Perilaku informasi peneliti masa depan (2)

Ini adalah lanjutan dari post tanggal 9 Maret 2009, berisi lanjutan laporan CIBER Information behaviour of the researcher of the future. Bagian kedua dari laporan ini membahas generasi Google dan terdiri atas enam bagian:
• Apa yang kita ketahui tentang perilaku informasi anak muda?
• Bagaimana anak muda saat ini berperilaku di perpustakaan virtual?
• Fenomena ‘social networking’: apakah penting?
• Generasi Google: mitos atau realitas?
• Apa yang kita sesungguhnya tahu tentang generasi Google?
• Dimanakah letak kesenjangan ketrampilan?

Setiap bagian sarat dengan informasi yang sangat bermanfaat. Data tertentu mengherankan, karena bertentangan dengan anggapan umum. Justru hal-hal seperti inilah yang membuat laporan ini menarik dan penting untuk dipelajari oleh semua fihak yang ingin memberikan layanan informasi yang tepat.

Generasi Google: Apa yang kita ketahui tentang perilaku informasi anak muda?
Penelitian tentang bagaimana anak-anak dan anak muda menjadi trampil dalam menggunakan internet dan sarana pencarian lain masih kurang lengkap, bersifat sepotong-potong. Tetapi ada beberapa tema yang mulai muncul:
• literasi informasi anak muda tidak bertambah baik meskipun akses ke teknologi semakin meluas. Tampaknya mereka trampil menggunakan komputer, namun sebetulnya ketrampilan ini menutupi beberapa masalah yang cukup merisaukan
• penelitian menunjukkan bahwa cepatnya anak muda menelusur menandakan bahwa cuma sedikit waktu dipakai untuk mengevaluasi informasi, baik dari segi relevansi, keakuratan, atau otoritas
• anak muda kurang memahami apa kebutuhan informasi mereka sendiri, sehingga mereka sulit mengembangkan strategi penelusuran efektif
• sebagai akibatnya, mereka lebih suka mengungkapkan kebutuhan mereka dengan menggunakan bahasa alamiah, ketimbang mencari kata kunci yang lebih efektif
• dihadapkan dengan daftar panjang hasil-hasil penelusuran (search hits), anak muda merasa kesulitan menilai relevansi materi yang ditemukan, dan sering mencetak saja berhalaman-halaman tanpa melihat dan memilah dulu

Semua hal di atas berlaku untuk penggunaan internet saat ini oleh anak muda, maupun penggunaan sistem online dan CD-ROM ketika baru saja muncul, oleh satu generasi sebelum generasi Google ini. Tidak ada bukti langsung bahwa literasi informasi anak muda kini lebih baik ataupun lebih buruk daripada dulu. Tetapi, penggunaan mesin pencari terkenal dengan gencar menimbulkan beberapa masalah lain:

• anak muda punya peta mental yang kurang matang dari hakekat internet, dan sering tidak memahami bahwa internet adalah jejaring kumpulan sumber-sumber informasi yang berasal dari penyedia (provider) yang berbeda-beda
• konsekuensinya, mesin pencari, bisa Yahoo atau Google, menjadi nama utama yang mereka asosiasikan dengan Internet
• banyak anak muda menganggap sumber-sumber informasi yang disponsori perpustakaan tidak intuitif, sulit digunakan, dan sebab itu lebih suka menggunakan Google atau Yahoo, sebab mesin pencari ini terasa lebih akrab, lebih membantu memenuhi kebutuhan

Pertanyaan yang sangat besar yang dikemukakan diatas, ialah apakah, dan sejauh mana, perilaku, sikap dan preferensi anak muda generasi Google akan tetap sama, juga ketika mereka tumbuh dan sebagian di antaranya menjadi akademisi dan ilmuwan. Pertanyaan ini tidak mungkin dijawab dengan langsung sebab tidak ada studi longitudinal yang mempelajari perilaku satu kelompok mulai dari masa anak muda hingga masa dewasa.

Generasi Google: Bagaimana anak muda saat ini berperilaku di perpustakaan virtual?
Ini merupakan suatu peringatan yang kuat bahwa kebutuhan informasi seseorang berbeda pada saat berbeda dalam kehidupannya. Studi terkontrol yang secara sistematis menjelaskan faktor usia dan perilaku pencarian informasi masih sangat langka. Oleh sebab itu ada banyak informasi keliru dan spekulasi tentang perilaku anak muda di dunia maya.

