selain berjudul provokatif, juga mulai dengan dramatis sekali:  suatu adegan menegangkan dari film   2001:  A Space Odyssey, film fiksi sains yang sangat terkenal dari Stanley Kubrick, buatan tahun 1968. Di samping kedua astronot Dave dan Frank,  tokoh yang sangat penting dalam film itu adalah HAL, suatu superkomputer, yang memiliki kecerdasan (intelligence)  mirip kecerdasan manusia. Dialah yang mengendalikan hampir semua kegiatan di spaceship Discovery One yang menuju planet Jupiter.  Ada beberapa kejadian dalam perjalanan itu yang mencurigakan karena bisa terjadi akibat HAL tidak berfungsi dengan baik (malfunction), atau lebih mengerikan, HAL mulai bertindak sesuai keinginannya sendiri (jadi bukan seperti mesin lagi!).  Dave, yang hampir celaka karena ulah HAL,  memutuskan untuk mencabut sambungan jaringan memori yang mengendalikan otak artifisial HAL.  HAL memohon agar Dave tidak melakukannya:  “Dave, stop.  Stop, will you? Stop, Dave.  Will you stop, Dave?”  Tapi Dave dengan tenang meneruskan proses pencabutan, dan HAL mengeluh dengan sedih:  “Dave, my mind is going” …. “I can feel it.  I can feel it.”

Itulah yang terjadi pada HAL.  Ia kehilangan otaknya, kemampuan berfikirnya, dan itulah yang menurut Carr juga sedang terjadi dengan dia sendiri, dia juga merasa bahwa otaknya tidak lagi berfungsi sebagai dulu:

Saya merasakannya juga.  Selama beberapa tahun belakangan ini saya punya perasaan yang tidak enak bahwa ada seseorang, atau sesuatu, mengutak-atik otak saya, mengubah jaringan saraf, memprogram ulang memoriku.  Kemampuan berfikir saya, setahu saya, tidak sedang lenyap, tapi sedang berubah.  Saya tidak berfikir lagi seperti saya dulu berfikir.  Saya paling bisa merasakannya saat saya sedang membaca.  Dulu mudah sekali untuk tenggelam dalam keasyikan membaca buku atau artikel panjang.  Pikiran  saya hanyut dalam jalan cerita atau lika-liku suatu argumen, dan saya bisa selama berjam-jam dengan santai menjelajahi tulisan prosa yang panjang.  Itu sekarang jarang terjadi lagi.  Kini konsentrasi saya mulai buyar setelah dua atau tiga halaman.  Saya mulai gelisah, lupa jalan cerita, mulai cari-cari kesibukan lain. Saya merasa seakan-akan harus terus menerus menyeret pikiran saya, yang mau lari entah kemana, kembali ke teks bacaan.  Kegiatan membaca dengan penuh konsentrasi yang dulu merupakan sesuatu yang  bisa saya lakukan dengan begitu saja, sudah menjadi suatu perjuangan.

Read the rest of this post »


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.