Salah satu pijakan studi ini adalah suatu analisis deep log yang membandingkan perilaku informasi dengan kisaran usia yang lebar. Semuanya menggunakan platform untuk menelusur yang sama: British Library Learning, suatu layanan ditujukan pada siswa dan guru sekolah dasar, dan Intute, suatu layanan JISC yang ditujukan pada komunitas perguruan tinggi dan sesudahnya.

Hasil-hasil terpenting dari analisis ini adalah:

• Kedua jasa layanan sangat populer, baik di Inggris maupun diluarnya, sangat banyak digunakan. Ada kesan kuat bahwa jasa layanan ini punya content yang dinilai tinggi oleh siswa dan guru mereka
• Popularitas kedua situs memberi kesan bahwa situs ini terkenal dan digemari baik di Inggris maupun di luarnya.
• Mayoritas pengunjung kedua situs berkunjung sebab diarahkan oleh mesin pencari, dan penelusuran dilakukan lebih banyak di rumah daripada di sekolah atau universitas.
• Kira-kira 40% dari pengguna mesin pencari dari sekolah menemukan British Library Learning ketika sedang mencari gambar, yang menunjukkan bahwa penelusuran tipe ini disukai
• Mereka yang sampai ke situs British Library Learning lewat link dari blog merupakan minoritas kecil dan terutama dari Amerika. Belum ada bukti bahwa jejaring sosial sudah lazim digunakan oleh situs-situs perpustakaan

Para pelajar tampak menggunakan sarana yang tidak menuntut ketrampilan tinggi: mereka puas dengan bentuk penelusuran yang sangat sederhana atau dasar. Hasil dari deep log analysis CIBER konsisten dengan apa yang ada dalam literatur perilaku informasi dan observasi atau survai lain. Contoh misalnya: studi berupa observasi menunjukkan bahwa anak muda (terutama yang laki-laki) men-scan halaman online sangat cepat, sering klik hyperlink, dan kurang membaca dengan berurut. Pengguna jarang menggunakan fasilitas penelusuran yang lebih kompleks, karena berasumsi bahwa mesin pencari ‘memahami’ pertanyaan mereka. Mereka cenderung berpindah cepat-cepat dari satu halaman ke halaman lain. Mereka kurang membaca dan mencerna informasi, dan mengalami kesulitan menilai apakah halaman yang ditemukan relevan atau tidak.

Menilai relevansi, khususnya bagi anak-anak, sulit sekali. Anak-anak cenderung hanya melihat apakah kata cariannya ada (harus presis sama) atau tidak . Ada berarti relevan, tidak ada berarti tidak relevan. Maka banyak dokumen yang sebenarnya relevan diabaikan, dan penelusuran diulang. Pencarian informasi diakhiri ketika beberapa dokumen ditemukan dan dicetak, sedangkan isi dokumen kurang diperhatikan.

Literatur juga menunjukkan bahwa banyak karakteristik sebetulnya sudah ada sebelum zaman Web, sehingga tidak bisa dikaitkan dengan Internet sebagai sesuatu yang baru total. Dalam literatur hampir tidak ditemukan pembahasan tentang pergeseran yang meliputi satu generasi secara keseluruhan. Misalnya, bahwa generasi Google secara fundamental ‘beda’ dengan generasi sebelumnya. Tentu saja ini sulit diinterpretasi sebab tidak ada studi longitudinal yang bisa mendukung pendapat seperti ini. Sebaliknya, literatur memperlihatkan bahwa ada perbedaan besar antara anak dan remaja. Anak kecil belum mengembangkan ketrampilan kognitif dan motorik untuk menjadi penelusur efektif. Sesudah usia 11 tahun tidak terlihat perbedaan besar lagi antara anak dan orang dewasa muda. Tapi penelitian CIBER memperlihatkan bahwa pencarian gambar (lewat Yahoo dan Google) sangat populer antara anak, dan mungkin inilah betul-betul suatu perbedaan dalam perilaku informasi.

Generasi Google: Fenomena ‘social networking’ – apakah penting?
Munculnya situs web sosial (social websites) mengubah sifat fundamental WWW: kita pindah dari suatu Internet yang dibangun oleh beberapa ribu pengarang ke Web yang dibangun oleh jutaan orang. Bagi pustakawan dan penerbit fenomena social networking sangat menarik karena social networking ini bagian dari suatu tren yang lebih luas: pengguna mencipta dan mempublikasikan content, dan dengan demikian membuat kabur perbedaan antara produser informasi dan konsumen informasi. Ini menjadi fenomena yang berdampak pada seluruh masyarakat.

Banyak pustakawan telah mulai bereksperimen dengan social software karena ingin mendekatkan diri pada pengguna. Tetapi mereka menghadapi suatu masalah. Meskipun perpustakaan khusus menghabiskan dana jutaan pound untuk memberikan akses langsung dari desktop pengguna ke pangkalan data berisi content elektronik yang mahal (jurnal, monograf, dsb.) pengguna pada umumnya tidak mengetahui ini. Mereka tidak tahu bahwa perpustakaanlah yang menyediakannya, atau mereka mendapatkannya (menemukannya) lewat Google, dan berasumsi content itu gratis. Perpustakaan makin lama makin terjepit: penerbit atau mesin pencari dianggap telah berjasa, sedangkan perpustakaan yang harus membayar biaya penyediaan content.

Beberapa pustakawan progresif mulai menghadirkan perpustakaan di MySpace dan Facebook dengan menciptakan profil perpustakaan. Saat ini masih terlalu awal untuk mengetahui apakah inisiatif seperti ini akan membuahkan hasil bagus atau tidak. Bahkan upaya seperti ini malahan bisa punya efek yang berlawanan dari yang diharapkan. Bisa saja pengguna muda mengganggap bahwa perpustakaan mulai memasuki wilayah mereka, dan itu menimbulkan resistensi. Pada tahun 2007 misalnya, OCLC mengadakan suatu survai untuk mengetahui apakah mahasiswa dan masyarakat umum berminat berpartisipasi dalam beberapa kegiatan social networking atau mengisi community site yang dibangun oleh perpustakaan. Respons sangat mengecewakan: kebanyakan mahasiswa menyatakan bahwa mereka tidak berminat. Meski masih terlalu awal untuk menarik kesimpulan definitif, survai ini dan survai serupa cenderung menunjukkan bahwa social software dan social networking belum, atau tidak sangat bermanfaat dalam upaya untuk lebih mendekati atau merangkul pengguna dalam lingkungan informasi yang semakin dis-intermediated, yaitu lingkungan tanpa perantara, tanpa pustakawan.

Ada banyak contoh dari eksperimen yang dilakukan perpustakaan dengan berbagai teknologi Web 2.0, misalnya memperkaya entri katalog dengan review dan rating yang dibuat pengguna. Tapi sekali lagi, masih terlalu awal untuk menilai efektivitasnya. Yang sudah jelas adalah bahwa social networking sangat penting, dan pustakawan harus giat memantau perkembangannya.

Pandangan CIBER adalah bahwa isu yang harus diwaspadai adalah perkembangan buku elektronik (e-book), bukan social networking. Perpustakaan harus terus bereksperimen, dan khususnya memantau contoh-contoh pemanfaatan social networking dalam bisnis (misalnya untuk pemasaran) dan penyebaran bahan ajar online.

Generasi Google: mitos atau realitas?
Ada banyak hal yang dikatakan tentang generasi Google di media populer yang tidak sesuai dengan bukti nyata. Dalam bagian ini team peneliti CIBER mencoba menilai pendapat-pendapat ini: mana cuma mitos, mana realitas? Diakui juga oleh team ini bahwa penilaian mereka dibuat berdasarkan bukti yang masih kurang banyak. Beberapa pendapat dikutip di bawah ini, disertai pendapat team peneliti:

Generasi Google lebih kompeten dengan teknologi.
Secara umum benar, tapi pengguna yang lebih tua mengejar ketertinggalan mereka dengan cepat. Dan kebanyakan anak muda cenderung menggunakan aplikasi yang lebih sederhana dan lebih sedikit jenis program.

Generasi Google menaruh harapan tinggi pada ICT
Mungkin benar, karena kita sekarang hidup dalam budaya web global yang didominasi oleh beberapa nama besar. Harapan ini relatif saja, tidak khas untuk anak muda, karena kita semuanya sekarang menjadi konsumen informasi.

Generasi Google lebih menyukai sistem interaktif dan tidak mau hanya menjadi konsumen informasi pasif
Secara umum benar, seperti terungkap oleh pola konsumsi media anak muda. Media pasif seperti televisi dan surat kabar kurang digemari.

Generasi Google melakukan multitasking dalam semua aspek kehidupan mereka
Masih terbuka (tidak atau belum bisa memberikan pendapat pasti), sebab tidak ada bukti konkrit. Tapi, mereka sejak kecil terekspos pada media online dan ini bisa jadi mengembangkan ketrampilan untuk melakukan beberapa kegiatan secara berbarengan (parallel processing). Pertanyaan yang lebih penting ialah apakah kemampuan memproses secara berurutan, yang perlu untuk membaca terfokus, ikut pula dikembangkan

Generasi Google terbiasa dengan entertainment dan sebab itu juga mengharapkan unsur ini ada dalam pengalaman belajar mereka di universitas.
Masih terbuka. Media informasi harus menarik. Jika tidak, maka tidak akan dilihat atau digunakan. Team agak cemas melihat besarnya minat untuk menggunakan permainan (game technologies) untuk membuat proses belajar dan kunjungan perpustakaan lebih menarik. Ketika 20 – 30 tahun yang lalu siaran berita mulai menggunakan teknik-teknik pertunjukan hiburan, pemirsa lebih tertarik, tapi penelitian menunjukkan bahwa penyerapan informasi justru terhambat.

Generasi Google lebih suka dengan informasi visual ketimbang tekstual
Benar, tetapi dengan beberapa catatan. Teks masih tetap penting. Sewaktu teknologi semakin bagus dan biaya turun, video links nanti akan menggantikan teks dalam konteks berjejaring sosial. Namun, untuk antar muka jasa perpustakaan (library interfaces) multimedia ternyata cepat kehilangan daya tariknya. Hanya menarik saat masih baru.

Generasi Google tidak sabar dan menghendaki hasil cepat, kebutuhan informasi mereka harus dipenuhi dengan segera.
Tidak benar. Tidak ada bukti nyata bahwa anak muda lebih tidak sabar dalam hal ini. Harus diingat bahwa kelompok-kelompok yang lebih tua masih ingat pengalaman-pengalaman mereka pada masa pra-digital, sedangkan generasi lebih muda tidak.

Generasi Google menganggap sesamanya (kelompok usia mereka sendiri) lebih bisa dipercaya sebagai sumber informasi daripada tokoh-tokoh yang lebih dewasa
Setelah dibanding-bandingkan, Team merasa ini suatu mitos. Penelitian untuk mengetahui sumber-sumber informasi yang disukai dan dihargai oleh anak-anak disekolah menengah menunjukkan bahwa guru, anggota keluarga, dan buku teks lebih diandalkan ketimbang Internet.

Generasi Google ingin terkoneksi dengan Web terus menerus
Team tidak yakin bahwa ini suatu karakteristik khas generasi Google. Penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa kelompok usia di atas 65 lebih lama online (per minggu empat jam) daripada kelompok 18 – 24-an. Team menduga bahwa faktor yang lebih penting daripada generasi adalah kepribadian dan latar belakang.

Generasi Google adalah generasi ‘cut-and-paste’
Ini benar, ada banyak bukti dan plagiarisme adalah masalah yang serius.

Generasi Google jadi trampil berkomputer dengan cara coba-coba dan langsung bisa
Ini suatu mitos. Anggapan populer adalah bahwa para remaja generasi Google sudah asyik main-main dengan gadget baru saat orang tua mereka masih membaca manualnya. Kenyataan justru kebalikannya.

Generasi Google lebih menyukai informasi dalam bentuk potongan-potongan yang dapat dicerna dengan mudah, ketimbang teks lengkap.
Ini mitos. Studi rekam jejak komputer menunjukkan bahwa semuanya, mulai dari mahasiswa S1 hingga profesor, ketika di perpustakaan digital, sangat cenderung berperilaku dangkal, horisontal, berpindah-pindah cepat. Semuanya tampaknya punya kebiasaan melakukan browsing cepat, melihat sepintas. Di kalangan peneliti yang lebih tua abstrak sangat populer. Masyarakat mulai cepat puas dengan yang gampang saja dan mengabaikan mutu.

Generasi Google pintar sekali menelusur
Ini mitos yang berbahaya. Memiliki literasi digital tidak berarti memiliki literasi informasi. Literatur 25 tahun terakhir tidak menampakkan perbaikan (atau kemunduran) ketrampilan mencari dan menggunakan informasi pada anak muda.

Generasi Google mengira bahwa semuanya ada di Web (dan gratis)
Belum pasti. Ada banyak cerita dan berita bahwa ini benar bagi kelompok besar anak muda, tetapi belum ada penelitian yang mendalam. Sebaliknya, ada banyak bukti bahwa anak muda tidak tahu menahu akan adanya content yang disponsori oleh perpustakaan, atau setidak-tidaknya segan memanfaatkannya. Ini merupakan masalah perpustakaan, bukan kesalahan pada anak muda.

Generasi Google tidak menghormati milik intelektual
Hanya benar sebagian. Hasil survai tertentu menunjukkan bahwa baik orang dewasa maupun anak (usia 12-15) punya kesadaran dan pemahaman yang tinggi terhadap prinsip-prinsip dasar milik intelektual, tapi anak muda merasa bahwa peraturan hak cipta tidak fair dan tidak adil. Jika respek untuk hak cipta hilang, dampaknya bagi perpustakaan dan industri informasi sangat serius.

Generasi Google: Apa yang sesungguhnya kita ketahui tentang generasi Google?
Sebenarnya, kita semuanya generasi Google sekarang. Demografi Internet dan konsumsi media mengikis habis perbedaan antar generasi yang katanya ada selama ini. Bukti-bukti nyata menunjukkan bahwa orang dari semua kelompok usia makin lama makin banyak menggunakan Internet dan Web 2.0 untuk berbagai keperluan. Mereka yang muda (bukan saja generasi Google tapi juga generasi sebelumnya, generasi Y) mungkin yang pertama-tama giat berinternet, tapi pengguna lebih tua mulai sama giatnya sekarang. Mereka ini dijuluki Silver Surfers. Maka dalam banyak hal label atau julukan Google generation menjadi kurang tepat.

Suatu survai yang dilakukan pada tahun 2007 oleh Synovate mengungkapkan bahwa hanya 27% dari remaja di Inggris bisa dikatakan mempunyai minat mendalam dan ketrampilan teknologi informasi yang menjadi ciri dari label generasi Google. Mayoritas (57%) menggunakan teknologi yang relatif rendah tingkatannya untuk keperluan komunikasi dan hiburan, dan ada pula sekelompok remaja yang tidak suka dengan teknologi dan kalau bisa tidak mau memakainya. Jadi jelas bahwa pembagian berdasarkan kelompok usia atau generasi amat sulit.
Apakah ketrampilan informasi (information skills) tradisional dari anak muda benar-benar rendah? Inipun masih kurang diketahui secara pasti, namun kita harus secepatnya mencari tahu kondisi sebenarnya, sebab pendidikan zaman sekarang semakin berciri self-directed learning.
Kesimpulan menyeluruh dari team peneliti ialah bahwa pengaruh ICT pada anak muda terlalu dibesarkan, sedangkan dampaknya pada generasi lebih tua kurang diperhatikan. Perlu diupayakan pandangan yang lebih berimbang.

Generasi Google: Di manakah letak kesenjangan ketrampilan?
Ada banyak sekali tulisan dan pernyataan tentang betapa trampilnya anak menggunakan sumber-sumber elektronik. Ada pula klaim bahwa anak muda menggunakan Internet lebih kreatif dan lebih piawai daripada guru atau orang tua mereka. Pendek kata, mereka ‘technology savvy’. Inilah persepsi populer tentang anak muda dan teknologi informasi. Tapi tidak ada bukti dalam literatur ilmiah bahwa anak muda benar-benar penelusur trampil. Berbagai studi lama misalnya, melaporkan bahwa penelusur muda sering tampak kesulitan memilih istilah carian (search terms) yang cocok. Ada banyak anak muda yang menggunakan frase atau kalimat lengkap, misalnya: “What are the three most common crimes in California?”

Dalam literatur tentang literasi informasi sering dibahas mengapa menelusur sulit. Untuk bisa memanfaatkan sarana temu kembali Internet dengan efektif, penelusur perlu memiliki suatu peta mental yang lengkap. Diperlukan pemahaman bagaimana sistem temu kembali bekerja, bagaimana informasi direpresentasikan dalam pangkalan data bibliografi atau berteks lengkap, ditambah dengan sedikit wawasan tentang dunia informasi, juga tentang bagaimana ejaan, tatabahasa, dan struktur kalimat membantu menjadikan penelusuran lebih efektif. Banyak anak (dibawah 13 tahun) dan orang dewasa yang lebih tua (46 dan di atasnya) sering tidak mampu menyusun penelusuran yang efektif dan mengevaluasi hasilnya. Dalam kasus anak, ini untuk sebagian besar terjadi karena kurangnya pengetahuan mereka tentang jenis content yang ada dalam situs tertentu, dan susahnya memahami bagaimana mesin pencari bekerja, kesulitan beralih dari bahasa alamiah (natural language) ke bahasa untuk pertanyaan (search queries), kurang mempertimbangkan sinonim dan alternatif-alternatif lain. Dalam kasus generasi lebih tua, masalah utama ialah bahwa banyak di antara mereka tidak, atau belum, bisa membayangkan bagaimana Internet bekerja.

Masalah kedua adalah masalah evaluasi informasi. Anak muda kurang mengetahui cara tepat mengevaluasi sumber informasi elektronik, atau samasekali tidak mengevaluasi. Cepatnya anak muda menelusur web menunjukkan bahwa hampir tidak ada waktu yang dipakai untuk mengevaluasi informasi, baik dari aspek relevansi, keakuratan, atau otoritas. Ada studi yang menemukan bahwa banyak remaja mengira bahwa apabila suatu situs diindeks oleh Yahoo, itu berarti situs tersebut terjamin otoritasnya.

Temuan yang paling signifikan dari studi CIBER ini adalah bahwa guru yang diwawancarai adalah guru yang information literate, namun tidak terjadi transfer sikap dan ketrampilan informasi (information skills) mereka pada siswa mereka.

Di Inggris hanya ada sedikit penelitian yang mempelajari ketrampilan informasi anak muda yang masuk perguruan tinggi atau sudah di perguruan tinggi. Hal ini menandai kurangnya dukungan strategis dari pemerintah pada program-program literasi informasi. Gambaran yang lebih lengkap tersedia dari situasi di Amerika Serikat. Tapi gambaran ini tidak menggembirakan: banyak sekali mahasiswa baru rendah sekali tingkat literasi informasinya, tapi tinggi sekali tingkat kecemasanya apabila perlu ke perpustakaan. Dan seperti sudah bisa diperkirakan, ketrampilan informasi punya korelasi positif dengan hasil tes standar untuk masuk universitas, dan nilai-nilai selama masa studi.

Ada dua pesan penting yang muncul dari penelitian akhir-akhir ini di Amerika Serikat. Jika mahasiswa yang berada di kelompok 25% teratas dan mahasiswa kelompok 25%paling bawah (dikelompokkan menurut ketrampilan literasi informasi) dibandingkan, maka ternyata bahwa kelompok 25% teratas lebih banyak terekspos pada ketrampilan perpustakaan dasar lewat orang tua, perpustakaan sekolah, perpustakaan kelas atau perpustakaan umum ketika mereka masih muda. Tampaknya suatu kesenjangan baru sedang muncul di Amerika Serikat. Mahasiswa dengan bekal ketrampilan informasi yang lebih baik memperoleh nilai yang lebih baik. Penelitian menunjukkan bahwa bagi mereka di bagian bawah spektrum ketrampilan informasi upaya perbaikan pada usia mereka berada di universitas, sudah terlambat. Mahasiswa kategori ini sudah memiliki perilaku yang sulit diubah: mereka sudah terbiasa untuk puas saja dengan Google.
Masalahnya ialah bahwa mahasiswa ini tidak sadar bahwa mereka punya problem: ada kesenjangan antara performa mereka pada tes ketrampilan informasi dengan penilaian mereka terhadap diri mereka sendiri dalam hal ketrampilan informasi. Temuan studi-studi ini menimbulkan keraguan: apakah perguruan tinggi dapat mengembangkan ketrampilan penelusuran generasi Google hingga mencapai tingkat yang sesuai dengan tuntutan pendidikan tinggi dan penelitian? Kesimpulan paling penting ialah: ketrampilan informasi harus dikembangkan pada usia formatif di sekolah dan program remedial literasi informasi pada tingkat universitas tidak akan efektif. Pertanyaan yang besar adalah: sebaiknya seperti apa pelatihan ini? Mungkin harus mengikuti arus saja, dan membantu anak menjadi konsumen informasi yang lebih efektif?

Advertisements
Explore posts in the same categories: Perilaku informasi dan Internet

One Comment on “Perilaku informasi peneliti masa depan (2)”


  1. tulisan ini membuat saya harus membaca word by word,karena menyangkut perilaku pencarian informasi saya, dan sangat ‘menyentuh’ keseharian saya.
    Terimakasih bu Irma. Tulisan ini benar-benar menggugah.

    Maaf bu, minjam istlah SBY : lanjutkan!
    =================
    Terima kasih untuk komentar anda.
    Irma 1411


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: